Pemilihan Ketum Golkar Voting Terbuka Rawan Intimidasi

Pemilihan Ketum Golkar Voting Terbuka Rawan Intimidasi
Bali, Obsessionnews - Pemilihan ketua umum (ketum) Partai Golkar dalam Munaslub harus dengan hati nurani, yaitu harus dilakukan secara pengambilan suara voting tertutup. Sebagai hakikat demokrasi jika mau memilih orang untuk menjadi pemimpin, maka dukungan orang perorang harus tertutup. “Voting terbuka membuat pemegang suara tidak bisa bebas memilih caketum karena akan rawan intimidasi. Akibatnya, voting sama saja dengan aklamasi yang dipaksakan. Maka aneh kalau ada ikhtiar skenario aklamasi yang dianggap tidak bisa dipersoalkan dan malah dinilai tidak haram oleh Sekjen Golkar Idrus Marham. Padahal itu jelas-jelas menyalahi proses demokrasi secara benar,” ungkap Ketua Komunitas Keluarga Besar Angkatan 1966 (KKB 66) Binsar Effendi Hutabarat di Bali, Sabtu (14/5/2016). “Kalau memang Idrus Marham memaksakan kehendaknya agar caketum Golkar mendahulukan kepentingan bangsa dan partai pada Munaslub, maka janganlah membuat skenario macam-macam. Sebab, tidak bisa menjamin sesuai yang diharapkan oleh para konstituen Golkar agar Golkar melalui Munaslub bisa bersatu dan bangkit berjaya kembali,” tandas Binsar. Ketua FKB KAPPI ’66 ini mengingatkan, Munaslub Golkar jangan akal-akalan lagi yang justru akan bisa mengulang peristiwa Munas Bali terdahulu, dengan menggiring peserta untuk mengambil suara secara aklamasi sebagai sumber masalah Golkar pecah. “Apalagi Idrus Marham adalah pendukung salah satu ketum, tentu pemikiran seperti itu tidaklah akan memunculkan kontestasi fair play,” bebernya. “Partai Golkar jangan terjebak dalam urusan bisnis para pengurusnya. Ke depan, pengurus Golkar perlu memberikan perhatian lebih serius ‎dalam membenahi urusan internal,” sarannya. Ia menuturkan, jika Golkar selama ini lebih diidentik dengan banyaknya kepentingan bisnis ketimbang kepentingan politik, maka akan pupuslah niat luhur mempersatukan kembali Golkar.‎ "Wajah para elite Golkar yang lebih bersosok bisnis dan tampilkan sikap borjuis inilah yang secara perlahan telah menyusutkan jumlah pemilih. Selain Golkar telah kehilangan pemilih loyal, Golkar dinilai juga tidak akan mampu mengembalikan pemilih-pemilih tradisionalnya seperti saat era Orde Baru. Tanpa mereka, jelas Golkar akan semakin jauh tertinggal. Sebab itu, pilih Ketua Umum Golkar dengan hati nurani melalui voting secara tertutup,” tegasnya. (Ars)