EgyptAir 804 Jatuh, Ancaman Global Daesh?

EgyptAir 804 Jatuh, Ancaman Global Daesh?
Mesir - Pasca jatuhnya pesawat Rusia di Sharm El Sheikh, Mesir, kali ini giliran pesawat Mesir sendiri dengan nomor penerbangan MS804 yang hilang dari pantuan radar setelah baru 16 kilometer memasuki wilayah Mesir. Kelompok teroris Daesh mengaku bertanggung jawab atas jatuhnya pesawat Mesir tersebut. Pesawat EgyptAir MS804 terbang dari bandara Paris, Perancis dengan tujuan Mesir itu bersama 56 penumpang, 7 kru dan 3 petugas keamanan. Pasca jatuhnya pesawat Mesir, Kabinet Perancis yang dipimpin Presiden Francois Hollande segera melakukan sidang darurat. Jean-Marc Ayrault, Menteri Luar Negeri Perancis langsung mengonfirmasikan pembentukan Unit Penanganan Krisis di kementeriannya untuk menangani masalah hilangnya pesawat Mesir. Sementara itu, tiga penyidik Perancis dan seorang teknisi Airbus telah tiba di Kairo, ibukota Mesir untuk membantu proses penyelidikan nasib pesawat Mesir itu. Akhir Oktober 2015, pesawat Rusia dengan 200 penumpang jatuh di Sharm El Sheik, Mesir dan seluruh penumpangnya tewas. Oleh karenanya, Alexander Bortnikov, Direktur Intelijen Rusia segera mereaksi jatuhnya pesawat Mesir dan meminta semua negara, khususnya negara-negara Eropa untuk mengambil langkah penting dan bersama guna mengindentifikasi para pelaku peristiwa ini. Di sisi lain, sebagaimana kelompok teroris Daesh menyatakan bertanggung jawab atas jatuhnya pesawat Rusia di Sharm El Sheikh, kali ini pun mereka mengaku bertanggung jawab atas jatuhnya pesawat Mesir. Sebelumnya, sebagian analis telah memeringatkan ancaman Daesh dan menyebut ancaman mereka berbeda ketimbang kelompok-kelompok teroris lainnya. Daesh memiliki banyak program aksi teroris dan siap untuk melakukan peledakan di darat, laut dan udara. Ketika Daesh mengaku bertanggung jawab atas jatuhnya pesawat Mesir, kenyataan ini membuktikan ancaman mereka tidak terbatas pada kawasan Asia Barat dan negara-negara seperti Irak, Suriah, Yaman dan Libya. Dengan kata lain, Daesh secara khusus dan terorisme secara umum telah menjadi ancaman global dan tidak terbatas pada kawasan tertentu. Sekalipun pemerintah Perancis dan Mesir langsung melakukan langkah-langkah yang dibutuhkan untuk melakukan tindakan preventif agar kasus seperti ini tidak terjadi lagi, tapi itu tidak berarti bahaya global terorisme, khusushnya Daesh telah berkurang. Langkah-langkah yang telah diambil terbatas pada upaya mencari penyebab dan bagaimana pesawat Mesir itu bisa jatuh. Sementara menurut Lakhdar Brahimi, "Daesh merupakan anak haram Amerika di kawasan Asia Barat." Untuk menghadapi anak haram ini, langkah yang diambil satu atau dua negara bahkan beberapa negara tidak akan cukup, tapi untuk menghancurkan ancaman Daesh dibutuhkan kemauan dunia, khususnya Amerika. Washington harus membuktikan keseriusannya untuk menghancurkan anak haramnya sendiri bila ingin menyaksikan dunia yang damai. (irib.ir)