Hikam: Mendikbud Sembrono Lontarkan ‘Full Day School’

Jakarta, Obsessionnews.com - Pengamat politik Muhammad AS Hikam berpendapat, membuat kebijakan publik yang berimplikasi strategis seperti pendidikan nasional, tidak bisa dilakukan dengan sekadar melontarkan gagasan "setengah matang" ke ruang publik dan berharap akan mendapat dukungan serta bisa langsung dilaksanakan. Pembuat kebijakan publik, katanya, jika menginginkan gagasan dan produknya sukses, setidak-tidaknya harus memahami ia tidak bisa sekadar melontarkan keinginannya seberapa baik pun secara semena-mena. Menurutnya, munculnya respons negatif yang meluas terhadap gagasan kebijakan full day school (sekolah sehari penuh) yang dibuat oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendi, tidak hanya karena aspek substansi yang masih bisa diperdebatkan. Tetapi juga karena proses sosialisasi awalnya yang keliru. “Muncul dan berkembangnya gagasan tersebut terkesan sangat tergesa-gesa, sehingga rentan terhadap distorsi informasi,” kata mantan Menteri Riset dan Teknologi ini seperti dikutip Obsessionnews.com dari tulisannya di blog The Hikam Forum, Rabu (10/9/2016). Akibatnya, kata Hikam, diskusi publik mengenai gagasan Muhadjir hanyalah sekadar kegaduhan, dan bahkan sensasionalisme. Hal ini tidak perlu terjadi seandainya Muhadjir menyampaikan gagasannya secara gradual dan dalam lingkaran yang terbatas, khususnya di kalangan para pakar pendidikan dan stake holders pendidikan yang memiliki pengaruh dalam masyarakat dan pemerintah. Hikam menilai akibat dari kesembronoan dalam sosialisasi awal ini, gagasan yang bisa saja bernilai positif dari Muhadjir malah berubah menjadi bahan kontroversi yang merugikan dirinya dan pemerintah. Apalagi mengingat Muhadjir adalah menteri yang baru dilantik sebagai hasil reshuffle pada 27 Juli lalu, menggantikan Anies Baswedan yang nama dan reputasinya sangat baik. “Akan sulit untuk menghindari spekulasi dan opini yang membandingkan keduanya. Padahal Muhadjir masih terlalu singkat untuk bisa diketahui dan dinilai kinerjanya!” ujar dosen Universitas Presiden, Bekasi, Jawa Barat, ini. Sangatlah disayangkan jika kemudian kebijakan full day school, yang mungkin saja punya landasan pemikiran yang bagus dan dampak positif bagi bangsa, malah menjadi guyonan Fool's day school alias sekolah hari bo'ongan. “Semoga Pak Mendikbud tidak sedang membuat guyonan macam fool's day school saja,” kata Hikam. Seperti diketahui Muhadjir menyampaikan ide full day school itu kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), Senin (8/8). Program itu, katanya, bisa menerjemahkan lebih lanjut dari program nawacita Jokowi-JK, di mana pendidikan dasar SD dan SMP itu pendidikan karakter lebih banyak dibanding knowledge basenya. Guru diberikan banyak waktu untuk mendidik dan menanamkan karakter nawacita kepada murid-muridnya. (@arif_rhakim)Baca Juga:Mendapat Penolakan, Rencana Full Day School Terancam Gagal DilaksanakanNetizen Tuding Mendikbud Langgar HAM Terkait Full Day SchoolKomisi X DPR: Sekolah Full Sehari Perlu Kajian Mendalam





























