Mangara Siahaan Telah Pergi untuk Selamanya

Jakarta, Obsessionnews – Megawati Soekarnoputri mengalami masa-masa sulit saat memimpin Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di era Orde Baru (Orba). Putri Bung Karno ini terpilih menjadi Ketua Umum (Ketum) hasil Kongres PDI di Surabaya tahun 1993. Tampilnya Mega sebagai orang nomor satu di partai berlambang kepala banteng itu tak dikehendaki oleh penguasa Orba. Berbagai upaya mendongkel Mega dari kursi Ketum PDI terus dilakukan oleh penguasa Orba dengan cara mengadu domba Mega dengan sesama politisi PDI. Usaha itu akhirnya berhasil. Pemerintah mendukung Kongres Luar Biasa (KLB) PDI di Medan tahun 1996 yang tak melibatkan Mega. Dalam KLB itu Soerjadi yang didukung pemerintah terpilih menjadi Ketum. Mega melakukan perlawanan dan menganggap dirinya Ketum yang sah. Namun, pemerintah hanya mengakui PDI di bawah kepemimpinan Soerjadi. Di masa-masa sulit itu salah seorang yang setia pada Mega adalah Mangara Siahaan. Wakil Sekjen DPP PDI hasil Kongres Surabaya ini tak mau bergabung dengan PDI Soerjadi. Mangara menjadi salah seorang orator di panggung yang digelar di kantor DPP PDI, Jl. Diponegoro 58, Menteng, Jakarta Pusat, pasca KLB PDI di Medan. Ia mengecam Orba dan Soerjadi. Massa pro Mega akhirnya berhasil diusir dari kantor PDI melalui aksi kekerasan oleh massa anti Mega yang dibeking aparat keamanan pada 27 Juli 1996. Salah seorang yang menjadi target operasi untuk dihabisi adalah Mangara. Namun, pada saat itu Mangara tidak berada di lokasi. Pada 21 Mei 1998 gerakan reformasi yang dilancarkan mahasiswa berhasil memaksa Presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya. Selanjutnya Wakil Presiden BJ Habibie naik kelas menjadi Presiden. Di era Habibie dilakukan reformasi di bidang politik, antara lain mengizinkan berdirinya partai-partai baru. Terobosan besar yang dilakukan pemerintahan BJ Habibie itu mendapat sambutan hangat dari masyarakat, termasuk Mega dan para pendukungnya. Mega kemudian mendirikan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan ia menjabat Ketum. Ia mengklaim partai yang dipimpinnya itu sebagai kelanjutan dari PDI. Salah seorang yang diberi tempat cukup strategis di struktur partai adalah Mangara, yakni sebagai Wakil Sekjen. Pada Pemilu 1999, yang merupakan pemilu pertama di era reformasi, Mangara terpilih menjadi anggota DPR periode 199-2004. Pada Pemilu 2009 mantan bintang film ini kembali berhasil melenggang ke Senayan, julukan populer bagi Gedung DPR/MPR yang berlokasi di Senayan, Jakarta Pusat, untuk masa bakti 2009-2014. Pasca Pemilu 2014 Mangara jarang terdengar aktivitasnya. Jumat (3/6/2016) dini hari publik dikejutkan oleh berita Mangara telah pergi untuk selamanya. Loyalis Mega ini meninggal dunia di Rumah Sakit Siloam di Jalan TB Simatupang, Jakarta, Selatan setelah dirawat beberapa hari. DPP PDI-P menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya Mangara. PDI-P menilai Mangara sebagai pejuang partai yang sangat setia mendampingi Mega dalam masa-masa yang sangat sulit. "Kesetiaan tiada akhir baik kepada Ibu Megawati Soekarnoputri, maupun kepada PDI Perjuangan, menjadikan Pak Mangara sebagai sosok dengan pemahaman terlengkap terhadap perjuangangan Ibu Megawati Soekarnoputri," ujar Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dalam keterangan tertulisnya, Jumat (3/6). Hasto menjelaskan, Mangara menjadi saksi pertemuan-pertemuan penting serta menjadi teman seperjalanan Megawati selaku Ketua Umum ketika PDIP berkeliling Indonesia, melantik Kooordinator Kecamatan. Menurut Hasto, Mangara Siahaan dikenal sebagai pejuang yang tidak pernah mengenal kata menyerah. Badannya yang tegap menjadi benteng terbaik Megawati Soekarnoputri menghadapi berbagai bentuk tekanan yang dilancarkan Orde Baru. "Ibu Megawati Soekarnoputri sungguh merasa kehilangan teman pejuang terbaik dan seluruh jajaran Partai diinstruksikan untuk menghormati Pak Mangara sebagai pejuang partai. Kami akan memberikan penghormatan terbaik sebagai pejuang partai," ujar Hasto. Ia menambahkan atas arahan Megawati, keseluruhan rekam jejak perjuangan Mangara telah dituliskan dalam memoar perjuangan oleh para wartawan senior waktu yang lalu menulis buku Megawati Dalam Catatan Wartawan: Menangis dan Tertawa Bersama Rakyat. (arh, @arif_rhakim)





























