Mahasiswa Sumbar Deklarasi Tolak Komunisme

Mahasiswa Sumbar Deklarasi Tolak Komunisme
Padang, Obsessionnews - Penyebaran ideologi komunisme di Indonesia sudah ada pada zaman Belanda, tahun 1913. Masa itu, penyebaran ideologi komunisme dilakukan secara klandestin dan dalam suatu perkumpulan kecil yang saling terintekoneksi untuk membuat suatu pemberontakan. Ketua Bela Negara Sumatera Barat (Sumbar), Kolonel Inf (Purn) Amir Sarifuddin saat menjadi nara sumber dalam kegiatan Talkshow dengan tema “Pancasila dan Minangkabau Saiyo Sakato Melawan Komunisme” di gedung Seminar F Universitas Andalas (Unand) Padang, Kamis 2 Juni 2016 mengatakan, pemberontakan pertama komunisme yang besar terjadi pada tahun 1927 di daerah Silungkang, Kota Sawahlunto, Sumbar. Dari kota 'arang' itu diteruskan dengan pemberontakan komunisme lainnya diantaranya pemberontakan Madiun tahun 1948, pemberontakan G30S/PKI. "Yang terjadi saat ini adalah embrio dari upaya pengembangan kembali ideologi komunisme di Indonesia," katanya. Amir Sarifuddin mengatakan, kelompok komunisme selalu menggunakan gaya memutarbalikkan fakta, membenturkan adat dan agama, termasuk tragedi G30S/PKI yang menyudutkan TNI-AD. Sedangkan perkembangan terakhir dari kegiatan Simposium Nasional Membedah Tragedi 1965, diklaim ada sekitar 22 titik kuburan massal korban kekerasan HAM tahun 1965 di Provinsi Sumbar. "Namun mereka tidak melihat kekejaman yang dilakukan terhadap keluarga tentara dan ulama serta tokoh adat di daerah ini. Seluruh upaya yang dilakukan oleh kelompok komunisme tersebut hanya berlandasan dendam, sehingga diharapkan kelompok-kelompok seperti Sekber 65, YPKP, dan lainnya dibubarkan," tegasnya. TALKSHOW di padang Menurutnya, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sudah mulai terkikis di kalangan generasi muda, sehingga paham komunisme dapat masuk mendoktrin para generasi muda. Untuk itu, sudah seharusnya Pancasila dikembalikan lagi sebagaimana fungsinya, serta film tentang kekejaman G30S/PKI kembali diputar setiap memperingati pemberontakan PKI, agar para generasi muda memahami dengan jelas kekejaman yang telah dilakukan oleh kelompok komunisme di Indonesia. Hal senada juga disampaikan oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unand, Prof. Dr. Phil Gusti Asnan. Berdasar penelitian yang dilakukannya, Minangkabau memang dianggap dapat menangkal bahayanya ideologi komunisme. Namun wilayah Minangkabau juga dapat dijadikan ladang subur untuk berkembangnya komunisme, apabila masyarakat lengah. Hal tersebut ditinjau dari beberapa fakta yang pernah terjadi sekitar tahun 1950 an. Pergerakan PKI saat itu menjadikan adat dan agama sebagai mesin politik. Islam dan Minangkabau dijadikan bagian mesin politik dengan membuat partai-partai lokal seperti Partai Adat dan Partai Lokal Islami. "Komunisme dengan PKI selalu muncul disaat negara sedang lemah, sehingga upaya membangkitkan kembali komunisme di Indonesia saat ini mengindikasikan Indonesia dalam keadaan lemah secara ekonomi, ideologi Pancasila maupun nasionalisme," jelasnya. Untuk itu, pemutaran film G30S/PKI dan pembelajaran tentang kekejaman PKI harus kembali digaungkan, dan pada dasarnya pemberhentian pemutaran film G30S/PKI tersebut akibat terlalu mengeneralisirnya gerakam anti Soeharto yang terjadi pasca gerakan reformasi 1998, pintanya. Co- Founder Minangkabau Institute, Reido Deskumar mengatakan bahwa Pancasila merupakan dasar negara Indonesia yang harusnya menjadi pedoman tatanan kehidupan bagi masyarakat. Khususnya di Minangkabau, Pancasila sangat erat keterkaitannya dengan falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Suatu hal yang mendasar untuk diketahui adalah di dalam adat Minangkabau terdapat unsur-unsur persamaan dengan pokok-pokok Pancasila. Mantan Presma BEM KM Unand ini mendukung pemutaran film G30S/PKI serta pembelajaran sejarah tentang kekejaman komunisme di Indonesia. Dalam akhir kegiatan Talkshow, para mahasiswa mendeklarasikan penolakan terhadap paham komunisme di Sumbar. (Musthafa Ritonga/@alisakinah73)