Bahtelitbang, Cairan Tembakau Bawang Pembasmi Hama

Cairan berwarna hitam pekat dalam botol yang dijejer di etalase mungkin nampak biasa saja. Namun siapa sangka, setetes cairan tersebut mampu membunuh ratusan hama pertanian, tanpa harus merusak lingkungan.Semarang, Obsessionnews - Adalah cairan bahtelitbang (limbah tembakau dan kulit bawang) sebagai alternatif insektisida alami ramah lingkungan. Bahtelitbang diciptakan oleh tiga pelajar asal SMA Negeri 1 Kudus, Jawa Tengah (Jateng), yang berawal dari tugas sekolah. Mereka adalah Iqbal Muhammad, Marysa Rizqia Chairunnisa dan Rafif Elang Danendra yang berhasil membuat inovasi berupa pestisida alami ini. Salah seorang inventor, Marsya, mengatakan gagasan ini muncul setelah menganalisis, di mana limbah cacahan daun tembakau dan kulit bawang bisa digunakan membasmi serangga. "Ternyata daun tembakau mengandung zat alkaloid nikotin, sejenis neurotoksin yang ampuh sebagai racun syaraf pada serangga. Dan itu sangat melimpah di kota kami," kata Marsya kepada Obsessionnews.com, Selasa (26/4/2016) pagi di pelataran Gedung Gradhika Semarang. Kulit bawang, lanjutnya, mengandung sejumlah senyawa seperti flavonoid yang bisa menghambat daya makan larva. Mereka lantas mencoba mengolah zat di dalam kedua bahan menjadi bahan inteksidia alami. Cara membuatnya? Sisa kulit bawang dan tembakau diblender hingga halus. Sebelumnya, cacahan limbah dikeringkan dulu hingga benar-benar tidak berair. Bubuk limbah yang sudah halus lalu dicampur cairan metanol dengan perbandingan 1:4. "Metanol ini fungsinya sebagai pelarut. Kenapa kita ga pakai air karena metanol lebih efektif (melarutkan) ketimbang air. Ekstraknya lebih keluar," papar gadis berkerudung ini. Larutan tembakau dan kulit bawang tersebut lantas didiamkan selama seminggu. Setelah itu, larutan didistilasi atau pemisahan metanol dari ekstrak bawang dan tembakau. Proses distilasi sendiri menggunakan alat laboratorium. "Tapi dalam prakteknya bisa menggunakan ceret dan pipa tapi mungkin hasilnya kurang maksimal. Metanolnya yang sudah terpisah bisa digunakan kembali berulang-ulang. Jadi cukup beli metanol sekali saja," ujarnya tersenyum manis. Satu miligram bahtelitbang diklaim dapat digunakan untuk 100 mili liter air. Campuran tersebut lalu bisa diaplikasikan langsung dengan menyemprot ke tanaman. Keunggulannya jelas nyata. Bahtelitbang tidak merusak mutu tanaman karena berbahan dasar alami. Selain itu, penggunaan bahtelitbang juga ramah lingkungan. [caption id="attachment_120433" align="alignleft" width="315"]
Bahtelitbang diciptakan oleh tiga pelajar asal SMA Negeri 1 Kudus, Jawa Tengah (Jateng).[/caption] Raih Prestasi dan Apresiasi Temuan mereka memang pantas disematkan penghargaan. Bahtelitbang sendiri pernah dilombakan di Indonesian Science Project Olimpiade (ISPO) pada bulan Januari 2016 lalu dan menggondol medali emas sebagai juara satu. Dari ISPO, mereka memenangkan tiket ke Amerika untuk mengikuti ajang lomba serupa bernama Genius. Dalam lomba Genius, bahtelitbang akan bersaing dengan berbagai produk unggulan dari 25 negara di dunia. "Kami akan berangkat bulan Juni besok untuk melanjutkan penelitian. Sekaligua menunjukkan kepada dunia bahwa kita punya produk ini," terang Marsya. Sementara Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Jateng, Tegoeh Wynarno, mengaku