Golkar Bakal Jadi Beringin Gundul

Golkar Bakal Jadi Beringin Gundul
Jakarta, Obsessionnews - Pihak pendukung Tommy Soeharto (Hutomo Mandala Putra) menilai panitia Munaslub Partai Golkar sengaja memajukan jadwal Munaslub dari 23 Mei menjadi 15 Mei 2016 sebagai upaya untuk menjegal putera Presiden ke-2 RI Soeharto itu agar tidak ada persiapan sebagai calon ketua umum (caketum) Golkar. Pasalnya, mereka ketakutan kalau Tommy maju bakal tidak ada tandingannya. “Panitia Munaslub mencla-mencle mengubah jadwal munaslub seenak udelnya sendiri. Jadwal Presiden Jokowi bahwa tanggal 23 Mei ada acara jangan dijadikan alasan untuk majukan Munaslub. Mestinya munaslub diundur kalau disesuaikan dengan jadwal Presiden, bukan malah dimajukan sehingga merusak jadwal persiapan kubu Tommy yang sudah diagendakan untuk kampanye dan sebagainya,” ungkap Arief Turatno, mantan Ketua DPP Generasi Muda (Gema) Trikora, ormas pemuda binaan Tommy Soeharto, Rabu (4/5/2016). Dengan tidak jadinya Tommy maju memimpin Partai Golkar yang dilanda konflik perpecahan internal dan kekisruhkan saat ini, Arief Turatno memprediksi, Golkar bakal rontok tanpa bekas. Ia pun menilai sosok seperti Setya Novanto sudah tidak pantas lagi muncul di panggung politik, karena terlibat dugaan berbagai kasus korupsi. “Ya, Golkar yang semula sebagai partai besar akan rontok dalam arti sesungguhnya lambang pohon berringin yang semula rindang bakal rontok daunnya sehingga jadi beringin gundul,” tegas pendukung Tommmy Soeharto ini. “Dengan tidak majunnya Tommy dan ada indikasi dijegal dengan dimajukannya jadwal Munaslub, maka ini berarti memang Tommy adalah calon hebat yang ditakuti lawan maupun kawan. Harusnya orang-orang Golkar mawas diri. Bahwa Tommy adalah kader Golkar jempolan yang diyakini akan membawa kemajuan kepada Golkar,” tandasnya. Tommy Soeharto Sebelumnya, Arif Turatno menilai, Partai Golkar akan kisruh dan ribut terus apabila dipimpin oleh salah satu dari dua kubu sekarang, yakni kubu Aburizal Bakrie (Ical) ataupun kubu Agung Laksono, sekalipun digelar Munaslub bersama. Karena akan terjadi bahaya laten saling sikut. Untuk membuat Golkar jaya kembali, maka harus dikembalikan ke akarnya dan dipimpin oleh Tommy Soeharto. “Kalau Golkar masih dikuasai salah satu dari dua kelompok (Ical atau Agung) maka suatu saat akan ribut lagi dan kisruh terus,” bebernya. Ia menyebutkan ada lima keuntungan apabila Golkar dipimpin Tommy Soeharto. Pertama, Tommy relatif darah muda dan sosok segar dibanding orangnya Ical ataupun Agung. Kedua, Tommy bebas konflik dan bisa diterima dua kubu. Ketiga, Tommy adalah anak mantan bos besar Golkar, sehingga disegani Ical maupun Agung. “Keduanya pasti masih ingat pernah menghamba kepada Pak Harto almarhum,” bebernya. Keempat, lanjutnya, Tommy dapat menyemangati simpatisan Golkar yang goyah akibat konflik internai yang tak kunjung usai. Kelima, tidak ada alternatif lain untuk menyatukan kedua kubu kecuali dengan tampilnya pangeran Cendana tersebut. “Jadi, tidak ada alternatif lain, mau tidak mau harus dukung Tommy,” tuturnya. Turatno menambahkan, dengan fenomena Ketua DPR RI Ade Komaruddin yang sowan ke rumah Tommy Soeharto, kemarin, berarti Tommy sangat dihargai dan diperhitungkan oleh para elit Partai Golkar. Ia pun yakin apabila Tommy maju menjadi calon ketua umum Golkar pasti didukung oleh Titiek Soeharto dan Mbak Tutut serta keluarga Cendana lainnya. Termasuk didukung Prabowo Subianto sebagai mantan kakak iparnya. Foto Tommy Sebagaimana diketahui, di hari terakhir pendaftaran calon ketua umum (caketum) Partai Golkar, Rabu (4/5/2016), Hutomo Mandala Putra (HMP) alias Tommy Soeharto tidak hadir. Kabar putra mantan Presiden Soeharto batal itu batal maju di Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) dibenarkan oleh ketua tim suksesnya, Subiakto Tjakrawerdaya. “Sepanjang yang saya tahu hingga sore ini, HMP tidak mencalonkan diri sebagai Ketum Golkar,” kata Subiakto kepada Obsessionnews.com melalui WhatsApp, Rabu (4/5). Ketika ditanya alasan Tommy tak ikut meramaikan bursa caketum Golkar, Subiakto menjawab singkat,”Timing-nya belum tepat.” Namun, mantan Menteri Koperasi di era Presiden Soeharto enggan menjelaskan lebih jauh apa yang dimaksud dengan timing-nya belum tepat itu. Dimajukannya jadwal Munaslub dari tanggal 23 Mei menjadi tanggal 15 Mei diduga penyebab mundurnya Tommy. Sebuah sumber yang dekat dengan Tommy menilai panitia Munaslub mencla-mencle, karena beberapa kali mengubah jadwal Munaslub. “Munaslub Golkar dianggap seperti main-main,” katanya. Seperti diketahui, Ketua Steering Committee (SC) atau Panitia Pengarah Munaslub Golkar Nurdin Halid mengundang Tommy menghadiri acara sosialisasi penyelenggaraan Munaslub di kantor DPP Golkar, Slipi, Jakarta Barat, Senin (2/5/2016), melalui surat bernomor No. Und 11/SC/Munaslub/IV/2016 tanggal 28 April 2016. Namun karena ada kegiatan di luar kota Tommy tak menghadiri acara itu. Ia diwakili tim suksesnya. (Red)