Dosen Unsoed Rayakan Idul Fitri di Perancis

Paris, Obsessionnews.com - Merayakan lebaran bersama keluarga besar di kampung halaman merupakan keinginan sebagian besar masyarakat Indonesia yang sedang berada di perantauan. Namun, sebagian kecil kaum muslimin di perantauan justru tidak dapat mewujudkan cita-cita tersebut. Ada dari mereka yang harus bekerja pada saat lebaran untuk membantu mengamankan dan melancarkan warga yang ingin mudik ke kampung halaman: polisi, sopir, tentara, pilot, masinis, dan semua pekerja yang terkait erat dengan layanan jasa transportasi. Sebagian yang lain terpaksa tidak mudik karena harus menuntut ilmu di berbagai kota yang sangat jauh dari kampung halaman. Kondisi ini tidak memungkinkan mereka untuk mudik layaknya perantau lainnya. Salah satunya Nanang Martono (staf pengajar sosiologi pendidikan di FISIP / Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman / Unsoed) Purwokerto Jawa Tengah) saat ini bersama keluarga (anak dan istri) sedang berada di Perancis. Nanang Martono sedang menempuh pendidikan doktor di Universite de Lyon 2, Perancis di Kota Lyon, 500 km selatan Paris. Ia sudah melewatkan 4 (empat) kali Bulan Ramadhan di Lyon, selama itu pula ia hanya merayakan lebaran bersama keluarga, mahasiswa, dan warga Indonesia lain yang tinggal di Lyon. Nanang menceritakan, beberapa hari sebelum idul fitri, setiap masjid membuka kesempatan kaum muslim untuk membayar zakat fitrah. Untuk Perancis, zakat fitrah ditetapkan sekitar lima euro per orang (atau Rp 75.000). Mekanisme pembayaran zakat fitrah dapat dilakukan dengan transfer antar bank, menggunakan ATM (kartu ATM di Perancis juga berfungsi sebagai kartu kredit), cek, atau tunai. Untuk pembayaran melalaui transfer dan ATM dapat dilakukan secara online. Beberapa masjid menerima pembayaran zakat secara online yang dijamin keamanannya.
Sementara, untuk pembayaran menggunakan cek atau uang tunai, pihak masjid menyediakan kotak zakat yang ditempatkan di depan masjid. Para jamaah yang ingin membayar zakat, cukup memasukkan uang atau cek ke dalam kotak tersebut. “Lebaran di sini sepi, nggak seheboh lebaran di Indonesia, ada ramai orang mudik, ada takbiran, ada keluarga keliling ke tetangga untuk salaman…”, kata Nanang saat dihubungi Alief Einstein (Staf Ahli Rektor bidang Humas). Tinggal di negara sekuler, perayaan hari besar agama memang sangat dibatasi, terutama untuk perayaan hari besar agama minoritas. “Di Perancis nggak ada hari libur untuk lebaran. Banyak pelajar setelah sholat id langsung menuju kampus untuk kuliah, ada juga yang langsung kerja di lab. Bahkan ada sebagian pelajar yang tidak dapat melaksanakan sholat id”, lanjutnya. Setelah berpuasa selama 17.5 jam di Lyon, merayakan lebaran jauh dari keluarga besar di kampung halaman menjadi kenangan tersendiri. “Ya ada senengnya, ada tantangan, ada pengalaman puasa lebih lama daripada di Indonesia, apalagi puasa saat musim panas. Tapi sedihnya, jauh dari keluarga, jadi nggak berasa puasa dan lebaran”. Perayaan idul fitri di Perancis dipusatkan di beberapa masjid yang ada di tiap kota. “Untuk lebaran kemarin, saya melaksanakan sholat id di masjid besar Lyon”. Layaknya sholat di Indonesia, sebelum sholat juga dikumandangkan takbir di masjid dan takbir hanya terdengar di lingkungan masjid. Di beberapa tempat, sholat id juga dilaksanakan di lapangan bola atau di dalam stadion. Sebagaian besar umat muslim di Lyon adalah warga keturuan Algeria, Maroko, Tunisia, Syiria, serta sebagian warga Timur Tengah lainnya. Kelompok ini biasa disebut warga “maghreb” (bisa diterjemahkan “maghrib”). Istilah ini merujuk pada warga asal Maroko, Aljazair, Tunisia, Libya, Mauritania yang wilayahnya terletak di Afrika Utara. Istilah tersebut “dipopulerkan” oleh warga di wilayah Arab karena jika dilihat dari wilayah Arab, wilayah Afrika Utara berada disisi barat