Belasan Macan Tutul Masih Eksis di Pulau 'Penjara' Nusakambangan

Semarang, Obsessionnews - Macan tutul atau Panthera Pardus Melas diperkirakan masih berjumlah belasan ekor di cagar alam Nusakambangan Barat. Setidaknya, pengamatan sejumlah LSM perlindungan satwa menunjukkan bahwa hewan endemik itu masih eksis ditengah perkembangan zaman. Koordinator Konservasi Keanekaragaman Hayati Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah (Jateng), Sohib Abdillah mengungkapkan, pada tahun 2015 kemarin, dua ekor macan tutul tertangkap kamera trap pada tahun 2014 dan 2015. "Kenapa kami bisa asumsikan belasan, karena dari hasil pengamatan baik jejak, kotoran dan rambut berbeda-beda," kata dia kepada obsessionnews.com, Sabtu (14/5/2016). Sementara macan yang terpantau dua ekor tersebut merupakan macan tutul jawa yang berwarna normal dan berwarna hitam. Masyarakat Indonesia sering menyebut macan hitam sebagai macan kumbang. "Tapi jumlah 2 ekor itu tidak serta merta mencerminkan jumlah yang ada. Pekiraaan terakhir belasan ekor," ujarnya. Macan tutul jawa dan macan kumbang sendiri merupakan hewan endemik pulau Nusakambangan. Artinya, di masa lalu, pulau Nusakambangan dimungkinkan tersambung dengan daratan utama yakni pulau Jawa. "Lalu mungkin karena naiknya permukaan laut dan perubahan topografi tanah, Nusakambangan jadi terpisah. Sehingga satwa disana terisolir selama berabad-abad," jelas dia. Terkait perburuan macan tutul Jawa, Sohib, petugas Kepolisian Hutan (Polhut) Cilacap, Rahmat Hidayat mengaku belum pernah menemukan adanya oknum yang memburu hewan eksotis itu. "Kalau selama ini belum pernah ada perburuan macan tutul di wilayah Nusakambangan," terangnya lewat sambungan telefon. Pihaknya pun secara rutin melakukan pengamanan kawasan hutan Nusakambangan, khususnya di kawasan konservasi mengingat satwa liar jenis macan tutul masuk dalam prioritas yang harus diselamatkan. Kendalanya? Selain topografi, belum ada kesepahaman antar stakeholder yang ada di Nusakambangan. "Pihak terkait yakni Kemenkumham, Pemkab Cilacap dan PT Holcum. Kesepahaman dalam melestarikan kawasan tersebut belum optimal," papar Rahmat. Guna mengoptimalkan perlindungan satwa langka, ia memiliki trik khusys dengan memberdayakan masyarakat sekitar. "Kami membentuk Masyarakat Mitra Polhut (MMP) sehingga masyarakat turut berperan aktif dalam perlindungan dan pengamanan," tandasnya. (Yusuf IH)





























