Mengenal Dugong yang Hampir Punah

Bandung, Obsessionnews - Dugong (Dugong dugon) merupakan jenis mamalia laut yang dilindungi dan merupakan salah satu spesies dari 20 spesies prioritas yang menjadi target penting Kementerian Kelautan dan Perikanan. Dugong memiliki ancaman kehidupan yang tinggi. Secara alami Dugong memiliki reproduksi yang lambat.Dibutuhkan waktu 10 tahun untuk menjadi dewasa dan 14 bulan untuk melahirkan satu individu baru pada interval 2,5 - 5 tahun. Ancaman lainnya yaitu tertangkapnya Dugong secara tidak sengaja oleh alat tangkap perikanan (bycatch), perburuan masif untuk pemanfaatan daging, taring serta air mata Dugong yang disinyalir memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi;Secara Nasional,Dugong dilindungi melalui UU No.5 Tahun 1990 tentang konservasi sumber daya hayati dan ekosistemnya serta UU No. 31 Tahun 2004 tentang perikanan. Sedangkan secara internasional, Dugong telah terdaftar di dalam ‘Global Red List of IUCN’ sebagai ‘Vulnerable to extinction’ atau rentan terhadap kepunahan dan juga telah masuk dalam Appendix I CITES (the Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) yang berarti bagian tubuh Dugong tidak dapat diperdagangkan dalam bentuk apapun.
Tujuan dari penyelenggaraan Simposium Nasional Dugong dan Habitat Lamun 2016 adalah: Mengumpulkan informasi terkini mengenai aspek biologi, ekologi, ancaman, dan pemanfaatan Dugong serta habitat lamunnya di Indonesia;Menentukan status terkini tentang populasi dan pengelolaan Dugong serta habitat lamunnya;Menginisiasi dan memperkuat jejaring pemerhati Dugong di Indonesia, yang terdiri dari perumus kebijakan, akademisi, peneliti, dan praktisi;Menyusun rekomendasi dan panduan teknis mengenai metode survei serta monitoring populasi Dugong dan habitat lamun.
WWF-Indonesia adalah organisasi konservasi nasional yang mandiri dan merupakan bagian dari jaringan global WWF. Mulai bekerja di Indonesia pada tahun 1962 dengan penelitian Badak Jawa di Ujung Kulon, WWF-Indonesia saat ini bergiat di 28 wilayah kerja lapangan di 17 propinsi, mulai dari Aceh hingga Papua. Didukung oleh sekitar 500 staff, WWF-Indonesia bekerja bersama pemerintah, masyarakat lokal, swasta, LSM, masyarakat madani, dan publik luas. Sejak 2006 hingga 2013, WWF Indonesia didukung oleh sekitar 64.000 supporter di dalam negeri. (Dudy Supriyadi)
Tujuan dari penyelenggaraan Simposium Nasional Dugong dan Habitat Lamun 2016 adalah: Mengumpulkan informasi terkini mengenai aspek biologi, ekologi, ancaman, dan pemanfaatan Dugong serta habitat lamunnya di Indonesia;Menentukan status terkini tentang populasi dan pengelolaan Dugong serta habitat lamunnya;Menginisiasi dan memperkuat jejaring pemerhati Dugong di Indonesia, yang terdiri dari perumus kebijakan, akademisi, peneliti, dan praktisi;Menyusun rekomendasi dan panduan teknis mengenai metode survei serta monitoring populasi Dugong dan habitat lamun.
WWF-Indonesia adalah organisasi konservasi nasional yang mandiri dan merupakan bagian dari jaringan global WWF. Mulai bekerja di Indonesia pada tahun 1962 dengan penelitian Badak Jawa di Ujung Kulon, WWF-Indonesia saat ini bergiat di 28 wilayah kerja lapangan di 17 propinsi, mulai dari Aceh hingga Papua. Didukung oleh sekitar 500 staff, WWF-Indonesia bekerja bersama pemerintah, masyarakat lokal, swasta, LSM, masyarakat madani, dan publik luas. Sejak 2006 hingga 2013, WWF Indonesia didukung oleh sekitar 64.000 supporter di dalam negeri. (Dudy Supriyadi) 




























