Serunya Rebutan Ganjel Rel di Dugderan Semarang

Serunya Rebutan Ganjel Rel di Dugderan Semarang
Saling sikut tak terelakkan kala kue Ganjel Rel dikeluarkan para penggawa menggunakan tandan pajang dari bambu. Tua muda saling berebut ingin mendapat kue mungil seukuran telapak tangan. Konon, kue ini bisa membawa berkah bagi siapa yang memakannya.Semarang, Obsessionnews - Bukan tanpa alasan mereka berusaha sekuat tenaga mengambil Ganjel Rel. Selain sudah didoakan alim ulama, kue Ganjel Rel hanya dibuat saat momen dugderan tiba. Dugderan sendiri ialah acara pengingat datangnya bulan suci Ramadhan di Kota Semarang. Nuryanti, warga Jagalan mengatakan jika ia tiap tahun datang ke dugderan, agar bisa menikmati kue Ganjel Rel. Ia bersama suami dan kedua anaknya sempat kesulitan saat menerobos gerombolan warga yang mengerubung. "Tadi yang ngambil suami. Desak-desakan jadi saya nonton dari jauh saja," kata dia kepada obsessionnews.com, Sabtu (4/6/2016). Menurutnya, kue Ganjel Rel bisa memberi karomah tersendiri bagi dua anaknya yang masih kecil. Selain supaya tambah semangat belajar, ia ingin anaknya bisa kuat menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh. "Bukannya musyrik ya mas. Kan sudah didoakan sama kyai kyai, jadi biar puasanya anak saya semangat jadi full sebulan," ujarnya. dugderan 12 Puncak Dugderan diselenggarakan di Masjid Agung Kauman, sebelah kiri Pasar Johar. Festival ini merupakan sebuah rangkaian dengan lokasi awal di Balai Kota Semarang, puncaknya di Masjid Kauman dan berakhir di Masjid Agung Jawa Tengah. Walikota Semarang, Hendrar Prihadi mengatakan jika Dugderan tidak hanya dirayakan umat Islam saja, namun juga umat agama lain. Hal itu mencerminkan guyub rukun yang dimiliki Ibu Kota Jateng. "Jadi yang merayakan atau yang mengikuti prosesi ini tidak hanya ormas islam, tidak hanya Muspida, tapi tadi kita juga melibatkan sekolah-sekolah nasrani sekolah non muslim untuk mereka bisa lebih memeriahkan dugderan ini," jelasnya usai prosesi serah terima ku Ganjel Rel. Memang, sebelumnya ada pawai diikuti ratusan masyarakat berbagai etnis dan agama. Mereka membawa umbul-umbul bunga Manggar, simbol kota Semarang. Tak lupa hadir arak-arakan Warak Ngendhog, binatang imajinatif, melambangkan 3 etnis suku bersatu memajukan kota Semarang. Hendi, panggilan akrabnya, memang sengaja membawakan iring-iringan pawai dari etnis agama lain supaya tradisi Dugderan tidak hanya menjadi milik umat tertentu saja, namun masyarakat kota Semarang secara luas. "Jadi supaya membuktikan kota Semarang kota yang kondusif yang memang bener2 bisa melihat perbedaan-perbedaan etnis dan budaya sebagai sebuah kekuatan bersama," tandasnya. (Yusuf IH)