Pembuat Keris di Sumenep Sudah Melek Medsos

Jakarta, Obsessionnews - Tidak banyak yang tahu, Kabupaten Sumenep di ujung Pulau Madura adalah kabupaten yang paling banyak menghasilkan keris. Bahkan produksi keris di Sumenep itu terbesar dan mengusasi pasar di Asia. Demikian disampaikan oleh pakar keris Unggul Sudrajat, dalam serial diskusi publik Komunikonten Institut Media Sosial dan Diplomasi bertema "Bagaimana Meningkatkan Kolaborasi Pengguna Media Sosial Untuk Kepentingan Nasional" yang digelar di Aula GP Anshor, Jalan Kramat Raya No. 65 A Jakarta Pusat, Jumat (22/4/2016). Diawal pembicaraanya, Unggul menyampaikan, zaman dulu keris adalah jenis senjata pusaka yang harus ada sebagai syarat berdirinya sebuah kerajaan. Keris dianggap sebagai senjata pusaka karena memiliki nilai filosofi yang tinggi bagi masyarakat Indonesia khususnya Jawa. "Keris adalah simbol kemakmuran sebuah kerajaan. Keris yang bagus adalah keris yang dibuat era kejayaan sebuah kerajaan. Semisal, kalau di Mataram itu zaman Sultan Agung. Atau kalau di Majapahit itu di era Hayam Muruk," katanya. Namun, ia menyayangkan, keris yang umumnya dikenal sebagai warisan budaya orang Jawa, yakni Yogyakarta dan Solo, kini sudah semakin sedikit dikembangkan. Empu atau atau pembuat keris, justru sekarang paling banyak ada di Sumenep. "Tiga tahun lebih saya di sana, saya melihat potensi pembuatan keris di Sumenep cukup beras, grafiknya dari tahun 2010 terus naik. Keris di Sumenep memasok pasaran di Asia," tuturnya. Unggal mengatakan, pemasaran keris di Sumenep dari tahun ke tahun semakin bagus, setelah para empu ini melek teknologi internet. Mereka menggunakan media sosial untuk mempromosikan hasil karyanya. Dengan begitu, keris dari Sumenep semakin terkenal. "Empu di Sumenep itu rata-rata adalah lulusan SD atau pesantren. Kalau kesana, saya selalu mengingatkan pentingnya medsos sebagai media promosi, agar keris Sumenep dikenal secara luas," tuturnya. Menurut Unggul, medsos saat ini masih menjadi sarana yang paling efektif untuk mempromosikan sebuah produk bisnis. Hanya saja, ia mengakui masih sedikit yang mau mengunakan Medsos untuk kepentingan tersebut. "Padahal itu penting, sebagai kolaborasi meningkatkan kepentingan nasional, seperti keris yang sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya Indonesia," tutupnya. Serial diskusi Komunikonten juga dihadiri oleh pembicara lain, yakni Yaqut Cholil (Ketua GP Anshor), Andri Sofyansyah (Sutradara Film, Beauty an The Best) Anisa Junaidi (Inisiator Forum Komunikasi Komunitas-komunitas di Sumatera Barat @SocmedSumbar), Chamat Hojin (Jurnalis), Hariqo Wibawa Satria (Direks Komunikonten) dan di moderatori oleh Hafyz Marsal. (Albar)





























