Khofifah Indar Parawansa Melayani Sepenuh Hati

Khofifah Indar Parawansa Melayani Sepenuh Hati

Dengan aksen khasnya, Khofifah Indar Parawansa fasih mengisahkan tugas yang diamanahkan kepadanya sebagai Menteri Sosial dalam Kabinet Kerja 2014-2019. Wanita kelahiran 19 Mei 1965 ini selalu mengutamakan pelayanan, pelayanan, dan pelayanan sebagai landasan tugas dan visi kementrian yang dipimpinnya.

“Menurut saya, ada tugas yang berbeda di Kementerian Sosial dengan kementeriaan lainnya. Saya menyamakan dengan tugas TNI, Polri ataupun dokter yang tidak kenal waktu, begitu pula dengan Kementerian Sosial. Misalnya, beberapa hari lalu ada banjir di Padang. Saya langsung berkoordinasi dengan tim untuk pengecekan dan pengiriman bantuan. Begitu pula dengan bencana banjir dan longsor di Jawa Tengah yang saya terima kabarnya ketika Sahur. Saya dan tim selalu bersiaga dan siap melayani warga masyarakat dan bangsa ini. Karena itulah pondasi kerja kami adalah melayani,” ujar Khofifah kepada  Women's Obsession beberapa waktu lalu.

Sebagai pemimpin Khofifah selalu merangkul timnya untuk bergerak dalam jiwa visi dan etos kerja yang penuh perjuangan. Dia menilai pekerjaan bagian dari ibadah, bukan sesuatu yang dihitung-hitung berdasarkan gaji ataupun masa dan jam kerja. Pemikiran tersebut dinilai akan memicu sikap kontraproduktif dan menghambat kreativitas setiap anggota timnya.

“Manusiawi sekali, ketika unit yang selalu bersiaga merasa begitu sibuk tanpa kenal waktu, sementara unit yang lain tidak terlalu sibuk. Saya bilang kepada mereka, malaikat itu tidak pernah salah mencatat amalan baik dan tidak baik. Jadi, kita jangan pernah membandingkan gaji dengan tugas. Jangan merasa saya kok lebih sibuk dan lelah, sementara yang lain biasa-biasa aja di kantor. Di situlah sisi spritualitas harus disambungkan ketika bekerja. Tidak semua mendapatkan privileged tersebut,” tutur ibu empat anak ini dengan serius.

Berkaca dari tugas dan prioritas unggulan Kementerian Sosial sebagai pemutus rantai kemiskinan. Khofifah mengimbau dinas sosial itu single function. “Berdasarkan UU 23 tahun 2014 tentang pemerintah daerah bahwa layanan sosial itu termasuk enam layanan wajib. Sudah seyogyanya daerah menyiapkan infrastruktur lebih banyak lagi. Namun, berapa banyak bupati yang memberikan perhatian di situ. Misalnya, berapa jumlah lansia, orang yang dipasung, penyandang disabilitas yang tinggal sendiri, dan lain sebagainya. Saya pernah mengevakuasi dua anak yang tinggal di kandang kambing di daerah Sulawesi Barat. Sementara ayahnya menikah lagi dan ibunya bekerja di luar negeri. Sungguh memilukan. Kami pun terbantu oleh teman-teman media yang memberitahukan kondisi anak tersebut. Alangkah senangnya, bila dinas sosial tingkat dua di daerah memaksimalkan fungsinya, sehingga upaya kami pun lebih cepat dan maksimal,” sambung kolektor batik Madura dan kain bordiran asal Bukit Tinggi ini.

Seperti yang kita ketahui bersama, selain lingkup persoalan bantuan korban bencana alam, Kemsos juga membawahi layanan korban rehabilitasi Napza, asistensi lanjut usia (aslut), trauma healing, consuling, dan shelter bagi penyandang disabilitas, korban Napza, anak maupun wanita korban kekerasan seksual, dan korban pedofilia. Menyikapi keragaman tugas tersebut, Khofifah terinspirasi pesan salah satu gurunya, yaitu mendiang Gus Dur. “Saya teringat kalimat Gus Dur. Orang hidup itu harus berani berjuang. Be yourself dan do the best dalam melakukan apa pun. Saya pegang teguh kalimat itu dalam situasi apapun, termasuk dalam tekanan. Pribadi saya itu ibarat martabak. Tahan banting. Semakin “dibanting-banting” kian melebar dan enak rasanya,” aku wanita yang selalu menjaga pola makan dan selalu berpikir positif sebagai resep awet muda dirinya.

Selain bersinergi dengan dinas sosial tingkat dua dan kementerian lainnya, Khofifah juga dibantu oleh 800 orang Satuan Bakti Pekerja Sosial (Satbeksos) se-Indonesia. Dia berusaha memaksimalkan sumber daya dan potensi yang ada, agar dapat memaksimalkan pelayanan. Tak terkecuali nilai anggaran Kementrian Sosial yang diakunya paling kecil dibandingkan kementrian lainnya. Tahun ini anggaran yang diterima Kemsos hanya sebesar Rp 1,58 triliun.

“Dalam kondisi apapun program-program bantuan tetap harus dijalankan. Salah satunya dengan menyiasati pengurangan nominal bantuan, namun tak mengurangi jumlah penerima bantuan,” tukas perempuan yang menjalani puasa selama 60 hari ketika menjalani saat-saat terberat dalam hidup. (Women’s Obsession edisi Juli 2016/Elly Simanjuntak)