Prof Juliasih: Otobiografi Menarik Bagi Penulis Perempuan

Prof Juliasih: Otobiografi Menarik Bagi Penulis Perempuan
Yogyakarta, Obsessionnews.com – Otobiografi menarik bagi penulis perempuan, karena menawarkan ruang sangat luas untuk menyampaikan pemikiran-pemikiran yang berkaitan dengan berbagai macam kajian perempuan, termasuk di dalamnya pendekatan feminis. Sebaliknya, pendekatan feminis memperkaya kajian otobiografi dan memperluas definisi pembagian genre dan pengembangan teks-teks yang di dalamnya menyerap banyak ruang lingkup kehidupan, khususnya perempuan. Hal itu diungkapkan Prof Juliasih Kusharyanto yang dikukuhkan sebagai Guru Besar pada Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Selasa (19/7/2016). Juliasih yang banyak melakukan penelitian tentang karya penulis perempuan Amerika dikukuhkan sebagai Guru Besar di ruang Balai Senat setelah menyampaikan pidato pengukuhan Guru Besar yang berjudul Autobiografi:Performativitas Intelektual Perempuan. Dia mengatakan, dalam otobiografi dapat dirunut bagaiman para penulis perempuan memanfaatkan imajinasinya dalam menciptakan dan membangun dirinya. Mereka menyadari bahwa kedirian selalu berubah dan selalu berada dalam proses penciptaan atau pencitraan. Oleh karena itu ototobiografi tidak hanya sebagai wadah pengembangan rasa percaya diri, tetapi juga performativitas intelektualitas. “Karena dalam otobiografi para penulis perempuan tidak hanya berargumentasi dan merefleksikan persepsinya tentang kehidupan, tetapi juga menawarkan beberapa alternatif bentuk pemikiran lain melalui tindakan imajinatif yang berkaitan dengan rhetorical acts,” kata Ketua Prodi Pengkajian Amerika, FIB UGM ini seperti dikutip dari siaran pers Humas UGM, Rabu (20/7/2016). Menurutnya, para penulis otobiografi perempuan memiliki kemampuan membuat pernyataan, menjustifikasi,  menyampaikan pendapat, meyakinkan dan mempertanyakan. Kemampuan inteketualiltas yang ditunjukkan lewat karya otobiografi tersebut merupakan performativitas intelektual yang menekankan kekhasan identitas kemandirian dan kebebasan. “Semua ini merupakan tindakan olah pikir,” terangnya. Namun, bagaimana perkembangan autobiografi sampai saat ini? Menurut Juliasih dalam dua puluh tahun terakhir telah dimulai pengintegrasian narasi kehidupan penulis abad ke -19 masuk ke sastra kanon Amerika. Tetapi, pada abad ke-20 ini narasi kehidupan menjadi bentuk dominan. Dia mencontohkan dalam masyarakat transnasional seperti sekarang ini, identitas global sering berhubungan dengan mobilitas pekerjaan yang diperoleh dari autobiografi berupa buku harian pribadi, sketsa, atau catatan perjalanan. Meski demikian, otobiografi bukanlah fiktif atau nonfiktif, bahkan bukan campuran dari keduanya. Pasalnya, banyak praktisi kontemporer yang mencampurkan keduanya menjadi hybrid dengan menawarkan bentuk narasi kehidupan. Dengan demikian, otobiografi tidak lagi hanya sebagai wadah pendefinisian diri atau ekpresi diri justru sebaliknya sebagai sarana untuk mengubah diri menjadi seseorang,” pungkasnya. (arh, @arif_rhakim)