Pemred 'Suara Karya' Bantah Korannya Tutup

Jakarta, Obsessionnews - Beredarnya isu bahwa Harian Suara Karya (SK), akan berhenti terbit per 2 Mei dibantah oleh Pemred koran tersebut, Lalu Mara Satriawangsa. "Rapat hari ini tidak final memutuskan berhenti terbit. Keputusan menutup koran ini harus mendapat persetujuan dari rapat pemegang saham. Bukan oleh wartawan atau karyawannya," ujar Lalu kepada Obsessionnews.com, Kamis (28/4). Baca juga:Akhir Tragis Koran Partai Golkar Munaslub Golkar Telan Dana Rp66,9 Miliar Empat Anak Emas Ical Rebut Ketum Golkar Calon Ketum Golkar Wajib Setor Rp5 Miliar? [caption id="attachment_121394" align="aligncenter" width="640"]
Lalu Mara Satriawangsa (kiri) bersama BJ Habibie dan Aburizal Bakrie (Foto: akun pribadi FB)[/caption] Lalu yang merupakan orang dekat Aburizal Bakrie, sang investor koran pembawa suara Partai Golkar itu, menambahkan, rapat hari ini hanya memaparkan kondisi kekinian SK. Jika kondisinya terus seperti ini yang meredup, dipastikan bakal tutup. Soal gaji karyawan yang 3 bulan belum dibayar, juga dibantah oleh Lalu. Yang benar, pihak manajemen menyicil gaji karyawan sejak Februari lalu. Begitu juga hutang kertas dan biaya cetak ke percetakan, tetap dibayar dengan cara dicicil. "Penghematan lainnya adalah dengan mengurangi terbitan. Dari semula terbit 7 kali dalam seminggu. Kini Sabtu dan Minggu distop. Kemudian, jumlah halaman diciutkan dari 16 halaman, menjadi 12 halaman dan jadi 8 halaman," lanjut Lalu. Lalu minta kepada seluruh karyawan dan wartawan SK tetap tenang dan bekerja seperti biasa. Biarlah pihak manajemen yang akan memutuskan yang terbaik buat harian SK.@reza_indrayana
Lalu Mara Satriawangsa (kiri) bersama BJ Habibie dan Aburizal Bakrie (Foto: akun pribadi FB)[/caption] Lalu yang merupakan orang dekat Aburizal Bakrie, sang investor koran pembawa suara Partai Golkar itu, menambahkan, rapat hari ini hanya memaparkan kondisi kekinian SK. Jika kondisinya terus seperti ini yang meredup, dipastikan bakal tutup. Soal gaji karyawan yang 3 bulan belum dibayar, juga dibantah oleh Lalu. Yang benar, pihak manajemen menyicil gaji karyawan sejak Februari lalu. Begitu juga hutang kertas dan biaya cetak ke percetakan, tetap dibayar dengan cara dicicil. "Penghematan lainnya adalah dengan mengurangi terbitan. Dari semula terbit 7 kali dalam seminggu. Kini Sabtu dan Minggu distop. Kemudian, jumlah halaman diciutkan dari 16 halaman, menjadi 12 halaman dan jadi 8 halaman," lanjut Lalu. Lalu minta kepada seluruh karyawan dan wartawan SK tetap tenang dan bekerja seperti biasa. Biarlah pihak manajemen yang akan memutuskan yang terbaik buat harian SK.@reza_indrayana




























