Ternyata, Harga Bawang Merah Dipermainkan !!

Jakarta, Obsessionnews - Patut menjadi keprihatinan kita harga bawang merah di pasaran mencapai di atas Rp50.000 per kg, dipermainkan oleh pihak oknum-oknum tertentu. Padahal, bawang merah banyak dihasilkan dari pulau Jawa serta sebagian Sumatera dan saat ini banyak dikembangkan di Pulau Sumbawa yang konon sudah mencapai 30 persen kebutuhan nasional disuplay dari Sumbawa. Pengamat pertanian/pangan Dadung Hari Setyo yang juga Ketua Umum Komunitas Usaha Pertanian Sentra Usaha Tani dan Agribisnis Nusantara (KUP Suta Nusantara) memaparkan, biaya tanam bawang memang sangat variatif tergantung lokasi lahan karerna ada lahan datar dan ada pula laham miring. “Namun dari itu semua biaya bawang merah berkisar 20 sampai dengan 30 juta per hektar. Ada juga yang lebih dari itu. Hasil panen rata-rata petani di kisaran 7 sampai dengan 9 ton per hektar. Ada kelompok kecil petani bisa mencapai 13 ton. Kadang petani dapatkan harga pokok produksi bawang merah di kisaran Rp. 8.000 sampai dengan 12. 000 per kilogram,” ungkap Dadung, Minggu (8/5/2016).
Artinya, jelas Dadung, bila harga bawang merah Rp15.000 petani sudah cukup mendapatkan keuntungan yang lumayan dapat dihitunglah semua itu. “Tapi kenapa fluktuasi harga bawang merah naik turunnya sangat tajam, Ada beberapa hal yang perlu dicermati, yaitu lahan bawang merah dan petani semakin tahun semakin berkurang,” bebernya. Menurutnya, petani banyak yang tidak memiliki gudang penyimpanan bawang. Sering hasil panen bawang merahnya digudangkan di dalam rumah petani. Itupun tidak banyak. Alhasil, datang pedagang membeli murah bawang merahnya, petani tak kuasa menolak karena di rumah sudah tidak cukup untuk menyimpan bawang merah tersebut,” ungkapnya pula.
Dari sini lah, lanjut dia, para pedagang lantas menekan harga di petani dan mengatur harga bawang merah di pasar-pasar dan fakta pedagang inilah yang disebut tengkulak. “Tengkulak yang di-backup pemodal atau oengusaha besar. Ada pula oknum petugas di lapangan yang juga bermain,” bongkarnya. Dadung memaparkan, tata niaga bawang merah tidak bisa kondusif..karena peran pedagang atau tengkulak yang sangat besar. “Petani selalu ada di posisi paling bawah dan tidak bisa berbuat lebih untuk mendapatkan harga yang baik,” tuturnya. “Saya kurang paham peran strategis pemerintah dengan tata niaga bawang merah ini. Sejauh ini kami sudah ribuan hektar membina petani bawang merah di Jabar dan Jatim dan bahkan di Sumsel dan Sumbawa. Namun selalu berusaha mencarikan solusi. Tahap awal barangkali kita akan membentuk forum komunikasi petani dan pedagang atau sejenisnya serta pembeli-pembeli lain,” kata Dadung.
Ia menilai sepertinya pemerintah kerepotan menciptakan tata niaga bawang merah atau memang tidak mau direpoti dengan bawang merah karena harus banyak urus petani dan mungkin berpikir lebih baik impor daripada menanam. “Kami dan petani bawang merah sangat bahagia bila pabrikan dan pembeli lngsung bertemu untuk pembelian bawang merah tanpa harus lewat tengkulak,” tandas Ketua Umum KUP Suta Nusantara. (Ars)Foto: Saat panen bawang merah petani binaan KUP Suta Nusantara Kabupaten Bandung.
Artinya, jelas Dadung, bila harga bawang merah Rp15.000 petani sudah cukup mendapatkan keuntungan yang lumayan dapat dihitunglah semua itu. “Tapi kenapa fluktuasi harga bawang merah naik turunnya sangat tajam, Ada beberapa hal yang perlu dicermati, yaitu lahan bawang merah dan petani semakin tahun semakin berkurang,” bebernya. Menurutnya, petani banyak yang tidak memiliki gudang penyimpanan bawang. Sering hasil panen bawang merahnya digudangkan di dalam rumah petani. Itupun tidak banyak. Alhasil, datang pedagang membeli murah bawang merahnya, petani tak kuasa menolak karena di rumah sudah tidak cukup untuk menyimpan bawang merah tersebut,” ungkapnya pula.
Dari sini lah, lanjut dia, para pedagang lantas menekan harga di petani dan mengatur harga bawang merah di pasar-pasar dan fakta pedagang inilah yang disebut tengkulak. “Tengkulak yang di-backup pemodal atau oengusaha besar. Ada pula oknum petugas di lapangan yang juga bermain,” bongkarnya. Dadung memaparkan, tata niaga bawang merah tidak bisa kondusif..karena peran pedagang atau tengkulak yang sangat besar. “Petani selalu ada di posisi paling bawah dan tidak bisa berbuat lebih untuk mendapatkan harga yang baik,” tuturnya. “Saya kurang paham peran strategis pemerintah dengan tata niaga bawang merah ini. Sejauh ini kami sudah ribuan hektar membina petani bawang merah di Jabar dan Jatim dan bahkan di Sumsel dan Sumbawa. Namun selalu berusaha mencarikan solusi. Tahap awal barangkali kita akan membentuk forum komunikasi petani dan pedagang atau sejenisnya serta pembeli-pembeli lain,” kata Dadung.
Ia menilai sepertinya pemerintah kerepotan menciptakan tata niaga bawang merah atau memang tidak mau direpoti dengan bawang merah karena harus banyak urus petani dan mungkin berpikir lebih baik impor daripada menanam. “Kami dan petani bawang merah sangat bahagia bila pabrikan dan pembeli lngsung bertemu untuk pembelian bawang merah tanpa harus lewat tengkulak,” tandas Ketua Umum KUP Suta Nusantara. (Ars)Foto: Saat panen bawang merah petani binaan KUP Suta Nusantara Kabupaten Bandung.





























