Ada Proxy War di Balik Aksi Abu Sayyaf ?

Direktur Maritime Research Institute (MARIN) Nusantara, Makbul Muhammad memaparkan, Laut Asia Tenggara merupakan jalur pelayaran terpadat di dunia. 50 persen perdagangan dunia melewati laut Asia Tenggara, yang melewati Selat Malaka, Laut Cina Selatan, dan Perairan Sulu. Kondisi geografis kepulauan di Asia Tenggara, menurut dia, menjadikan Negara-negara di kawasan ini disibukkan dengan politik internasional berdimensi maritim, seperti sengketa Laut Cina Selatan dan aksi-aksi kejahatan dalam bentuk ancaman non negara yaitu terorisme, perompakan dan bajak laut telah menjadi perhatian. “Secara kasat mata ancaman di laut motifnya adalah ekonomi, seperti dilakukan kelompok Abu Sayyaf yang membajak kapal Indonesia dan menyandera ABK di kapal itu serta meminta tebusan sebesar 50 juta peso (setara Rp14,3 miliar),” tandasnya, Senin (24/4/2016). Ia mengemukakan, Admiral Alfed Mahan dalam teorinya tentang sea power mengatakan "siapa yang menguasai laut maka akan menguasai dunia". Apakah para teroris di laut sedang mengilhami teori ini untuk menguasai dunia? Atau hanya sekedar proxy untuk menguntungkan kepentingan tertentu. “Kecenderungan politik luar negeri Filipina memilih beraliansi dgn Amerika serikat, bahkan dalam bidang pertahanan memberikan keleluasaan kepada militer AS untuk membangun pangkalan militer di Filipina. Lalu apakah dgn eksistensi pangkalan militer AS di filipina, AS tdk menganggap kelompok Abu Sayyaf sebagai ancaman nyata keamanan maritim?” paparnya. “Seperti sikap politik militer AS yang menyatakan perang terhadap ISIS. Padahal AS selalu mendengungkan bahwa dalam dimensi ancaman keamanan, keselamatan dan lingkungan dalam domain maritim seharusnya laut dikelola secara bersama,” jelas Direktur MARIN Nusantara. Makbul berharap, Pemerintah indonesia harus segera menyampaikan darurat maritim di kawasan Asia Tenggara. “Dengan sikap politik luar negeri seperti itu, maka armada perang Indonesia harus dikerahkan mengawal kapal-kapal niaga. agar domain keamanan maritim Indonesia mencakup laut kedaulatan serta lintasan kapal-kapal niaga indonesia di laut interanasional,” tuturnya. (Red) 






























