Penjualan Bukit Asam Naik 14% di Triwulan I 2016

Penjualan Bukit Asam Naik 14% di Triwulan I 2016
Jakarta, Obsessionnews - Volume penjualan PT Bukit Asam (Persero) Tbk  atau PTBA, Januari – Maret (Triwulan I) 2016 naik 14 persen atau jadi 5,23 juta ton.  Dibanding periode yang sama tahun lalu 4,58 juta ton. "Kenaikan volume penjualan ini menyumbangkan kenaikan 8 persen  terhadap laba perusahaan, atau jadi Rp 3,54 triliun. Meningkat  dibanding pendapatan periode yang sama tahun lalu sebesar  Rp 3,28 triliun," ujar Seretaris Perusahaan, Adib Ubaidillah, seperti dilansir laman BUMN.go.id, Minggu (1/5/2016). Selama Triwulan I 2016, harga batubara dunia mengalami penurunan sekitar 15 persen. Sementara perseroan berhasil mengendalikan harga jual rata-rata tertimbangnya dengan prosentase penurunan sebesar 6 persen atau menjadi Rp 664.289,- dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 700.847,- Dari Penjualan batubara sejumlah dan harga rata-rata terimbang di atas, PTBA berhasil memperoleh Laba Bersih sebesar Rp 332,57 miliar, dengan Net Profit Margin (NPM) sebesar 9,4 persen. NPM PTBA tersebut tetap menempati angka tertinggi di antara industri batubara nasional dan nomor tiga tertinggi di antara industri batubara terkemuka dunia. Sementara Gross Profit Margin-nya sebesar 23 persen, dan Operating Profit Magin sebesar 9,4 persen. Keberhasilan PTBA menekan penurunan harga rata-rata tertimbang pada Triwulan I merupakan hasil dari langkah-langkah optimasi yang dilakukan Perseroan dalam rangka memenuhi kebutuhan pasar. Perseroan juga menetapkan Branding System untuk menyesuaikan spesifikasi batubara PTBA dengan kebutuhan pasar dan terobosan pasar baru, di antaranya ke Pakistan, Bangladesh dan Perancis dengan memprioritaskan batubara kalori tinggi untuk pasar ekspor. Hal ini menempatkan batubara PTBA sebagai primadona di pasar dunia dengan harga yang premium. Sementara itu, dari 5,23 juta ton Penjualan Triwulan I 2016, volume Penjualan domestiknya naik sebesar 34 persen atau menjadi 2,91 juta ton dibanding tahun sebelumnya 2,18 juta ton atau 55 persen dari total volume Penjualan. Sedangkan 45 persen sisanya untuk melayani permintaan ekspor sebesar 2,32 juta ton. Angka Penjualan PTBA tersebut berasal dari Produksi dan Pembelian Perseroan sebesar 3,58 juta ton, atau 97 persen dari Produksi dan Pembelian periode yang sama tahun sebelumnya. Dari jumlah itu, 3,17 juta ton berupa Produksi dan Pembelian 0,41 juta ton. Untuk tahun 2016 PTBA merencanakan Penjualan batubara sebesar 29,17 juta ton atau naik         51 persen dibanding Penjualan tahun sebelumnya sebesar 19,10 juta ton. Demikian juga dengan rencana Produksi dan Pembeliannya sebesar 28,32 juta ton atau naik 37 persen dibanding tahun sebelumnya sebesar 20,74 juta ton. Dengan melihat infrastruktur PTBA mulai dari hulu di lokasi tambang hingga ke hilir di pelabuhan dan dermaga pengiriman, PTBA optimis target tersebut akan bisa terpenuhi. Hal ini didukung di antaranya dengan segera beroperasinya Train Load Station (TLS) 4 sebagai Alat Pemuat Batubara ke Gerbong Kereta Api di lokasi tambang Tanjung Enim untuk meningkatkan kapasitas pengiriman pada April 2016. Selanjutnya empat RCD di Pelabuhan Tarahan telah mampu membongkar empat rangkaian gerbong batubara secara bersamaan. Dengan demikian, Pelabuhan Tarahan sudah bisa beroperasi penuh dengan kapasitas 25 juta ton per tahun dan Dermaga Kertapati sebesar 3,7 juta ton per tahun. Di samping itu PT Kereta Api Indonesia (KAI) juga sudah menyelesaikan pembangunan rel double track dari lokasi tambang di Tanjung Enim hingga ke Prabumulih, di mana sebelumnya PT KAI sudah melakukan tambahan lokomotif dan gerbong batubara dalam jumlah besar. Hal ini mendukung terpenuhinya target angkutan batubara PT KAI tahun ini sebesar 23,7 juta ton atau naik sekitar     50 persen dari tahun sebelumnya sebesar 15,79 juta ton. Dan dengan sendirinya Pelabuhan Tarahan juga dapat beroperasi penuh sesuai dengan kapasitasnya sebesar 25 juta ton per tahun. Di tengah harga batubara dunia yang terus tertekan, PTBA tetap menempatkan langkah-langkah efisiensi sebagai salah satu program prioritas di tahun 2016. Sama dengan capaian tahun lalu dengan menekan Biaya Produksi sebesar 10 persen, maka tahun ini PTBA tetap mengejar target efisiensi dalam jumlah yang sama. Salah satu upaya ke arah itu ialah dengan elektrifikasi peralatan dan sarana pendukung operasional penambangan di Tanjung Enim, dengan nilai total proyek sebesar Rp 2,4 triliun. Di antara sarana pendukung berupa dump truck, shovel, crusher station dan overland conveyor system secara keseluruhan   menggunakan tenaga listrik. Sebanyak 40 truk berkapasitas 110 ton per unit itu dalam satu atau dua bulan mendatang sudah tiba di lokasi tambang. Kemudian, juga pada tahun ini melalui cucu perusahaan PT Satria Bahana Sarana (SBS) yang bergerak di bidang jasa penambangan batubara, PT SBS   telahh melakukan tambahan investasi sebesar Rp 962,2 miliar untuk pembelian sejumlah truk dengan tonase sekitar 100 ton per kendaraan dan peralatan penunjang lainnya. Dengan tambahan investasi ini, PT SBS tahun 2016 ditargetkan mampu memenuhi produksi sekitar 30 juta bcm total material tambang. Dengan beroperasinya truk dan peralatan tambang yang didatangkan PT SBS, maka volume pekerjaan penambangan swakelola PTBA secara keseluruhan meningkat dalam jumlah yang signifikan. Hal ini secara langsung mendukung program efisiensi PTBA sebagai Perusahaan Induk.@reza_indrayana