Ade Komaruddin Memiliki Jejaring Politik Kuat

Ade Komaruddin Memiliki Jejaring Politik Kuat
Ia adalah politisi karier yang sudah hampir 20 tahun menjadi wakil rakyat. Ia memiliki jejaring politik yang yang kuat dan hal itu membawanya ke kursi Ketua DPR. Posisi sebagai orang nomor satu di legislatif membuatnya masuk dalam daftar salah seorang dari 71 tokoh berpengaruh 2016 versi Majalah Men’s Obsession edisi Agustus 2016. Akom, panggilan akrabnya, semula menduduki posisi Ketua Fraksi Partai Golkar (PG) DPR.  Ia dipercaya sebagai Ketua DPR pada Januari 2016, menggantikan Setya Novanto yang mengundurkan diri karena tersandung kasus “Papa Minta Saham”. Setya selanjutnya menjadi Ketua Fraksi PG DPR. Akom tak membuang-buang waktu. Ia  langsung tancap gas. Tiga fungsi legislatif, yakni pengawasan, penganggaran dan legislasi, digenjot begitu menduduki kursi ketua DPR. Pengawasan dilakukan dengan memilih cara-cara produktif. Bukan mencari-cari kesalahan yang ujungnya membuat gaduh. Sebab, hubungan legislatif dengan eksekutif adalah setara. Pengawasan haruslah mendorong kinerja eksekutif lebih baik. Penganggaran juga didorong untuk sebesar-besarnya terarah bagi kepentingan rakyat. Akom mengatakan, setiap rupiah anggaran negara yang ada dalam APBN haruslah bermanfaat untuk menyejahterakan rakyat. Di internal DPR Akom melalui tangan pimpinan fraksi juga mulai 'menertibkan' anggota. Baik dalam hal kedisiplinan mengikuti rapat-rapat maupun aktivitas lainnnya. Perjalanan dinas ke luar negeri diefektifkan dan diefisienkan. Menurutnya, tanpa peran serta para anggota menjalankan tugas kedewanan secara disiplin, maka rasanya target tersebut hanya akan berada diatas kertas saja. Ia berobsesi lembaga yang dipimpinnya tidak akan lagi mengulangi kinerja pada periode 2015 yang hanya bisa meloloskan tiga Rancangan Undang-Undang (RUU). Pada Januari 2016 rapat paripurna menyetujui 40 RUU untuk diselesaikan menjadi UU tahun ini. Akom bertekad DPR menyelesaikan 30-37 dari 40 RUU tersebut menjadi UU. Selesai atau tidaknya target UU sebanyak itu bukan hanya di DPR. Sebab ada peran eksekutif dalam pembahasan RUU. Akom berharap semua anggota DPR bisa bekerja sama bersama memenuhi target tersebut. Ia menegaskan tak ada lagi Koalisi Indonesia Hebat (KIH) atau Koalisi Merah Putih (KMP). Semuanya harus selalu duduk bersama menyelesaikan masalah-masalah yang muncul. Seperti diketahui KIH adalah koalisi parpol yang mendukung Joko Widodo (Jokowi) – Jusuf Kalla (JK) dalam Pilpres 2014, yakni PDI-P, NasDem, PKB, dan Hanura. Sedangkan KMP yang terdiri dari Gerindra, PAN, PKS, PPP, dan Golkar pendukung duet Prabowo Subianto – Hatta Radjasa dalam Pilpres itu. Salah satu obsesi kebanyakan politisi adalah menjadi ketua umum (ketum) parpol. Demikian pula dengan Akom. Ia maju sebagai kandidat ketum Partai Golkar dalam Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) di Bali Nusa Dua Convention Center, Nusa Dua, Bali, tanggal 14-16 Mei 2016. Akom mendapat dukungan dari keluarga Cendana, sebutan populer untuk keluarga mantan Presiden Soeharto yang tinggal di Jl. Cendana, Jakarta Pusat. Dua anak Soeharto, yakni Titiek Soeharto dan Tommy Soeharto, menjadi anggota tim sukses Akom. Keluarga Cendana berharap Akom terpilih menjadi Ketum Partai Golkar dan dapat mengembalikan kejayaan partai berlambang pohon beringin tersebut seperti saat dipimpin Soeharto. Namun, fakta berbicara lain. Ia kalah melawan Setya Novanto. Berbagai kalangan memprediksi pasca kekalahannya di Munaslub Golkar itu Akom bakal digusur dari jabatannya sebagai Ketua DPR.  Tetapi, Akom mematahkan ramalan itu. Jabatannya tetap aman. Bukan hanya itu. Akom juga diberi jabatan sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina DPP Partai Golkar periode 2016 – 2019. Hal ini membuktikan kepiawaian politiknya. Lelaki kelahiran Purwakarta, Jawa Barat, 20 Mei 1965 ini adalah alumni Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. Ia sejak muda berkiprah di Golkar. Pada Pemilu 1977 Akom sudah terpilih menjadi anggota DPR. Ia kemudian terpilih lagi sebagai wakil rakyat pada Pemilu 1999, Pemilu 2004, Pemilu 2009, dan Pemilu 2014. Pada tahun 2010 Akom maju dalam bursa pemilihan ketum sentra Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI), salah satu organisasi pendiri Golkar. Dan secara mengejutkan Akom terpilih sebagai Ketum SOKSI periode 2010 – 2015. Akom memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, dan hal ini dibuktikannya saat dipercaya memimpin SOKSI lagi untuk masa bakti 2015 – 2020. (@arif_rhakim)