Kudeta Gulen, Suami Istri Asal Indonesia Kehilangan Pekerjaan

Kudeta Gulen, Suami Istri Asal Indonesia Kehilangan Pekerjaan
Semarang, Obsessionnews.com - Polemik politik di Turki terkait tudingan Gulen kudeta Presiden Turki Erdogan, membuat sepasang pengantin muda asal Indonesia batal menikmati bulan madu di Turki. Tak hanya, batal berbulan madu, pasangan ini kehilangan kesempatan bermukim dan pekerjaan juga. Adalah Yusuf Imam, seorang pengajar lulusan SMA Semesta Bilingual Boarding School Semarang. Ia sebelumnya pada tahun lalu mendapat lowongan pekerjaan sebagai guru bahasa Inggris di sekolah Fatih Koleji yang terletak di kota Zonguldak, Turki. "Karena di Turki sana butuh guru bahasa inggris. Setelah diskusi sama orang tua akhirnya diperbolehkan. Saya kesana itu bulan Oktober 2015," ujarnya kepada obsessionnews.com, Jumat (15/8/ Selama beberapa bulan, ia pun sempat merasakan kehangatan mengajar di sekolah tersebut. Bersama murid-muridnya, ia bercengkrama dan memberikan ilmu yang ia miliki dengan semaksimal mungkin. Terlintas di benak membawa calon istri, Aldila Nimas Savitri untuk membina rumah tangga kecil di Turki. "Setelah di sana, pada awalnya semuanya lancar juga ramah," kata dia. Namun mimpi calon keluarga kecil itu pun kandas. Isu Gulen sebagai teroris mencuat di Turki. Sialnya, sekolah tempat ia mengajar juga kebetulan jadi salah satu institusi yang dituduh pemerintah Turki berafiliasi dengan Gulen. Padahal, selama ini Yusuf merasa sekolahnya hanya memberi pelajaran seperti biasa, tanpa embel-embel terorisme. "Pengajian biasa. Ngajar juga biasa. Bahkan saking kuatnya soal Gulen, dulu saya disarankan tidak boleh ngajak shalat murid, karena bila muridnya tidak suka bisa masuk penjara," beber Yusuf. "Saya sempat bingung nanti waktu sudah menikah, gimana hidupnya di Turki," sambungnya. Yang dikhawatirkan terjadi. Sesaat sebelum konflik Turki meletus, ia pulang ke Indonesia untuk melangsungkan pernikahan. Dan tepat ketika hendak kembali lagi ke Turki, kudeta terjadi. Sekolahnya ditutup, karena dituduh menyebar paham "terorisme" versi Erdogan. "Ada tiga WNI yang jadi pengajar di sekolah saya. Semuanya keluar. Belum lagi pengajar-pengajar lain yang sampai sekarang belum punya pekerjaan," tuturnya pelan. Dirinya pun demikian. Ia sempat kebingungan karena tepat saat menikah kehilangan pekerjaan sebagai guru. Beruntung, salah satu mentornya di SMA Semesta kemudian memberitahu lowongan pekerjaan sebagai pengajar di Jakarta. "Alhamdulillah, Abi kasih lowongan di SMA Kharisma Bangsa. Sampai sekarang saya masih disana," terang Yusuf. Ia lalu memboyong sang istri untuk memulai hidup baru di Ibukota. Meski begitu, negara Turki tetap memberinya kenangan manis, sepanjang ia menjadi pemberi ilmu, bagi generasi muda disana. "Saya tidak kapok. Turki tetap ada tersimpan di hati saya," pungkasnya. (ihy)