Bursa Global Bergerak Bervariasi

Jakarta, Obsessionnews - Tekanan jual di pasar kemarin terimbas sentimen negatif dari pasar Asia setelah pasar kecewa bank sentral Jepang (BoJ) tidak menambah jumlah dana stimulusnya yang berdampak pada penguatan Yen Jepang terhadap US dolar. Pengamat pasar modal dari First Asia Capital, David Sutyanto menjelaskan penguatan Yen berimbas positif terhadap mata uang emerging market termasuk rupiah dan Yuan China, namun buruk bagi prospek pemulihan ekonomi Jepang Sementara itu di Wall Street tadi malam dilanda tekanan jual setelah data awal pertumbuhan ekonomi AS 1Q16 melambat dengan pertumbuhan terendah secara kuartalan dalam dua tahun terakhir. “Indeks DJIA dan S&P di Wall Street tadi malam masing-masing koreksi 1,2 persen dan 0,9 persen tutup di 17830,76 dan 2075,81. Sebelumnya rilis laba 1Q16 sejumlah korporasi yang kurang menggembirakan, terutama korporasi berbasiskan teknologi, turut menekan pergerakan harga saham sektoral,” Jelasnya, Jumat (29/4/2016) Selain itu, ia menuturkan harga minyak mentah tadi malam di AS berhasil melanjutkan penguatan naik 1,2 persen di USD45,88 per barel. Pertumbuhan ekonomi AS di 1Q16 0,5 persen (qoq) melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang tumbuh 1,4 persen (qoq). Angka pertumbuhan tersebut di bawah perkiraan konsensus ekonom yang sebelumnya tumbuh 0,7 persen (qoq). (Aprilia)





























