Curug Lawe, Surga Tersembunyi yang Telah Berubah

Curug Lawe, Surga Tersembunyi yang Telah Berubah
Sebuah air terjun penuh pesona, mitos dan keindahan tiada tara bernama Curug Lawe telah merubah wajah setelah sekian lama. Dari sebelumnya yang hanya destinasi wisata tak dikenal, Curug Lawe kini menjadi salah satu tujuan “mainstream” namun selalu menarik untuk dikunjungi. Semarang, Obsessionnews – Keberadaan Curug Lawe sejatinya sudah diketahui masyarakat lokal sejak lama. Namun, hanya sedikit orang yang pernah menuju ke air terjun ini. Selain karena akses yang cukup sulit, di masa lalu fasilitas di sekitar Curuh Lawe dapat dibilang sangat sederhana. “Ya kalau dulu sih mas baru warga sekitar yang kesini. Paling ada beberapa pengunjung dari Kota (Semarang) yang datang. Tapi jumlahnya masih sedikit. Fasilitas kalau dulu ada toilet sama mushola saja,” kata Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan Bela Pesona, Muhajirin kepada obsessionnews.com, Selasa (2/8/2016). Selama puluhan tahun, eksistensi Curug Lawe perlahan mulai dikenal. Beberapa pengunjung luar berulang kali terpesona dengan keindahan Curug Lawe. Mereka yang sempat berkunjung lalu membuat testimoni melalui jejaring sosial mengenai air terjun ini. “Misal backpacker luar kota. Mereka punya tau Curug Lawe dari teman di Semarang, kemudian kesini terus bikin catatan perjalanan di blog,” ujarnya. Hingga kemudian pada tahun 2008 ketenaran Curug Lawe mulai meluas. Pengunjung mulai berdatangan karena penasaran ingin melihat “kecantikan” Curug Lawe. Memang, air terjun yang satu ini sangat terkenal dengan bentuknya yang seperti ember dan memiliki aliran air kecil seperti jaring di sekeliling. Akan tetapi, bertambahnya pengunjung tidak dibarengi pengelolaan yang memadai. Curug Lawe sempat mengalami masa suram, dimana banyak sampah yang dibuang oknum wisatawan. Akibatnya, tumpukan sampah membuat keindahan Curug Lawe menjadi tercemar. Kebanyakan botol plastik sisa minum dibuang sembarangan di parit-parit menuju lokasi curug.
  1. Curug Lawe
Curug Lawe pada saat itu masih berupa wisata alami yang seakan belum terjamah. Jalan setapak yang jadi akses satu-satunya menuju curug masih berupa jalanan beton rusak. Ditambah jembatan-jembatan kecil untuk menyebrang sungai masih dibuat ala kadanya. “Lalu kami warga sekitar yang tergabung dalam LMDH bekerja sama dengan Perhutani Kedu Utara selaku pemilik lahan Curug Lawe mencoba mengelola curug,” jelasnya. Sedikit demi sedikit, warga lalu memperbaiki Curug Lawe. Mulai dari akses jalan, tempat parkir, sampai warung-warung yang tersedia di sepanjang jalan dirubah satu persatu. Tentunya bukan hal mudah memperbaiki jalan setapak mengingat sebelah kiri jalan adalah lembah yang curam. Belum lagi proses pengecatan Jembatan Romantis yang jadi ikon Curug Lawe, yang lokasinya berada diatas jurang. Dan hasilnya pun terlihat. Kini, wajah Curug Lawe telah berubah. Akses jalan setapak dan jembatan kecil sudah dipugar seutuhnya. Bahkan sekarang banyak spanduk-spanduk berisi tulisan menarik seperti “Selamatkan Generasi Muda dari Kekurangan Piknik” berseliweran mengundang tawa. “Itu memang ide dari kami mas. Kalau tagline kami CLBK alias Curug Lawe Benowo Kalisidi plesetan Cinta Lama Bersemi Kembali,” papar dia sambil tertawa. Saat ini, banyak terdapat pos-pos yang menyediakan makanan kecil jika pengunjung lelah. Maklum, jarak antara pos awal sampai di curug hampir mencapai dua kilometer. Sepanjang jalan juga banyak kantung sampah agar wisatawan tidak bingung membuang sampah mereka. Yang menarik, di salah satu pos terdapat pohon yang terbuat dari sandal jepit milik pengunjung. Sandal-sandal itu adalah sandal bekas yang rusak selama dipakai menjajal trek Curug Lawe. Adapun tiket masuk ke Curug Lawe adalah Rp 4.000 untuk sepeda motor termasuk biaya parkir. Apresiasi tinggi patut disematkan kepada pengelola karena bisa merubah wajah Curug Lawe menjadi lebih baik. Ke depan, pihak pengelola akan menambah wahana camping ground untuk memfasilitasi pengunjung yang ingin mendirikan tenda. (ihy)