Korban Penggusuran Luar Batang Butuh Bantuan Sembako dan Biaya Sekolah Anak

Korban Penggusuran Luar Batang Butuh Bantuan Sembako dan Biaya Sekolah Anak
Jakarta, Obsessionnews - Pemerintah DKI Jakarta telah berhasil menggusur pemukiman masyaralat luar Batang, Senin (11/4/2016), dengan alasan penataan dan atau relokasi. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara  pengurus Posko Mesjid Jami luar Batang Hermawan (40) oleh M Hatta Taliwang di tempat penggusuran kampung Akuarium dan sekitaran luar Batang penjaringan Jakarta Utara ditemukan ribuan penduduk yang digusur, hidup di atas puing bangunan atau di atas perahu. Menurut Hatta Taliwang, dari penggusuran itu ada beberapa alasan kemanusiaan yang mesti diperhatikan pemerintah setempat.  Alasan kemanusiaan itu mestinya pemerintah DKI memberikan solusi kepada 300 siswa SMP yang akan mengikuti ujian nasional.  Pasca penggusuran itu warga setempat kehilangan mata pencaharian mereka, dan ini tidak diharapkan mereka sebagai tunawisma dan hidup dari belas kasihan orang lain. "Terlepas dari alasan hukum tapi ada alasan kemanusiaan. Kasusnya bahwa penggusuran dilakukan tidak menunggu para siswa (SMP) selesai mengikuti ujian nasional. Warga yang turun temurun bahkan diduga sudah ratusan tahun tinggal dikawasan itu tidak diberikan semacam bantuan atau uang kerohanian. Pemerintah juga tidak memikirkan dampak terhadap mata pencaharian dan pekerjaan mereka," katanya, Rabu, (20/4/2016). Namun sesungguhnya pemerintah DKI telah menyiapkan Rusunawa bagi warga yang digusur, meski menurut Hatta Taliwang, Rusunawa berimplikasi psikologis sosial dan ekonomi yang sulit disesuaikan. Sedangkan aparat kelurahan dan pemerintah umumnya tidak berani ambil inisiatif membantu masalah kemanusiaan tersebut. "Kerana takut pada perintah Ahok agar tidak menangani korban. Akhirnya mereka memutuskan tidak akan mau menerima bantuan pemerintah dan hanya menerima bantuan dari nonpemerintah. FPI sudah mendirikan Posko dan banyak membantu warga disana. Sementara ini berkat bantuan masyarakat sekitarnya dan pengurus Mesjid Jami Kramat Luar Batang, warga korban gusuran masih  bisa makan dari dapur umum," ujarnya. Akibat penggusuran itu, ada beberapa masalah mendesak yang dihadapi para korban yakni biaya pendidikan dan ujian para siswa, serta sembako untuk kehidupan sehari-hari apalagi menghadapi bulan ramadhan. "Karena digusur dadakan akhirnya perlengkapan sekolah anak mereka seperti seragam, sepatu, buku, dan pakaian sehari-hari tidak diselamatkan. Mereka juga tidak bisa membayangkan bagaimana menghadapi puasa dan idul fitri tahun ini,"  pungkasnya. Data : 1.Manusia Perahu (korban gusur) laki-laki 112 jiwa tinggal di atas 36 perahu. 2.Manusia Puing tidak tentu jumlahnya. Malam tidur di atas puing-puing reruntuhan gusuran. 3. Manusia Numpang. Tidur di  mesjid atau bangunan dekat mesjid lk 385 KK atau lk 1000 jiwa. Mereka umumnya  penghuni di lahan yang digusur. 4.Yang disalurkan atau ditampung di RUSUNAWA 200 KK dari yang kontrak di tanah yang digusur. (Asma)