Ini Empat Strategi Upaya Pengembangan Industri MRO

Ini Empat Strategi Upaya Pengembangan Industri MRO
Jakarta, Obsessionnews- Kementerian Perindustrian telah menyiapkan empat kebijakan strategis dalam upaya pengembangan industri maintenance, repair, and overhaul (MRO) Indonesia ke depan. Hal tersebut dikatakan Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin I Gusti Putu Suryawirawan, Rabu (20/4/2016), yang diharapkan mampu pacu industri komponen dalam negeri. Empat strategi tersebut diantaranya, Pertama, memenuhi ketersediaan komponen pesawat dengan mendorong pembangunan industrinya. Hingga saat ini, beberapa industri komponen pesawat telah tumbuh dan berkembang, yang tergabung dalam Indonesia Aircraft and Component Manufacturer Association (INACOM). “Kami mengharapkan industri MRO, industri jasa penerbangan, industri pesawat terbang bekerjasama dengan INACOM dan memprioritaskan komponen yang diproduksi industri dalam negeri, sehingga akan menghemat devisa dan turut mendorong tumbuhnya industri komponen dalam negeri,” tutur I Gusti, Rabu (20/4) Kedua, peningkatan jumlah sumber daya manusia (SDM) industri MRO. Diperkirakan, Indonesia akan membutuhkan sebanyak 12-15 ribu tenaga ahli industri MRO hingga 15 tahun ke depan yang saat ini, sekolah-sekolah teknisi penerbangan di Indonesia hanya menghasilkan 200 tenaga ahli per tahun, sedangkan kebutuhannya mencapai 1.000 orang per tahun. “Kementerian Perindustrian akan melakukan kerjasama atau bersinergi dengan kementerian terkait untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas SDM industri MRO,” ujarnya. Di samping itu, Kemenperin akan memberikan dukungan melalui fasilitasi untuk peningkatan kemampuan dan kompetensi SDM kedirgantaraan nasional agar memenuhi kualifikasi dan standar nasional maupun international yang telah ditetapkan. Ketiga, diperlukan pembangunan aerospace park atau kawasan Industri kedirgantaraan yang terintegrasi untuk mendukung industri kedirgantaraan dalam negeri. “Dalam aerospace park tersebut,  terdapat industri pesawat udara, industri komponen pesawat udara, industri MRO, industri jasa penerbangan dan Industri pendukung lainnya, termasuk perguruan tinggi sebagai tempat pengembangan SDM kedirgantaraan,” jelasnya. Dan yang keempat, pemberian insentif guna peningkatan daya saing industri kedirgantaraan nasional sebagai upaya tumbuh dan berkembang pasar nasional dan Internasional. “Kami mengharapkan industri MRO di Indonesia semakin efisien dalam operasionalnya, dan dapat mencari celah serta terobosan-terobosan baru sehingga memiliki daya saing dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean yang membuat persaingan usaha semakin ketat,” paparnya. Sementara itu, pada kesempatan yang sama Ketua Umum Indonesia Aircraft Maintenance Services Association (IAMSA) Richard Budihadianto mengatakan, pihaknya akan terus mendorong pemerintah untuk kemajuan industri MRO di Indonesia. “Salah satu kebijakan pemerintah yang dapat dimanfaatkan sebagai peluang bagi industri MRO adalah Paket Kebijakan Ekonomi ke-8 yang telah menjadikan bea masuk 21 pos tarif komponen pesawat udara nol persen. Kebijakan pemerintah ini  menjadi peluang bagi industri MRO‎ mampu bersaing dengan kompetitornya di regional,” ujarnya, Rabu (20/4). Richard menambahkan, adanya insentif dari pemerintah diharapkan dapat memberikan peluang besar bagi industri MRO di Indonesia dalam merebut pasar karena biaya perawatan pesawat di dalam negeri lebih kompetitif dibandingkan luar negeri. “Keberadaan Aerospace Park di wilayah-wilayah strategis, juga akan mampu meminimalkan jumlah maintenance spending ke luar negeri sehingga terjadi penghematan devisa dan belanja luar negeri,” tuturnya. Konferensi internasional tahunan yang kali ini mengusung tema “The Next Step Forward for Indonesia MRO Industry” dihadiri sebanyak 400 peserta, yang merupakan para pelaku bisnis aviasi, MRO dan regulator dari kurang lebih 15 negara. AMROI 2016 merupakan event aviation pertama di Indonesia yang bersifat diskusi panel dan buyer’s meeting, dimana para narasumber saling berinteraksi untuk membahas isu-isu dan strategi yang berkaitan dengan perkembangan industri penerbangan dan industri MRO Indonesia serta penguatan industri tersebut ke depannya.(Aprilia Rahapit)