Fahri: Ahok Tidak Boleh Seenak Sendiri

Jakarta, Obsessionnews - Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menanggapi sindiran Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang menyebut Fahri orang paling hebat di dunia, karena menjadi anggota DPR dari independen setelah dipecat dari kader PKS. He...he...hee... Pernyataan Ahok itu muncul untuk menanggapi usulan yang dilemparkan oleh Fahri, agar dukungan bagi calon independen diwadahi lewat formulir yang seragam di seluruh Indonesia. Ahok menilai, usulan Fahri sama saja menjegal dirinya sebagai calon independen. Fahri menanggapi santai, ia menilai Ahok telah salah paham. Fahri mengaku tidak ada niat menjegal calon independen. "Dalam demokrasi itu saya pasti mendukung calon independen, meskipun saya percaya ke parpol sebagai tulang punggung demokrasi, karena calon independen dalam Pilkada juga bagian dari demokrasi itu sendiri,” ujar Fahri Hamzah di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (9/6/2016). Fahri menjelaskan, partai politik saja diatur dengan jelas melalui verifikasi yang ketat oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebelum mencalonkan seseorang menjadi kepala daerah. Demikian juga calon independen, harus diverifikasi dengan jelas. "Jadi saya mendukung calon independen, tapi jangan calon yang mau melakukan segalanya seenaknya sendiri, tidak mau diperiksa secara prosedural untuk mengklarifikasi berbagai persyaratan," katanya. "Parpol saja diperiksa kok sangat detail oleh negara ketika mau mencalonkan atau mengirim pejabat publik dalam negara. Calon independen juga harus seperti itu seperti publik harus bisa mengetahui siapa timnya," lanjut Fahri. Untuk itu Fahri menyayangkan penilaian Ahok yang dianggap menjegal lantaran ada usulan penyeragaman formulir. Usulan Fahri ini dianggap bagian dari demokrasi yang sehat. "Orang bikin parpol juga babak belur kok, tidak gampang. Parpol kan juga tidak ujug-ujug didirikan lantas bisa ikut Pemilu karena semua harus diverifikasi yang serius," cetusnya. Fahri tidak ingin, dukungan yang diberikan untuk calon independen ada manipulasi, sehingga ia meminta diverifikasi kembali pendukungnya apakah benar apa tidak, begitu juga tim suksesnya. "Misal soal pengecekan betul tidaknya manusia yang memberikan dukungan itu ada. Jangan-jangan ada pemalsuan dokumen dan sebagainya," jelasnya. (Albar, @aal_albar)





























