Bagus! Menag Sebut Istri Materialistis Bikin Suami Korupsi

Jakarta - Pernyataan Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin agar para istri tidak materialistis supaya suami tidak korupsi, adalah peringatan yang bagus. Namun anehnya, tutur kata yang benar ini malah mendapat kecaman, termasuk ada yang menyebut menteri berkomentar seksis. Lukman mengungkapkan permintaannya agar para istri tak menuntut materi yang membuat suami berusaha memenuhinya. Apalagi tak bisa dipungkiri, banyak pejabat yang takut istri. Komentar-komentar melalui media sosial menuntut agar Lukman tidak menyalahkan perempuan saja karena banyak faktor di balik korupsi. "Yaelah..si bapak yang korupsi kok istri yang dikambing hitamkan," tulis Yulia Wijaya melalui Facebook. Sementara Kiauw Yin mengatakan,"Bu mentri tuh suruh istri-istri anggota DPR/DPRD dan istri-istri pejabat kasih contoh...jangan foya-foya pakai barang bermerek." Dalam pernyataannya akhir pekan lalu, Lukman mengatakan,"Pesan saya untuk tidak menuntut berlebihan hal yang terkait material di luar kewajaran, itu sudah kontribusi luar biasa oleh wanita." Seorang penulis drama dan aktivis perempuan Faiza Mardzoeki menyebut pernyataan Lukman seksis. Pernyataan itu seksis dan keliru total, urusan korupsi tak ada hubungannya dengan perempuan yang mau beli a, b, c. Materialistik bukan hanya kepentingan perempuan saja," kata Faiza kepada BBC Indonesia. "Kenapa yang dibicarakan di depan adalah tuduhan terhadap para istri untuk tidak materialistis. Sumber korupsi adalah sistem yang memungkinkan orang-orang itu korupsi." "Tak adil kalau dibilang perempuan jangan materialistis. Kenapa gak bilang, suami jangan melakukan korupsi karena itu kejahatan dan melanggar aturan, tak usah bawa perempuan materialistis atau tidak," tegas Faiza. Namun sejumlah komentar lain memuji Lukman Hakim termasuk Syukri Ady Tonra yang menulis melalui Facebook, "Ini hanya salah satu indikator dari berbagai karakteristik manusia. Ada benarnya juga, meskipun tidak semua wanita." Sedangkan Theresia Suyasning yang mengatakan, "Saya sangat respect sekali kepada bapak. Sangat menghargai perbedaan. Maju terus Pak." Ada sindiran berjudul ‘Suami-suami Takut Istri’. Nampaknya, hal ini menjadi benar karena kebanyakan pejabat takut istrinya. Ini berbahaya, bagi sang pejabat yang beristri kurang penuh imamnya dan separuh moral pengabdiannya kepada bangsa dan Negara. Sebab, sifat manusia yang sedang berkuasa cenderung ingin menumpuk harta dan kekayaan serta menyalahgunakan kekuasaan (abuse of power). Pengamat sosial Syukriy Abdullah sepakat dengan sindiran tersebut. Apalagi, yang tidak tahan terhadap godaan setan. Maklum, meski awalnya sang suami adalah sosok pejabat yang jujur dan amanat, tapi lama kelamaan bisa menjadi curang dan khianat akibat penagruh sang istri yang mendampinginya. Pengaruh istri sangatlah besar bagi seorang pejabat. Kalau sang istri memiliki sifai yang rakus dan serakah, maka ia bisa mendorong suaminya untuk menyimpang dari kewenangan jabatannya. Tak pelak, suami pun terjerumus korupsi jika menuruti istri yang kemaruk harta dan ‘surga dunia’. Akhirnya, suami melakukan KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) yang diharamkan era reformasi. Suap dari mana pun selalu di nanti-nanti. Sebaliknya, bagi pejabat yang beristri cukup imam dan memiliki moral lumayan, pastilah ia selalu mencagah suaminya apabila hendak melangkah kedalam kesalahan. Melarang suami menerima suap dan berbuat korup. Karena sadar bahwa jabatan adalah amanat kepercayaan yang diberikan rakyat serta titipan Tuhan. (BBC/RED)





























