Rekrutmen Calon Enumerator Sirkesnas di Sultra Diduga Nepotisme

Rekrutmen Calon Enumerator Sirkesnas di Sultra Diduga Nepotisme
Kendari, Obsessionnews - Badan Litbang Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) melaksanakan kegiatan ristet nasional 2016. Berdasarkan kebutuhan riset itu maka dilakukan rekrutmen calon enumerator survei Indikator Program Kesehatan Nasional (Sirkesnas) melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sulwesi Tenggara (Sultra). Secara nasional hasil seleksi administrasi para calon Enumerator Sirkenas Sultra telah dibuka 15 Februari sampai 8 Maret 2016 lalu. Untuk Sultra hasil seleksi administrasi telah diumumkan 21 April dengan jumlah 103 orang. Sedangkan pengumuman seleksi wawancara dilaksanakan 22-23 April dan diumumkan 25 April melalui situs resmi Dinas Kesehatan Sultra http://dinkes.sultraprov.go.id/. Sultra belakang Peserta enumerator Sirkenas Sultra, Muhammad Aris, menduga perekrutan di Sultra terkesan nepotisme. Ia membeberkan bahwa ada salah satu peserta, Zabaniyah, dalam seleksi administrasi tidak lulus, namun setelah pengumuman wawancara namanya dinyatakan lulus. “Ini ada yang tidak beres, dan terkesan ada nepotisme. Namanya tidak ada dalam pengumuman administrasi tapi pengumuman wawancara ada,” ungkapnya saat dihubungi Obsessionnews.com lewat telepon, Selasa (26/4/2016). Dinas Kesehatan mengumumkan peserta yang lulus wawancara sebanyak 28 orang dan lulus cadangan 7 orang. Mereka dapat penugasan riset daerah di Sultra, yakni Konawe Kepulauan (Konkep), Ladongi, Samaturu, Lakudo, Talaga Raya, Tangkuno dan Parigi. Tiap daerah memiliki 4 orang masing-masing keterwakilan profesi Farmasi/Dokter, Bidan/Perawat, Gizi, dan Kesmas/Analisis Kesehatan. Dari pengumuman itu, Aris mempertanyakan kuota farmasi/dokter di Talaga Raya, Tangkuno dan Parigi ditempati oleh profesi ners. “Kenapa posisi farmasi/dokter ditempati yang bukan profesinya, padahal masih ada peserta dari farmasi,” katanya dengan heran. Aris kecewa terhadap jawaban pihak panitia yang menyatakan bahwa kuota farmasi/dokter di Talaga Raya, Tangkuno dan Parigi ditempati oleh profesi ners atas dasar rekomendasi Balitbang. Ia juga kecewa terhadap alasan panitia bahwa salah satu peserta yang lulus wawancara tapi namanya tidak tercantum dalam kelulusan administrasi disebabkan berkas sebelumnya tercecer. “Saya pikir Litbang tidak bisa ikut campur dalam rekrutmen dan penempatan. Kemudian berkas yang tercecer kok bisa dimasukkan namanya, padahal surat keputusan penetapan sudah distempel dan ditandatangani oleh Kepala Dinas Kesehatan Sultra Asrum Tombili 16 April 2016 lalu,” tuturnya. Lebih lanjut Aris meminta pihak panitia pelaksana rekrutmen calon enumerator Sirkesnas Sultra agar ada transparansi nilai wawancara. “Saya meminta panitia mencantumkan hasil nilai wawancara. Panitia harus tansparan agar kemampuan kami dapat diketahui, dan ke depannya kita bisa memperbaiki kesalahan yang ada,” tegasnya. Aris salah satu peserta yang tidak lulus dalam seleksi wawancara, namun dia tidak menginginkan seleksi program pemerintah disalahgunakan. “Kalau seleksinya berbau nepotisme, maka seleksi ini tidak akan sesuai dengan harapan di pusat. Saya tidak menginginkan hal ini akan terjadi lagi di kemudian hari,” serunya. Sedangkan salah satu panitia pelaksana rekrutmen calon enumerator Sirkesnas Sultra Sija saat dihubungi Obsessionnews.com tidak memberikan komentar yang jelas. “Sudah ada pengumuman di situs. Kalau saya bukan urusan administrasi,” katanya. Berdasarkan calon enumerator Sirkesnas Sultra yang dinyatakan lulus dianjurkan melakukan pendaftaran ulang mulai 28 April-4 Mei 2016 di Dinkes Sultra, cq bagian program. Bagi peserta yang tidak melakukan pendaftaran ulang maka dinyatakan gugur. Bagi yang melakukan pendaftaran ulang diwajibkan mengikuti training centre pada 9-15 Mei 2016 di hotel Swiss Bel Kendari. (Asma, @asmanurkaida)