BRI Tetap Andalkan UMKM Hadapi MEA

Jakarta, Obsessionnews - Menghadapi persaingan dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang sudah berlaku akhir tahun lalu, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) tetap mengandalkan pasar UMKM. Langkah berikutnya adalah meluncurkan satelit BRISat pada Juni 2016. "Pasar UMKM BRI saat ini 73-75 persen dari berbagai daerah di Indonesia. Kemudian mengembangkan layanan UMKM secara online, seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR). Kita sudah merealisasikan KUR rata-rata satu hari bisa 10 ribu orang. Jadi tidak mungkin dilakukan dengan tenaga manual manusia," kata Asmawi Syam, Dirut BRI, dalam acara Indonesia CEO Talk yang digelar oleh Obsession Media Group (OMG), bertajuk 'Peran Industri Jasa Keuangan Sebagai Motor Penggerak Perekonomian Bangsa di Era MEA' di Jakarta, Selasa (17/5/2016). Baca juga:OJK Dorong Jasa Keuangan Gerakan Roda EkonomiOJK-OECD Berdayakan UMKMOJK gandeng Sentral Timor LesteOJK Berguru ke AustraliaBRI Siap Hadapi UU Tax Amnesty
BRI lanjutnya, memberikan perlindungan bisnis di Indonesia dalam menghadapi MEA. "Sehingga secara tidak langsung kita memberikan perlindungan bisnis kita yang ada di situ," tambahnya. Sedangkan mengenai BRISat, jika beroperasi Juni nanti, bisa menurunkan rasio beban operasional dibandingkan pendapatan operasional (BOPO) pada tahun ini. Asmawi menjelaskan perusahaan yang dipimpinnya mengeluarkan dana US$260 juta atau setara sekitar Rp3,4 triliun untuk memiliki satelit sendiri yang bakal diluncurkan dari Republik Guyana. Dengan memiliki satelit sendiri, dirinya menyatakan emiten dengan kode saham BBRI tersebut dapat meningkatkan layanan kepada para nasabah dan lebih menjangkau masyarakat yang saat ini belum tersentuh layanan perbankan. Perseroan selama ini mengeluarkan dana Rp500 miliar per tahunnya untuk menyewa transponder. Dibandingkan dengan dana pembelian satelit yang senilai Rp3,4 triliun, hanya bisa untuk menyewa selama 7 tahun. "Padahal, umur satelit kami nanti bisa 17 tahun," pungkasnya. @reza_indrayana
BRI lanjutnya, memberikan perlindungan bisnis di Indonesia dalam menghadapi MEA. "Sehingga secara tidak langsung kita memberikan perlindungan bisnis kita yang ada di situ," tambahnya. Sedangkan mengenai BRISat, jika beroperasi Juni nanti, bisa menurunkan rasio beban operasional dibandingkan pendapatan operasional (BOPO) pada tahun ini. Asmawi menjelaskan perusahaan yang dipimpinnya mengeluarkan dana US$260 juta atau setara sekitar Rp3,4 triliun untuk memiliki satelit sendiri yang bakal diluncurkan dari Republik Guyana. Dengan memiliki satelit sendiri, dirinya menyatakan emiten dengan kode saham BBRI tersebut dapat meningkatkan layanan kepada para nasabah dan lebih menjangkau masyarakat yang saat ini belum tersentuh layanan perbankan. Perseroan selama ini mengeluarkan dana Rp500 miliar per tahunnya untuk menyewa transponder. Dibandingkan dengan dana pembelian satelit yang senilai Rp3,4 triliun, hanya bisa untuk menyewa selama 7 tahun. "Padahal, umur satelit kami nanti bisa 17 tahun," pungkasnya. @reza_indrayana 




























