Dampak Ekonomi dan Finansial Keluarnya Inggris dari Uni Eropa

Dampak Ekonomi dan Finansial Keluarnya Inggris dari Uni Eropa
London - Menteri Keuangan Inggris George Osborne Ahad (26/6) menyatakan dirinya akan merilis pandangan ekonomi pemerintah London terkait hasil referendum keluarnya negara ini dari Uni Eropa. Osborne mengatakan, hal ini dilakukan untuk memberi jaminan ketenangan kepada pasar finansial. Statemen ini dirilis untuk menjamin stabilitas finansial dan ekonomi menyusul hasil referendum di Inggris. Indeks pasar saham hari Jumat pasca pengumuman hasil referendum Brexit anjlok sekitar dua triliun dolar. Sementara nilai mata uang Inggris, Poudsterling mencicipi penurunan paling rendah selama 31 tahun terakhir. Rakyat Britania Raya pada 23 Juni 2016 memberikan suara mendukung keluarnya Inggris dari Uni Eropa saat referendum dengan perolehan suara 52 persen. Suara ini mengakhiri keanggotaan 43 tahun negara ini di Uni Eropa. Meski demikian Inggris masih harus melalui fase resmi keluar dari organisasi ini dan selanjutnya London memiliki waktu dua tahun menggelar perundingan terkait syarat keluarnya dari Uni Eropa. Menteri Luar Negeri Inggris, Philip Hammond hari Ahad menekankan, London tidak ingin tergesa-gesa keluar dari Uni Eropa saat ini dan masih ingin mengakses pasar tunggal Eropa. Hammond mengingatkan, Departemen Luar Negeri Inggris berharap masih dapat mengakses pasar tunggal Eropa setelah negara ini keluar dari Uni Eropa. Statemen Hammond ini dirilis di saat berbagai Bank Sentral dan pasar global menuntut langkah-langkah untuk menghadapi dampak keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Ketua Dana Moneter Internasional (IMF), Christine Lagarde hari Ahad saat sidang di negara bagian Colodaro, Amerika Serikat menilai langkah bank sentral dan pasar global menghadapi dampak keluarnya Inggris dari Uni Eropa sangat urgen. Lagarde mengatakan, pasar finansial menganggap ringan hasil referendum Brexit di Inggris. Ketua IMF ini mengingatkan, terjadi pergerakan keras, tiba-tiba dan cepat yang memicu merosotnya nilai mata uang Pound. Sebelum referendum pengamat IMF memperingatkan bahwa keluarnya Inggris dari Uni Eropa untuk jangka panjang akan menimbulkan dampak negatif bagi produksi dan pendapatan negara ini serta London akan mengalami kerugian besar, karena kendala baru di sektor perdagangan, investasi dan kapasitas produksi negara ini akan terancam. Menteri Keuangan Inggris George Osborne mengeluarkan dokumen 200 halaman hari Senin (18/4) mengenai untung-rugi jangka panjang keanggotaan Inggris dalam Uni Eropa. Menteri Keuangan Inggris George Osborne mengatakan keluar dari Uni Eropa adalah “perbuatan yang sangat melukai diri sendiri” yang dapat merugikan setiap rumah tangga hingga $ 6.100 setahun sebelum tahun 2030. Osborne mengeluarkan dokumen 200 halaman hari Senin (18/4) mengenai untung-rugi jangka panjang keanggotaan Inggris dalam Uni Eropa. Ia mengatakan kepada BBC, Inggris akan lebih miskin secara permanen kalau Inggris meninggalkan Uni Eropa, dan ia yakin negara itu lebih kuat, lebih aman dan lebih sejahtera dalam blok tersebut. Jepang merupakan negara pertama yang menunjukkan reaksi atas hasil referendum Inggris dan menuntut pengawasan ketat pasar valuta asing. Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe hari Senin (27/6) meminta Menteri Keuangan, Taro Aso mengikuti dari dekat pasar valuta asing dan jika diperlukan mengambil langkah pengamanan. Abe tiga hari pasca referendum Brexit di sidang mendadak pemerintah dan Bank Sentral Jepang mengatakan, ancaman terhadap pasar finansial masih tetak eksis. PM Jepang menekankan, seluruh upaya untuk menciptkan stabilitas di pasar harus tetap dilanjutkan. Hari Senin di pasar valuta Asia, nilai mata uang Pound terus merosot. Anjloknya nilai mata uang Pound sebesar 11 persen merupakan dampak pertama dari suara mendukung keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Sementara para pengamat menilai hasil Brexit ini juga memiliki dampak jangka panjang bagi ekonomi London. Menurut berbagai lembaga dan pakar finansial serta ekonomi, menurunya ekonomi Inggris sebesar enam persen dan ancaman posisi London sebagai salah satu pusat finansial dunia termasuk dampak dari referendum ini. Suara mendukung sebesar 52 persen rakyat Inggris ke Brexit, terlepas dari dampak politiknya, mengindikasikan bahwa keputusan ini akan menimbulkan dampak luas bagi ekonomi dan finansial negara ini. Menurut para pengamat, pihak yang kalah dari referendum ini bukan hanya Inggris, namun Uni Eropa juga terkena imbasnya dan bahkan berpotensi pada kehancuran solidaritas politik dan ekonomi organisasi ini. (ParsToday)