Belanja Negara Dipotong Jika Target Perpajakan Tidak Tercapai

Jakarta, Obsessionnews - Pertumbuhan ekonomi triwulan Satu 2016 menurun dibandingkan triwuan empat ditahun sebelumnya. Meskipun turun tapi Pemerintah terus optimis meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia dan memajukan pembangunan. "Realisasi pertumbuhan ekonomi triwulan satu 2016 sebanyak 4,92 lebih rendah dari triwulan empat 2015 yaitu 5,04, tetapi lebih tinggi daripada triwulan satu 2015 yang memperoleh 4,73," jelas Deputi Bidang Ekonomi, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Leonard VH Tampubolon dalam dialog dengan tema Updating Isu Ekonomi dan Infrastruktur di Papua di Hall Dewa Pers, Jakarta Pusat, Rabu (11/5/2016) Menurut Leonard rendahnya pertumbuhan ekonmi triwulan satu 2016 disebabkan beberapa lapangan usaha yang memiliki kontribusi besar seperti pertambangan dan penggalian, industri pengolahan, konstruksi, dan perdagangan mengalami konstraksi. "Triwulan satu ini mengalami kontraksi sebesar 0,34 persen. Rendahnya pertumbuhan ekonomi tersebut didorong juga lebih rendahnya pertumbuhan pengeluaran konsumsi pemerintah dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) /investasi. Meskipun rendah, tapi pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga memiliki sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 2,73%," tuturnya. Selain itu Ia menyebutkan penjualan motor, mobil mengalami peningkatan diakhir triwulan satu 2016, dan ekspansi perekonomian sejak September masih tercatat diatas 50. sedangkan penjualan semen dikatakan menurun "Indeks keyakinan konsumsi juga masih cukup tinggi kalau dibanding September 2015. Meski pertumbuhan kredit perbangkan masih relatif lamban tetapi di bulan Maret menunjukan tanda-tanda rebound," ujarnya. Lebih lanjut Ia katakan bahwa realisasi belanja pemerintah di Maret telah membuahkan hasil. Kondisi ini ditandai dengan meningkatnya realisasi belanja modal mencapai 5,1% dari APBN, jika dibanding tahun lalu hanya sebesar 1,4 %. Meski demikian realisasi perpajakan lebih rendah dari tahun lalu. Kondisi ini dapat mempengaruhi tercapainya target pertumbuhan ekonomi. Kata Leonard kondisi tersebut dipengaruhi juga oleh pertumbuhan ekonomi dunia yang melambat. "Ini berita buruk yang harus diterima bersama khusunya daerah Papua. Sebab pemerintah harus memotong belanja negara jika target perpajakan tidak tercapai," ungkapnya. (Asma)





