yang diidentikkan sebagai “tempat terbenam matahari” (maghrib). Istilah ini kemudian juga populer di Perancis. Tradisi berbagai makanan juga dijumpai di Lyon. saat lebaran, beberapa warga muslim membawa minuman serta makanan, sebagian besar berupa kue (gateau – Perancis) khas Arab yang berasa manis, bahkan ada yang ditambah aroma atau bau bunga melati. Kue-kue tersebut dikumpulkan di masjd dan dapat dinikmati para jamaah sholat id sebelum atau sesudah melaksanakan sholat. Sebagian ada yang membawa pulang kue-kue tersebut untuk dinikmati di rumah. Setelah sholat id, tidak banyak warga muslim yang melakukan tradisi salaman karena sebagian kaum muslim harus beraktivitas. Ada pula warga yang tetap berangkat bekerja, seolah idul fitri bukanlah “hari spesial” di Perancis. “Jadi, yang memang nggak berasa lebaran, biasa saja, cuma sholat id, lalu mereka kembali ke aktivitas semula,” jelas Nanang. (Red)
Sementara, untuk pembayaran menggunakan cek atau uang tunai, pihak masjid menyediakan kotak zakat yang ditempatkan di depan masjid. Para jamaah yang ingin membayar zakat, cukup memasukkan uang atau cek ke dalam kotak tersebut. “Lebaran di sini sepi, nggak seheboh lebaran di Indonesia, ada ramai orang mudik, ada takbiran, ada keluarga keliling ke tetangga untuk salaman…”, kata Nanang saat dihubungi Alief Einstein (Staf Ahli Rektor bidang Humas). Tinggal di negara sekuler, perayaan hari besar agama memang sangat dibatasi, terutama untuk perayaan hari besar agama minoritas. “Di Perancis nggak ada hari libur untuk lebaran. Banyak pelajar setelah sholat id langsung menuju kampus untuk kuliah, ada juga yang langsung kerja di lab. Bahkan ada sebagian pelajar yang tidak dapat melaksanakan sholat id”, lanjutnya. Setelah berpuasa selama 17.5 jam di Lyon, merayakan lebaran jauh dari keluarga besar di kampung halaman menjadi kenangan tersendiri. “Ya ada senengnya, ada tantangan, ada pengalaman puasa lebih lama daripada di Indonesia, apalagi puasa saat musim panas. Tapi sedihnya, jauh dari keluarga, jadi nggak berasa puasa dan lebaran”. Perayaan idul fitri di Perancis dipusatkan di beberapa masjid yang ada di tiap kota. “Untuk lebaran kemarin, saya melaksanakan sholat id di masjid besar Lyon”. Layaknya sholat di Indonesia, sebelum sholat juga dikumandangkan takbir di masjid dan takbir hanya terdengar di lingkungan masjid. Di beberapa tempat, sholat id juga dilaksanakan di lapangan bola atau di dalam stadion. Sebagaian besar umat muslim di Lyon adalah warga keturuan Algeria, Maroko, Tunisia, Syiria, serta sebagian warga Timur Tengah lainnya. Kelompok ini biasa disebut warga “maghreb” (bisa diterjemahkan “maghrib”). Istilah ini merujuk pada warga asal Maroko, Aljazair, Tunisia, Libya, Mauritania yang wilayahnya terletak di Afrika Utara. Istilah tersebut “dipopulerkan” oleh warga di wilayah Arab karena jika dilihat dari wilayah Arab, wilayah Afrika Utara berada disisi barat yang diidentikkan sebagai “tempat terbenam matahari” (maghrib). Istilah ini kemudian juga populer di Perancis. Tradisi berbagai makanan juga dijumpai di Lyon. saat lebaran, beberapa warga muslim membawa minuman serta makanan, sebagian besar berupa kue (gateau – Perancis) khas Arab yang berasa manis, bahkan ada yang ditambah aroma atau bau bunga melati. Kue-kue tersebut dikumpulkan di masjd dan dapat dinikmati para jamaah sholat id sebelum atau sesudah melaksanakan sholat. Sebagian ada yang membawa pulang kue-kue tersebut untuk dinikmati di rumah. Setelah sholat id, tidak banyak warga muslim yang melakukan tradisi salaman karena sebagian kaum muslim harus beraktivitas. Ada pula warga yang tetap berangkat bekerja, seolah idul fitri bukanlah “hari spesial” di Perancis. “Jadi, yang memang nggak berasa lebaran, biasa saja, cuma sholat id, lalu mereka kembali ke aktivitas semula,” jelas Nanang. (Red) 




























