Yang Bilang Gas Masela Tak Bisa untuk Petrokimia, Buta Trisakti!

Jakarta, Obsessionnews.com - Beberapa hari yang lalu, melalui suatu media online, juru bicara Inpex Indonesia Usman Slamet menyatakan, bahwa gas alam dari Blok Masela tidak dapat digunakan untuk bahan baku petrokimia. Alasannya adalah: jenis gas dari Blok Masela adalah lean gas yang hanya berunsur C-1, C-1, dan C-3, yang hanya dapat digunakan untuk membuat Urea dan Amoniak. Selain itu, Usman Slamet juga menyatakan, bahwa, jika gas tersebut untuk industri petrokimia malah akan menurunkan pendapatan dibandingkan dijual dalam bentuk gas alam cair (LNG). Terhadap pendapat dari juru bicara Inpex Indonesia tersebut, Tenaga Ahli bidang Kebijakan Publik Kemenko Maritim dan Sumber Daya, I Gede Sandra balik membalas, bahwa siapapun yang berbicara seperti itu sebenarnya tidak paham visi Trisakti Bung Karno. “Sakti Kedua, yaitu Berdikari dalam Perekonomian mensyaratkan bahwa dengan kekayaan sumber daya alam yang kita miliki, kita dapat memenuhi sendiri kebutuhan masyarakat kita. Indonesia puluhan tahun, sejak Orde Baru hingga Reformasi, menjual gas alam dalam bentuk cair (LNG) ke Jepang dan negara-negara lain, kemudian mengimpor produk petrokimia (dari gas alam Indonesia) yang dihasilkan negara-negara tersebut. Kita menyesali paradigma lama tersebut, namun tidak ingin mengulanginya. Kini bersama Pemerintahan Jokowi kita jelang Paradigma Baru dalam pengelolaan kekayaan alam,” paparnya, Sabtu (16/7/2016). Gede yang juga merupakan sarjana Teknik Kimia dari Institut Teknologi Bandung (ITB) ini juga menyatakan, bahwa tidak benar lean gas dari Blok Masela tidak dapat dijadikan produk petrokimia. Berdasarkan metode Haldor-Topsoe (yang sudah proven di industri petrokomia berbagai negara, seperti: Norwegia, Saudi Arabia, Qatar, Afrika Selatan, dan Nigeria), lean gas dari Masela dapat dikonversi menjadi methanol. Turunan dari methanol adalah produk-produk petrokimia yang bernilai tinggi, seperti: etilen, propilen, polietilen, polipropilen, MEA, DEA, garam cholin, etilen glikol, PVC, dan polimer akrilat. Ia menegaskan, berdasarkan data RIPIN Kementerian Perindustrian yang termuat di PP No. 14 tahun 2015, pada tahun 2015 saja Indonesia masih harus mengimpor 456 ribu ton methanol, 869 ribu etilen, 300 ribu propilen, 860 ribu polietilen, 925 ribu polipropilen, dan 106 ribu PVC. "Sedangkan, dengan asumsi tidak ada tampahan pembangunan industri petrokimia di Indonesia hingga tahun 2020, proyeksi impor produk petrokimia pada tahun 2020 akan membengkak menjadi 1 juta ton methanol (naik lebih dari 2 x lipat), 3,2 juta ton etilen (lebih dari 3 x lipat), 2,2 juta ton propilen (lebih dari 7 x lipat), 1,7 juta ton polietilen (2 x lipat), 1, 8 juta ton polipropilen (hampir 2 x lipat), dan 220 ribu ton PVC (2 x lipat). Berdasarkan data-data ini, terlihat perekonomian Indonesia ke depan akan jauh dari visi Berdikari bila kita tidak mulai membangun industri petrokimia dari gas Masela sekarang,” sambung Gede. Gede juga mengungkapkan, bahwa nilai produk petrokimia jelas sekali lebih tinggi dari gas alam cair (LNG). Berdasarkan data yang diolah dari trademap.org dan Alibaba.com, harga gas alam adalah 356 US$/ton dan harga LNG adalah 449 US$/ton, terdapat nilai tambah (added value) sebesar 93 US$/ton bila gas alam hanya dikonversi ke LNG. Harga methanol disebutkan sebesar 455 US$, jadi nilai tambah konversi gas ke methanol hanya sedikit lebih besar dari LNG, yaitu sebesar 99 US$/ton. Namun untuk produk seperti: etilen yang dihargai 1.167 US$/ton, nilai tambahnya meroket menjadi 813 US$/ton (9 x lipat nilai tambah LNG);propilen yang dihargai 1.278 US$/ton, nilai tambahnya meroket menjadi 922 US$/ton (hampir 10 x lipat nilai tambah LNG);polietilen yang dihargai 1.312 US$/ton, nilai tambahnya meroket menjadi 956 US$/ton (10 x lipat nilai tambah LNG);polipropilen yang dihargai 1.254 US$/ton, nilai tambahnya meroket menjadi 898 US$/ton (hampir 10 x lipat nilai tambah LNG);MEA yang dihargai 3000 US$/ton, nilai tambahnya meroket menjadi 2.644 US$/ton (hampir 30 x lipat nilai tambah LNG). Kemudian, DEA yang dihargai 1.308 US$/ton, nilai tambahnya meroket menjadi 952 US$/ton (10 x lipat nilai tambah LNG);garam cholin yang dihargai 1.521 US$/ton, nilai tambahnya meroket menjadi 1.165 US$/ton (lebih dari 12 x lipat nilai tambah LNG);etilen glikol yang dihargai 689 US$/ton, nilai tambahnya menjadi 333 US$/ton (hampir 4 x lipat nilai tambah LNG);PVC yang dihargai 789 US$/ton, nilai tambahnya menjadi 433 US$/ton (hampir 5 x lipat nilai tambah LNG);dan polimer akrilat yang dihargai 1.493 US$/ton, nilai tambahnya menjadi 1.138 US$/ton (lebih dari 12 x lipat nilai tambah LNG). “Dalam hitungan kami, bila di Masela dibangun industri petrokimia akan dapat menyerap tenaga kerja langsung sebanyak 74 ribu jiwa dan tenaga kerja tidak langsung lebih dari 350 ribu jiwa. Kami juga cukup yakin, bila Inpex tidak berminat membantu mengembangkan industri petrokimia di Masela, akan banyak investor lain yang berminat. Jadi tidak usah khawatir.”, tutup Gede. (Red)





























