Presdir BCA: Masuknya Investor Asing ke Indonesia Harus Dipilah-pilah

Jakarta, Obsessionnews - Saat ini Indonesia tengah gencar mencari serta menerima banyak investor dari luar negeri. Terlebih kemarin Presiden Joko Widodo mendatangi Korea Selatan guna menarik investor melalui pembangunan infrastruktur sebagai upaya meningkatkan perekonomian di Tanah Air. Meskipun strategi tersebut dinilai ampuh guna menguatkan perekonomian, Presiden Direktur (Presdir) PT Bank Central Asia, Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja mengatakan masuknya investor asing harus lebih di pilah-pilah. Hal tersebut ia ungkapkan pada acara Indonesian CEO Talk di Puri Ratna Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Selasa (17/5/2016). [caption id="attachment_126364" align="alignleft" width="331"]
Acara Indonesian CEO Talk, Puri Ratna Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Selasa (17/5/2016).[/caption] Jahja mengungkapkan, ketika investor asing datang dengan membawa dollar lalu membuat pabrik melalui sistem automation (pengoperasian pabrik melalui mesin) menyebabkan penyerapan tenaga kerja berkurang. Terlebih menggunakan bahan baku impor dan hasil produksinya dijual ke dalam negeri. Akibatnya saat impor berdampak pada penambahan kebutuhan devisa yang hasilnya dinikmati investor asing. Hal tersebut dinilainya tidak terlampau menguntungkan, apalagi modal kerja membutuhkan rupiah sehingga bersaing dengan perusahaan lokal. “Nah jadi masuknya investor asing harus di pilah-pilah juga, yang bawa dollar, yang menyerap kerja cukup, juga bisa menjual prodak ekspor dan mendatangkan dollar. Atau produknya subtitusi ekspor, harus arahnya ke situ. Jadi ke depannya bagus,” ujarnya. (Aprilia Rahapit, @aprilia_rahapit)
Acara Indonesian CEO Talk, Puri Ratna Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Selasa (17/5/2016).[/caption] Jahja mengungkapkan, ketika investor asing datang dengan membawa dollar lalu membuat pabrik melalui sistem automation (pengoperasian pabrik melalui mesin) menyebabkan penyerapan tenaga kerja berkurang. Terlebih menggunakan bahan baku impor dan hasil produksinya dijual ke dalam negeri. Akibatnya saat impor berdampak pada penambahan kebutuhan devisa yang hasilnya dinikmati investor asing. Hal tersebut dinilainya tidak terlampau menguntungkan, apalagi modal kerja membutuhkan rupiah sehingga bersaing dengan perusahaan lokal. “Nah jadi masuknya investor asing harus di pilah-pilah juga, yang bawa dollar, yang menyerap kerja cukup, juga bisa menjual prodak ekspor dan mendatangkan dollar. Atau produknya subtitusi ekspor, harus arahnya ke situ. Jadi ke depannya bagus,” ujarnya. (Aprilia Rahapit, @aprilia_rahapit)




























