Hadiri Peringatan Isra Miraj di Magelang, Jokowi Bicara Soal Persaingan

Hadiri Peringatan Isra Miraj di Magelang, Jokowi Bicara Soal Persaingan
Magelang, Obsessionnews - Presiden Jokowi menyempatkan diri untuk menghadiri peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW Tahun 1437 H/2016 M di Asrama Perguruan Islam, Pondok Pesantren Tegalrejo, Kecamatan Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah, Rabu (4/5/2016) malam. Ini merupakan rangkaian kegiatan Presiden Jokowi dalam kunjungan kerja ke Provinsi Jawa Tengah. Sebelumnya, Presiden Jokowi meresmikan Pasar Manis di Kabupetan Banyumas, Pasar Giwangretno di Kabupaten Kebumen dan Pasar Krendetan Kabupaten Purworejo. Dengan mengenakan jas hitam, sarung serta berpeci, Presiden Jokowi tiba di Asrama Perguruan Islam, Pondok Pesantren Tegalrejo didampingi Menteri Perdagangan Thomas Lembong, Mensesneg Pratikno, dan Wakil Gerbernur Jawa Tengah Heru Sudjatmoko. Peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW Tahun 1437 H/2016 M di Asrama Perguruan Islam juga dihadiri ribuan santri, alim ulama Jateng, pemimpin pompes, tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat. "Saya sangat berbahagia sekali pada malam hari ini bisa hadir di Tegalrejo bisa bertemu dengan para kiayi, dengan para santri. Tapi kan tadi sudah disampaikan mengenai hikmah Isra Miraj disampaikan oleh Habib Umar Muthohar saya kira apa yang sudah disampakan diikuti saja," kata Jokowi dalam sambutannya. Presiden Jokowi hanya ingin berbicara tentang masalah yang berkaitan dengan kompetisi Ata persaingan. Dalam era MEA ini menurut Presiden, persiangan sudah bukan lagi antar individu dengan individu, atau antar kota dengan kota, atau provinsi dengan provinsi, melainkan persiangan sudah pada level negara dengan negara. "Para santra saya kira sudah tahu bahwa mulai awal Januari lalu sudah dibuka yang namanya MEA artinya apa, artinya orang Malaysia ke sini boleh orang Indonesia ke Malaysia juga boleh, orang Singapura ke sini boleh, orang Indonesia ke Singapura boleh, orang Brunei boleh ke sini, orang sini boleh juga ke Brunei," kata Presiden. Artinya dengan kondisi seperti itu, persaingan itu bukan lagi sesuatu yang perlu ditawar-tawar. 10 tahun lalu sebelum berlakunya MEA, seluruh negara anggota ASEAN sudah menandatangai kesepakatan persaingan. Sehingga lanjut Presiden siap atau tidak semua elemen bangsa harus berani menghadapi era persaingan yang sudah dijalani ini. "Karena tanpa persiapan itu kita akan sulit memenangkan persiangan yang sudah terbuka, mau tidak maun suka tidak suka kita harus hadapi. Ini baru 11 negara, bayangkan lagi nanti mungkin 10 tahun lagi akan dibuka banyak lagi negara yang bisa berseliweran seperti itu," tutur Jokowi. "Sekarang sudah lagi dibentuk blok Amerika, UE, ada bloknya Tiongkok, tapi saya lihat santri-santri di sini saya senang, tadi yang disampaikan habib tadi, tepuk tangannya kencang-kencang, artinya kelihatan bahwa santri-santri itu optimis menata masa depan, saya melihat itu. Kalau saya berhadapan dengan santi-santri kalau disampaikan sesuatu diam, gak ada reaksi, ini ada apa," katanya. "Tap kl tepuk tangan yang keras seperti ini menunjukkan bahwa ada optimisme. Karena setiap hari di pondok diisi oleh para kiyai, optimisme itu menjadi muncul. Oleh sebab itu, saya pesan kepada para santri, dalam persiangan tadi, kita harus belajar bagaimana memenangkan sebuah persiangan dengan cara apa, tadi ilmu ditambah, kerja keras ditambah, belajar ditambahn apapun, pengalaman ditambah," pesan Jokowi. (Has)