bangga atas produk buatan anak bangsa dari Kudus ini. Menurutnya, Bahtelitbang merupakan pengembangan resep insekstisida orang tua di masa lampau. Petani jaman dulu sering menabur bawang di lahan pertanian untuk mengusir hama. "Kalau jaman dulu, mbah-mbah kita itu namanya sambetan," jelas dia. Bahtelitbang merupakan salah satu jenis pestisida nabati. Sejatinya, produk sejenis bahtelitbang sudah pernah ada. Namun, ramuan yang digunakan tidak selengkap terkandung dalam bahtelitbang. "Kenapa dulu simbah-simbah kita menanam turi, kunyit, itu sebenarnya pestisida nabati. Cuma metodenya aja berbeda. Kalau dulu cuma dilarutkan di air, kalau sekarang lain," papar pria berkumis ini. Selain beda metode, Bahtelitbang juga dimungkinkan membuat siklus berantai terhadap hama tanaman, di mana serangga yang tersemprot akan menjadi racun bagi serangga lain. "Tapi kemungkinan ada siklus berantai. Jadi kalau serangga mati karena ini, lalu dimakan serangga lain, kemungkinan dia akan teracuni juga," Pihaknya juga mengaku bahwa bahtelitbang sangat bisa untuk dikomersilkan. Tegoeh pun mendorong agar produk ini segera dilakukan analisis secara ekonomi yang nantinya bisa menjadi pestisida murah tanpa harus merusak lingkungan. (Yusuf IH, @HanggaraYusuf)
Bahtelitbang diciptakan oleh tiga pelajar asal SMA Negeri 1 Kudus, Jawa Tengah (Jateng).[/caption] Raih Prestasi dan Apresiasi Temuan mereka memang pantas disematkan penghargaan. Bahtelitbang sendiri pernah dilombakan di Indonesian Science Project Olimpiade (ISPO) pada bulan Januari 2016 lalu dan menggondol medali emas sebagai juara satu. Dari ISPO, mereka memenangkan tiket ke Amerika untuk mengikuti ajang lomba serupa bernama Genius. Dalam lomba Genius, bahtelitbang akan bersaing dengan berbagai produk unggulan dari 25 negara di dunia. "Kami akan berangkat bulan Juni besok untuk melanjutkan penelitian. Sekaligua menunjukkan kepada dunia bahwa kita punya produk ini," terang Marsya. Sementara Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Jateng, Tegoeh Wynarno, mengaku bangga atas produk buatan anak bangsa dari Kudus ini. Menurutnya, Bahtelitbang merupakan pengembangan resep insekstisida orang tua di masa lampau. Petani jaman dulu sering menabur bawang di lahan pertanian untuk mengusir hama. "Kalau jaman dulu, mbah-mbah kita itu namanya sambetan," jelas dia. Bahtelitbang merupakan salah satu jenis pestisida nabati. Sejatinya, produk sejenis bahtelitbang sudah pernah ada. Namun, ramuan yang digunakan tidak selengkap terkandung dalam bahtelitbang. "Kenapa dulu simbah-simbah kita menanam turi, kunyit, itu sebenarnya pestisida nabati. Cuma metodenya aja berbeda. Kalau dulu cuma dilarutkan di air, kalau sekarang lain," papar pria berkumis ini. Selain beda metode, Bahtelitbang juga dimungkinkan membuat siklus berantai terhadap hama tanaman, di mana serangga yang tersemprot akan menjadi racun bagi serangga lain. "Tapi kemungkinan ada siklus berantai. Jadi kalau serangga mati karena ini, lalu dimakan serangga lain, kemungkinan dia akan teracuni juga," Pihaknya juga mengaku bahwa bahtelitbang sangat bisa untuk dikomersilkan. Tegoeh pun mendorong agar produk ini segera dilakukan analisis secara ekonomi yang nantinya bisa menjadi pestisida murah tanpa harus merusak lingkungan. (Yusuf IH, @HanggaraYusuf)




























