Surat Terbuka Untuk Jokowi: Datanglah ke Rusia Sebagai Kawan Lama

Jakarta, Obsessionnews– Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN-Rusia di Sochi, Rusia, 19-20 Mei 2016. Terkait hal itu Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI) mengirimkan surat terbuka kepada Presiden Jokowi, Menko Polhukam Luhut Pandjaitan, Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menlu Retno Marsudi, dan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Minggu (15/5/2016). Surat terbuka itu berjudul Datanglah ke Rusia Sebagai Pemimpin ASEAN dan Kawan Lama Rusia Berikut isi surat terbuka tersebut yang diterima Obsessionnews.com: Pertama-tama kami, saya atas nama kawan-kawan yang tergabung dalam lembaga kajian global dan politik luar negeri Global Future Institute(GFI), menyampaikan salam hangat kepada Bapak Presiden maupun jajaran kabinet pemerintahan bapak yang tersebut di atas. Disertai harapan semoga Bapak Presiden beserta jajaran kabinet tetap fokus dan konsisten pada skema Trisakti dan Nawacita. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, kami informasikan kepada Bapak Presiden, bahwa pada Rabu 11 Mei 2016 lalu, GFI dan Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasiona (HIMAHI) Universitas Nasional, menggelar Focused Group Discussion(FGD) yang berlangsung di kampus Universitas Nasional, Pejaten Pasar Minggu. Untuk meminta feedback dan masukan menyusul terbitnya jurnal kami, The Global Review Quarterly Edisi 9, yang mengangkat tema: Dialog Kemitraan ASEAN-RUSSIA, Momentum Bangun Strategi Perimbangan Kekuatan di Asia Tenggara. Untuk itu, kami menghadirkan beberapa narasumber maupun peserta aktif baik dari kalangan pemerintahan, perguruan tinggi dan lembaga kajian maupun berbagai elemen strategis masyarakat lainnya. Hadir dalam diskusi terbatas yang menggunakan format FGD tersebut antara lain: Dara Ysulawati, dari Direktorat Jenderal Kerjasama ASEAN, Brigjen Sunaryo, Direktur Kerjasama Internasional, Direktorat Jenderal Strategi Pertahanan, Kementerian Pertahanan, Junita S Syarief, Kepala Seksi Eropa, Afrika, dan ASEAN, Kementerian Perdagangan, Basilio Dias Araujo, Asisten Deputi Keamanan dan Ketahanan Maritim, Kementerian Kemenko Maritim. Guspiabari, pakar ekonomi dari Center for Indonesia National Policy Studies (CINAPS) dan Direktur Eksekutif Imagoinvest. Suryo AB, staf pengajar geopolitik dari Fakultas Ilmu Sosial-Politik jurusan hubungan internasional, Universitas Nasional. Dan Agus al Ghafur, tenaga ahli dari komisi I DPR-RI mewakili Tantowi Yahya. Bapak Presiden dan Para Menteri yang terhormat. Adapun gagasan yang mendasari topik bahasan baik yang kami angkat sebagai tema kajian kami di Jurnal Global Review Quarterly maupun dalam seminar terbatas tersebut adalah untuk mengupayakan agar Kawasan Asia Tenggara, dan ASEAN pada khususnya, kembali kepada relnya semula, sebagai Kekuatan Regional yang damai, bebas, netral. Kedua, untuk membangun keseimbangan di kawasan Asia Tenggara dan ASEAN khususnya, maka skala kerjasama dengan Negara-negara besar(Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Jepang dan Rusia), harus semakin ditingkatkan baik skala maupun lingkup kerjasamanya. Sehingga tidak ada satupun negara adikuasa yang merasa mendapat hak-hak istimewa dan merasa mendominasi negara-negara yang tergabung dalam ASEAN, termasuk Indonesia. Dengan kata lain, semakin banyak mitra strategis dari negara-negara besar yang bermaksud menjalin kerjasama strategis dengan ASEAN, kiranya akan semakin baik bagi kepentingan nasional masing-masing negara-negara ASEAN maupun ASEAN pada umumnya. Dalam kajian kami sebagaimana kami presentasikan kepada forum seminar, kami sekali lagi menggarisbawahi apresiasi kami terhadap pertemuan ketiga kelompok Ahli ASEAN-Rusia (ASEAN-Russian Eminent Persons Group) di Moskow, Rusia pada 6 April 2016 lalu. Bahwa seperti diungkapkan oleh Staf Khusus Menteri Luar