Terungkap Niat Yusril Nyagub di Pilkada DKI

Jakarta, Obsessionnews – Munculnya pakar hukum tata negara, Yusril Ihza Mahendra, sebagai bakal calon Gubernur DKI Jakarta sempat mengagetkan banyak kalangan. Yusril yang merupakan tokoh nasional dan lebih dikenal sebagai seorang advokat, tiba-tiba muncul ke permukaan. Sebuah video yang diunggah akun AYKAVIDEOS CHANNEL di Youtube, mengungkapkan niat Yusril mengikuti kompetisi Pilkada yang akan dihelat 2017 mendatang. Video berdurasi 17:47 menit yang berjudul ‘Video Prof. Yusril Kampanye Pencalonan Gubernur DKI Jakarta 2017’ itu kini tersebar secara viral di media sosial. Dalam video yang dibuat oleh akun Markaz Syariah itu, tampak Yusril berbicara di depan jamaah saat diundang bersilaturahim oleh Majelis Tinggi Jakarta Bersyari'ah di Markaz Syariah DPP Front Pembela Islam Petamburan sekaligus taklim rutin bulanan, Minggu (3/4/2016). https://www.youtube.com/watch?v=IQRFlNsTlD0 Ketua Umum Partai Bulan Bintang itu mengatakan, niatnya mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta pada Pilkada tahun 2017 didasari oleh munculnya persoalan umat Islam dan bangsa Indonesia. “Kalau ditanya, apa yang ingin diwujudkan oleh Yusril di Jakarta, maka saya jawab, saya ingin mewujudkan keadilan. Ini prinsip bagi kita, karena Islam adalah agama keadilan,” ujarnya. Kemudian Yusril menukil sabda Nabi Muhammad Saw. tentang keadilan. “Rasulullah Saw. mengatakan bahwa adil itu ialah berikan sesuatu kepada seseorang apa yang menjadi haknya. Dan cabutlah dari seseorang apa yang bukan menjadi haknya,” katanya. Yusril mengaku pernah melakukan riset tentang Pakistan di era Zulfikar Ali Butho dan Zia Ul Haq. Persoalan ketika itu, menurut Yusril, ada 95 persen tanah di Pakistan dikuasai oleh 3 persen orang Pakistan yang disebut kaum Zamindar atau tuan tanah. “Kaum tuan tanah ini dulunya Kasta Brahmana yang memeluk Islam dan belakangan disebut sebagai kaum Sahib yang memiliki ‘kelas’ paling tinggi. Mereka bermata biru, rambut agak kuning dengan kulit putih dan berbadan tinggi. Mereka ini sangat kaya dan menjadi penyokong partai politik Liga Muslim Pakistan,” kisah Yusril. Problem di Pakistan itu banyak orang miskin karena tidak memiliki tanah. Dan menurutnya, hal itu mirip dengan kondisi yang terjadi di Indonesia saat ini. Berdasarkan data Bank Dunia pada Desember 2015, terdapat 0,28 persen orang Indonesia menguasai 78 persen tanah di Indonesia. “Ini suatu hal yang sangat timpang dan tidak adil,” tegasnya. Menurutnya, setiap kali di Jakarta dikatakan DKI perlu ruang terbuka hijau, maka yang menjadi korban adalah rakyat kecil yang tinggal di suatu kampung. Bahkan, sambungnya, para penggusur tidak peduli lagi apakah kampung itu bersejarah, memiliki nilai spiritual atau tidak, tetap digusur saja dengan alas an kebutuhan ruang terbuka hijau. “Itu yang terjadi pada kampung Luar Batang, Jakarta Utara. Padahal kita tahu kampung dan masjid Luar Batang merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Apa artinya jika di situ ada makam dan masjid tapi di sekelilingnya mal yang megah?” ujarnya. Menurut Yusril, baginya persoalan sejarah itu penting. Tidak hanya sejarah Islam, karena ia juga mengaku berkali-kali datang ke gereja Tugu di Kampung Semper Tanjung Priok dan gereja Sion di dekat Stasiun Kota. “Saya juga menjadi pengurus di Klenteng Petak Sembilan. Semua itu, menurut saya adalah warisan agama-agama yang harus kita hormati, kita harus tetap toleran dan menjaga satu sama lain. Apalagi, kita umat Islam yang mayoritas di Indonesia sudah sepatutnya mengayomi agama lain,” kata Yusril. (Fath @imam_fath)





























