Jakarta Butuh Sentuhan Pemimpin Wanita

Jakarta Butuh Sentuhan Pemimpin Wanita
Jakarta, Obsessionnews - Jakarta kota yang keras dan kejam. Untuk itu, Jakarta membutuhkan sentuhan pemimpin wanita yang mampu merealisasikan kebijakan-kebijakannya secara manusiawi, beradab, dan berbudaya. “Saya yakin, sifat kasih dan sayang yang ada pada seorang pemimpin wanita akan mampu menaklukkan keras dan kejamnya Jakarta,” kata anggota Fraksi PKB DPR Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz saat mendampingi Luluk Nur Hamidah mendaftarkan diri sebagai calon gubernur DKI Jakarta di DPD PDI-P, Kamis (20/4/2016). Luluk adalah aktivis perempuan yang saat ini menjabat sebagai Sekjen DPP Perempuan Bangsa, Wakil Ketua PP LKKNU, dan Ketua Masyarakat Ahimsa/Mabinas PB PMII. Pemegang dua gelar master bidang Sosiologi dari Universitas Indonesia dan bidang Administrasi Publik dari Lee Kuan Yew School of Public Policy- NUS Singapore ini juga sering kali tampil sebagai pembicara pada sejumlah konferensi internasional di berbagai negara. “Saya percaya, Luluk dengan pengalamannya di organisasi politik dan sosial akan mampu memimpin Jakarta dengan lebih baik dan manusiawi. Apalagi ditunjang dengan latar belakang akademis yang demikian mumpuni dan pengalaman sebagai pembicara di berbagai belahan dunia, tentunya akan menjadi modal yang sangat penting bagi beliau untuk bisa merealisasikan kebijakan-kebijakan terkait pengelolaan DKI dengan lebih mantap,” ujar Neng Eem. Menurutnya, Jakarta sebagai ibukota Republik Indonesia merupakan wajah dari bangsa Indonesia. Sebagai pusat pemerintahan dan perekonomian, Jakarta memiliki daya tarik yang sangat besar bagi siapapun untuk bukan hanya berkunjung tetapi juga tinggal, menetap, dan berusaha di Jakarta. Inilah yang membuat kehidupan di Jakarta begitu keras dan kejam, karena persaingan yang sangat ketat. “Di sinilah sentuhan kasih sayang seorang pemimpin wanita menjadi sangat penting, karena pendekatan-pendekatan penyelesaian berbagai masalah yang ada di Jakarta yang dilakukan secara maskulin ternyata memunculkan berbagai konflik yang merugikan warga Jakarta sendiri,” tandasnya. Pelaksanaan kebijakan secara tegas, tambahnya, tidaklah harus dengan kasar dan menyakiti, karena dampaknya akan sangat buruk. Pendekatan persuasif yang banyak dilakukan oleh pemimpin-pemimpin wanita, sesuai kodratnya, juga patut dicoba untuk memberikan hasil yang lebih baik. “Luluk sangatlah tepa tuntuk mengembang peran ini (Gubernur DKI Jakarta),” pungkasnya.  (arh, @arif_rhakim)