Kapolrestabes Semarang Usut Pelaku Anarki Kebonharjo

Semarang, Obsessionnews - Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Burhanudin sempat sedikit meluapkan amarah manakala warga memprotes alat berat yang membongkar deretan rumah di Kampung Kebonharjo, Kelurahan Tanjungmas, Kamis (19/5/2016). Pasalnya, salah seorang warga bernama Parjo selaku koordinator mengaku bahwa warga tidak melakukan perlawanan terhadap polisi selama eksekusi berlangsung. Ia mengatakan hal itu di hadapan Walikota Semarang, Hendrar Prihadi yang bertanya bagaimana cara agar menenangkan warga. "Kalau menurut saya, warga terus terang kondusif bapak. Tidak ada perlawanan bapak. Sudah serahkan sama pak polisi," kata dia. Pengakuan warga langsung disahut oleh Burhanudin yang menampik bahwa pernyataan tersebut tidaklah benar. "Secara De Facto dan De Jure itu anak buah saya masuk rumah sakit itu. Lempa itu copot! Digedig dari atas, badannya siapa yang kuat," ujarnya geram. Ia pun menegaskan tak segan-segan memproses seluruh oknum warga yang melakukan aksi anarkis tersebut. Seperti diketahui, 7 orang petugas Kepolisian mengalami luka-luka. Dua diantaranya luka berat atas nama Ipda Roni dan Brigadir Kepala Wayan. "Saya akan proses itu anak-anak yang lempar batu sembarangan!" tegasnya.
Burhanudin berulang kali mengatakan bahwa pihaknya bertugas mengamankan situasi agar tidak terjadi kekacauan antara PT KAI Daop 4 dengan warga. Namun, yang terjadi warga malah melempar batu ke arah petugas. "Kita enggak ngelawan. Saya kasih APP di stasiun Tawang, manakala rekan-rekan melakukan penertiban membantu PT KAI jangan mengeluarkan kata-kata yang tidak perlu dikeluarkan. Kata-kata jorok misalnya," jelas Burhanudin. "Kalau dia (warga) melempari kita terus bertahan, sampai babak belur itu. Fakta kok," sambungnya. Proses penggusuran sendiri berhenti menjelang maghrib. Seluruh personil Kepolisian ditarik saat itu juga. Pihaknya menjelaskan, penarikan karena situasi yang sudah menjelang malam sehingga dikhawatirkan jatuh korban. "Karena malam jarak pandang terbatas, kita tidak mau ada korban-korban lain selain anggota saya tadi terkena musibah dilempar oknum anggota masyarakat," tuturnya usai berdiskusi dengan Walikota. Ia berharap, agar seluruh pihak saling berkomunikasi supaya tidak terjadi bentrok. Terlebih Walikota sebagai 'Bapak' di Kota Semarang bisa saling bersinergi dengan stakeholder lain agar penggusuran Kebonharjo cepat selesai. "Mudah-mudahan dalam pertemuan sore ini bisa menjawab permasalahan yang ada sekarang," tandasnya. (Yusuf IH)
Burhanudin berulang kali mengatakan bahwa pihaknya bertugas mengamankan situasi agar tidak terjadi kekacauan antara PT KAI Daop 4 dengan warga. Namun, yang terjadi warga malah melempar batu ke arah petugas. "Kita enggak ngelawan. Saya kasih APP di stasiun Tawang, manakala rekan-rekan melakukan penertiban membantu PT KAI jangan mengeluarkan kata-kata yang tidak perlu dikeluarkan. Kata-kata jorok misalnya," jelas Burhanudin. "Kalau dia (warga) melempari kita terus bertahan, sampai babak belur itu. Fakta kok," sambungnya. Proses penggusuran sendiri berhenti menjelang maghrib. Seluruh personil Kepolisian ditarik saat itu juga. Pihaknya menjelaskan, penarikan karena situasi yang sudah menjelang malam sehingga dikhawatirkan jatuh korban. "Karena malam jarak pandang terbatas, kita tidak mau ada korban-korban lain selain anggota saya tadi terkena musibah dilempar oknum anggota masyarakat," tuturnya usai berdiskusi dengan Walikota. Ia berharap, agar seluruh pihak saling berkomunikasi supaya tidak terjadi bentrok. Terlebih Walikota sebagai 'Bapak' di Kota Semarang bisa saling bersinergi dengan stakeholder lain agar penggusuran Kebonharjo cepat selesai. "Mudah-mudahan dalam pertemuan sore ini bisa menjawab permasalahan yang ada sekarang," tandasnya. (Yusuf IH) 




