Negeri Djauhari Oratmangun, kerja sama ekonomi dan perdagangan serta isu kawasan bebas senjata nuklir di Asia Tenggara merupakan isu-isu signifikan dalam kerja sama kemitraan ASEAN-Rusia yang perlu terus didorong di masa yang akan datang. ASEAN-Russian Eminent Persons Group di Moskow inilah yang mendasari kami untuk mempertajam lebih lanjut isu strategis tersebut, khususnya yang berkaitan dengan upaya untuk menjadikan Asia Tenggara sebagai kawasan bebas senjata nuklir. Global Future Institute memandang isu tersebut sangat penting sebagai dasar kerjasama strategis antara ASEAN dan Rusia di masa depan. isu untuk menjadikan kawasan Asia Tenggara sebagai kawasan bebas senjata nuklir, tentunya tidak dilepaskan secara historis dengan gagasan untuk menjadikan kawasan Asia Tenggara sebagai suatu “Zone of Peace, Freedom and Neutrality sebagaimana hasil kesepakatan negara-negara ASEAN melalui Deklarasi Kuala Lumpur 27 November 1971. Pada tataran inilah, dengan segala hormat dan kerendahan hati, kami bermaksud mengingatkan kembali Bapak Presiden, bahwa nilai strategis Deklarasi Kuala Lumpur 1971 begitu penting bagi ASEAN, dan khususnya Indonesia, karena deklarasi tersebut merujuk pada DASA SILA Bandung April 1955 yang menekankan pentingya menegakkan prinsip-prinsip “Peaceful Co-Existence atau hidup berdampingan secara damai. Serta bebas dari segala macam bentuk campur tangan oleh negara-negara luar (free from any form or manner of interference by outside powers). Inilah yang menjadi landasan para kepala pemerintahan negara-negara ASEAN dalam KTT ASEAN di Bali pada Februari 1976, untuk menghasilkan dua dokumen penting, untuk memperkuat kesepakatan negara-negara ASEAN pada November 1971, yaitu:
- Declaration of ASEAN concord, dan
- Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia (Perjanjian Persahabatan dan Kerjasama di Asia Tenggara).
- Senjata dan Militer Pemerintah Indonesia telah memutuskan untuk membeli satu skuadron Su-35 milik Rusia secara bertahap pada September lalu. Pesawat tempur ini nantinya akan menggantikan pesawat tempur F-5 Tiger milik Amerika. Sepertinya, Indonesia pun akan mendapat pinjaman lunak senilai tiga miliar dolar AS atas pembelanjaan ini. Selain itu, Kementerian Pertahanan Indonesia juga berencana membeli lima kapal selam Rusia. Sebelumnya, pihak Indonesia telah melakukan negosiasi dengan pihak Rusia mengenai pembelian kapal selam bekas proyek 877 Paltus, tetapi kemudian pihak Indonesia mengumumkan pembatalan kesepakatan ini dan memilih untuk membeli kapal selam bertenaga diesel terbaru Amur-1650. Menteri Pertahanan Indonesia Ryamizard Ryacudu mengatakan bahwa kapal selam bertenaga diesel milik Rusia memiliki karakteristik terbaik.
- Negara-negara ASEAN harus melakukan konsolidasi. Tanpa konsolidasi, ASEAN hanya akan menjadi forum diskusi, bukan menjadi alternatif bagi kekuatan politik besar yang sepertinya akan memecah-belah wilayah tersebut dalam beberapa tahun ke depan. Negara-negara ASEAN harus memiliki alternatif aliansi selain Tiongkok dan AS. Dan, itu adalah hal yang juga dibutuhkan oleh Rusia. Belum pulihnya situasi ekonomi Rusia adalah kesempatan bagi negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia untuk menjamah pasar Rusia, terutama di bidang yang tak terlalu kompetitif di kalangan para produsen lokal. Para pejabat dan pengusaha Rusia belum terlalu mengenal negara-negara ASEAN. Oleh karena itu, negara-negara Asia Tenggara harus berinisiatif mempromosikan diri mereka di Rusia. 3. Strategi hubungan Rusia dan ASEAN harus dikembangkan. Sebaiknya memang tidak ada satu mitra atau negara yang lebih diutamakan. Perlu ada kesimbangan. Namun, Indonesia sebagai negara anggota yang paling besar, dengan jumlah penduduk yang besar, dan sekaligus memiliki pangsa pasar yang besar, sangat wajar jika Rusia menjalin kemitraan yang lebih kuat dengan dengan Indonesia.





























