UKM Indonesia Disiapkan Tembus Pasar Amerika

Jakarta, Obsessionnews - Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM I Wayan Dipta mengatakan, pihaknya benar-benar concern mendorong produk UKM yang berkualitas dan kreatif untuk masuk ke pasar ekspor (global) terutama Amerika Serikat. "Kita terus berupaya meningkatkan produktifitas, kualitas, dan standarisasi produk UKM. Bahkan, kita fasilitasi untuk hak ciptanya bekerjasama dengan Kementrian Hukum dan HAM. Jadi, setiap produk UKM yang ikut pameran di luar negeri, sudah kita bekali dengan hak cipta. Terkait merek dan paten juga kita fasilitasi," kata Wayan di Jakarta, Selasa (19/4/2016). Tantangan daya saing lainnya, lanjut Wayan, terkait akses pembiayaan bagi permodalan UKM. Tapi, hal itu sudah bisa diselesaikan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang bunganya hanya 9 persen pertahun. Dia pun berharap ke depan akan semakin banyak produk UKM berorientasi ekspor. "Sekarang bahkan sudah ada KURBE bagi UKM berbasis ekspor yang nilai kreditnya berkisar Rp5 miliar hingga Rp50 miliar tergantung dari kebutuhan masing-masing UKM. Pemerintah sangat perhatian terhadap UKM berorientasi ekspor", pungkas Wayan. Konjen RI untuk New York Winanto Adi menyebutkan bahwa produk asal Indonesia sangat diakui di pasar Amerika Serikat (AS) dari sisi desain produknya. Namun, masih lemah dari sisi mass production process dan pemasarannya (selling). "Itu hasil survei yang pernah kita lakukan di AS terkait produk asal Indonesia. Kita bisa membuat produk bagus, tapi tidak tahu selera pasar yang dituju. Itu yang membuat kita sulit menembus suatu pasar yang kita bidik," ujar Winanto. Dalam Curation Trip ini, Winanto menambahkan, di AS itu sektor ekonominya terbagi dalam dua bagian besar, yaitu wilayah pantai Barat (California, Los Angeles, Seattle, dan lain-lain) dan pantai Timur (New York, Boston, dan lain-lain). "Di wilayah pantai Barat produk UKM Indonesia sudah banyak masuk, karena di wilayah itu banyak penduduk asal Asia. Sementara wilayah pantai Timur, karena letak geografisnya dekat ke Eropa, maka produk Eropa yang banyak masuk. Nah, kita harus masuk melakukan penetrasi pasar ke wilayah pantai Timur ini," jelas Winanto. Dalam kesempatan yang sama, Konsultan Marketing asal AS Jennifer Isaacson menyebutkan bahwa produk handmade/kerajinan kini sedang tren di pasar AS. Masyarakat AS sangat menghargai produk berbasis tradisi. "Ini menjadi peluang bagi produk UKM asal Indonesia," ucap Jennifer. Selain itu, masyarakat AS juga sangat tertarik dengan cerita di balik proses dari produk tersebut. Misalnya, produk ini dibuat oleh petani atau perajin miskin di suatu daerah. Ia menyebutkan bahwa pasar ritel di AS setiap tahun selalu meningkat rata-rata empat persen. Terkait harga, Jennifer juga mewanti-wanti untuk tidak menetapkan harga terlalu murah. Karena, bisa dianggap sebagai produk tidak berkualitas. "Penentuan harga ini amat penting bagi masyarakat AS," tegas dia. Jennifer mengakui, memang tidak mudah untuk menembus pasar AS, tapi juga tidak mustahil bisa sukses di pasar AS. Caranya, harus bisa memahami dengan jelas pasar tersebut. "Harus memahami siapa kostumernya, harus memahami tren di sana, kategori produknya, harus memahami fungsi dari produk itu. Dan ingat, ukuran S-M-L Indonesia dengan AS sangat berbeda. Kita harus mampu menyesuaikan hal itu," papar Jennifer. (Has)





























