Anna Sophanah: Dicintai Warga Kota ‘Remaja’

Secara perlahan namun pasti, ‘wajah’ Indramayu sebagai daerah yang memiliki banyak warem (warung remang-remang, red) mulai terkikis. Kebijakan Sang Bupati, Hj Anna Sophanah, yang tegas memberangus praktik prostitusi di balik warem patut diacungi jempol. Alkisah, di awal Februari 2016, Anna pernah menangis saat melintasi kerumunan pekerja seks koresial (PSK) di sebuah malam di satu sisi Kota Indramayu. Saat itu, Anna yang berada di mobil dinasnya berusaha menyapa para PSK dengan membuka kaca mobil dan melambaikan tangan. Namun yang diterima Anna justru feedback yang tak diharapkan. Para PSK malah memperlihatkan kemolekan tubuh mereka kepadanya. Pengalaman itu sontak melecut keibuan Anna. Meski disadari warem dan PSK, sejatinya, sudah menjadi kisah usang Kota Indramayu, ia tak ingin kisah ini berlangsung lebih lama. Maka tak ada jalan lain, Anna segera memerintahkan pembongkaran warem. Terlebih lagi, warem-warem itu berdiri tanpa izin resmi di atas tanah milik negara. Anna memang layak melakukan pembongkaran itu. Apalagi Pemkab telah jauh-jauh hari mencanangkan visi dan misinya sebagai Kota REMAJA, yaitu kota yang religius, maju, mandiri dan sejahtera. Secara pribadi, Anna cukup beruntung pernah ‘berguru’ kepada sang suami, Irianto MS Syafiuddin, yang sempat menakhodai Indramayu sepanjang dua periode. Tepat sebelum Anna menjadi bupati. Selama itu pula Anna bisa belajar menjadi sosok bupati yang benar-benar bekerja untuk kesejahteraan rakyatnya. Hasilnya, perempuan kelahiran 23 Oktober 1958 ini memang tampil sebagai bupati yang dicintai rakyatnya. Ukurannya jelas. Anna dicintai karena mampu membawa Indramayu menjadi daerah yang lebih baik. Alhasil, dukungan tak hanya hanya datang dari rakyat, melainkan juga mengalir dari perangkat pemerintahan di sekelilingnya. Salah satu buktinya tampak dalam bentuk raihan opini Wajar Tanpa Pengecualian dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terhadap laporan keuangan Pemkab Indramayu. Prestasi ini merupakan wujud nyata kerja keras, kerja sama, sekaligus soliditas di bawah kepemimpinan Anna. Dan prestasi teranyar bagi Anna adalah penghargaan Satyalencana Pembangunan Koperasi dari Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah RI pada 21 Juli 2016. Anna dinilai berhasil melaksanakan pembangunan di bidang koperasi, UKM, perindustrian, dan perdagangan secara rutin dan berkesinambungan. Hingga Desember 2015, di bawah kepemimpinannya, Indramayu telah memiliki 975 koperasi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 315 merupakan koperasi aktif, dan sebanyak 146 koperasi telah rutin melakukan RAT bagi para anggotanya. Sementara itu dari 146 koperasi aktif yang telah dinyatakan sehat sebanyak 80 koperasi. Raihan Satyalencana itu, sejatinya, melengkapi deretan penghargaan yang telah dicapai Anna dan kabupaten Indramayu. Di antaranya adalah penghargaan bagi Anna sebagai Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) terbaik nasional tahun 2015 dari Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI. Hebatnya, penghargaan K3 itu diraih Anna secara hat trick atau yang ketiga kalinya. (Fath/WO) Tulisan ini dimuat juga oleh Majalah Women’s Obsession, edisi Agustus 2016.





























