Jangan Pilih Ketum Golkar yang Borjuis dan Congkak!

Jangan Pilih Ketum Golkar yang Borjuis dan Congkak!
Jakarta, Obsessionnews - Ketua Umum Komunitas Keluarga Besar Angkatan 1966 (KKB 66) Binsar Effendi Hutabarat didampingi Kordinator Polhukkam Bobby Beng Floris, mengingatkan kepada DPD-DPD Tingkat I dan Tingkat II Partai Golkar yang memiliki hak suara dalam Munaslub Golkar pada 15-17 Mei 2016 di Nusa Dua, Bali, untuk tidak memilih calon ketua umum (caketum) Golkar lima tahun ke depan semakin tambah terpuruk. “Kami ingatkan kepada DPD-DPD Golkar jangan pilih ketum untuk menambah terpuruk lagi, karena adanya rangkap jabatan, kritikan publik dan tidak komunikatif yang baik dengan masyarakat karena borjuis, congkak dan sombong,” tandas Binsar Effendi yang juga Ketua FKB KAPPI 66 dalam rilisnya kepada pers (8/5/2016). Sekarang ini para caketum sedang menyampaikan sosialisasinya di Hotel Grand Angkasa Medan, di hadapan para pimpinan DPD Tingkat I dan Tingkat II di zona Sumatera. Binsar sudah instruksikan kepada Ketua PD KKB Provinsi Sumatera Utara, Ir H Rusdin Ginting untuk mengawal sosialisasi para caketum tersebut. “Diinstruksikan kepada Ketua KKB 66 Sumut Bung Rusdin Ginting untuk kawal sosialisasi para caketum di Medan,” jelas Binsar Effendi. Menurutnya, sudah menjadi panggilan moral para eskponen 1966 yang partisipasi politiknya di Golkar. “Dulu, memasuki reformasi betapa sulitnya Golkar untuk eksis karena dituntut untuk dibubarkan oleh para aktivis reformasi. Bersyukur dibawah kepiawaian Bang Akbar Tandjung, Golkar terselamatkan. Sekarang ini sumbernya adalah dari internal elitnya sendiri, tapi untuk menyelamatkan sulitnya bukan main” tuturnya. Pasalnya, lanjut Binsar, disamping sulit menemui yang bersih dari kritikan publik, nampaknya juga pada haus sahwat kekuasaan. “Ada yang sudah berjanji tidak akan maju mencalonkan diri jadi ketum setelah menjadi Ketua DPR, maju juga. Janji tinggal janji, meski sudah tersurat. Yang dicemooh publik dan mundur akibat kasus ‘papah minta saham’, juga masih ingin maju padahal sudah diberi jabatan Ketua Fraksi Golkar di DPR. Ini, seperti para borjuis, yang menurut pendapat Eksponen 66 tidak akan menjamin Golkar bisa bangkit berjaya ditangan mereka,” ungkapnya. Sebab itu, etgas dia, KKB 66 lebih dini mengingatkan kepada para pemilik suara dari DPD untuk tidak asal memilih jika tidak ingin Golkar jatuh ke lubang keterpurukan untuk kedua kalinya. “Pernyataan Bang Akbar selaku Ketua Dewan Pertimbangan Golkar dan juga Ketua Pertimbangan KKB 66, sebaiknya ketum Golkar terpilih asal Jawa tidaklah keliru. Ketika Golkar dibawah ketua umum Bang Akbar, Bang JK dan Bung Ical, yang bukan orang Jawa itu, nyatanya tak mampu memenangkan Pilpres dalam pemilunya. Terlebih di era Bung Ical, untuk mencawapreskan dirinya saja tidak laku. Ironis bukan?” bebernya. Lebih lanjut Ketua Umum KKB 66 tegaskan, hal ini penting disuarakan sekalipun dengan bahasa yang pahit, karena ada kewajiban dan tanggungjawab moral Eksponen 66 terhadap Golkar yang didirikan masa itu untuk menghadapi pemberontakan PKI. “Dan, ini penting untuk diketahui semua pihak. Sebab itu, KKB 66 wajib mengawal Golkar,” tandasnya. kampanye Golkar-Pilih Caketum yang Bersih Dari Kritik Publik Binsar Effendi  mengingatkan, syarat Prestasi, Loyalitas, Dedikasi dan Tidak Tercela (PDLT) bagi calon Ketua Umum Golkar dalam perhelatan Munaslub pada 15-17 Mei di Nusa Dua, Bali, selain tidak jelas tolok ukurnya, tetapi juga dijamin tidak akan membuat Partai Golkar kembali bangkit apalagi bisa berjaya dalam pertarungan Pemilu 2019 mendatang. “Sebagai eksponen yang menjadi lagendaris dalam mendirikan, membesarkan dan tetap terpanggil sebagai kewajiban dan tanggungjawab moralnya untuk terus mengawal partai sampai kapanpun. Menjadi layak jika pihaknya untuk menyatakan tidak cukup bagi caketum Golkar ke depan hanya karena memiliki syarat PDLT semata-mata,” tutur Ketua FKB KAPPI ‘66. Ia menegaskan, Golkar adalah partai besar, partai yang telah membangun bangsa dan negara ini dari amanat penderitaan rakyat, dari pemberontakan PKI di tahun 1965, serta yang mengantarkannya menjadi partai modern dengan paradigma baru dan inovatif saat menggelar konvensi calon presiden dari Golkar dalam mengisi reformasi melalui forum yang berjalan secara demokratis, dan dalam semangat yang tidak bergeser untuk tetap melaksanakan ideologi Pancasila dan konstitusi UUD 1945 secara murni dan konsekuen. “Banyak kontribusi yang pernah diperbuat Golkar untuk rakyat. Sebab itu bukan hanya karena ada tujuan rekonsiliasi dan berkeadilan yang prahara sebenarnya diperbuat oleh internal elitenya sendiri, lalu Golkar seperti gagap. Golkar sejatinya partai yang didirikan oleh para pejuang, sehinggga tidak perlu lagi gamang, galau atau gagap. Semangat caketum seharusnya adalah semangat perjuangan yang konsisten untuk mengangkat bagaimana cara agar Golkar kembali bangkit, berjaya dan bisa mencalonkan presiden di Pemilu 2019 nanti,” terangnya. Kordinator Polhukkam KKB 66, Bobby Beng Floris menambahkan, hendaknya DPD-DPD di tingkat I dan II sebagai pemilik suara dalam munaslub Golkar, agar disamping caketum yang memiliki jiwa dan semangat pejuang sejati, juga harus bersih dari segala kritik di kalangan masyarakat, “sebaiknya sosok caketum seperti ini yang harusnya dipilih”. Menurut Booby, buat apa syarat PDLT selalu saja dijadikan ikon Golkar jika caketum belum bersih dari kritik publik, termasuk dari sosok yang senang memunculkan kegaduhan politik hanya karena ingin berebut populer di atas panggung opini publik yang sesungguhnya kelakuan model seperti ini sudah dibenci oleh rakyat. “Jadi kata kuncinya, DPD-DPD tingkat I dan II sebaiknya pilih caketum Golkar yang bersih secara hakiki. Jika bersih dari kritik rakyat, dipastikan di Pemilu 2019 nanti paling tidak Golkar mampu bertahan pada posisi sekarang ini dan kemungkinan besar mampu mencalonkan presiden yang diusung oleh partainya sendiri”, paparnya. (Red)