BBPT Klaim Miliki Inovasi Lokal Pemantau Penerbangan

Jakarta, Obsessionnews – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melalui Pusat Teknologi Elektronika (PTE), menyebutkan pihaknya memiliki teknologi navigasi surveillance (pemantauan, red) di bandara. Kejadian tabrakan pesawat di Bandara Halim Perdana Kusuma tempo lalu, mestinya dapat dihindari. “Teknologi ini mampu memantau pergerakan pesawat dan kendaraan bergerak lainnya di bandara, baik ketika pesawat sedang melakukan approach pendaratan, ketika sudah mendarat, maupun ketika bergerak di sekitar terminal,” ujar Direktur PTE, Yudi Purwantoro dalam acara ‘Media Gathering Deputi TIEM BPPT’ di gedung BPPT, Jakarta, Selasa (19/4/2016). Lanjut Yudi, keunggulan inovasi BPPT merupakan buatan dalam negeri, kemudian harganya lebih terjangkau tanpa mengorbankan kecanggihan. “Inovasi BPPT ini tetap mengedepankan dan menerapkan teknologi terkini,” tambahnya. [caption id="attachment_118380" align="alignleft" width="401"]
Acara ‘Media Gathering Deputi TIEM BPPT’ di gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta, Selasa (19/4/2016)[/caption] Alat navigasi tersebut dirancang menggunakan komponen yang dapat diperoleh di pasaran. Kemudian juga berbasis software open source atau perangkat lunak berbasis terbuka. Sehingga mudah dalam pemeliharaannya. Selain itu, inovasi ini telah mencapai desain purwarupa dan akan uji fungsi di lapangan dan laboratorium sebagai bagian dari sertifikasi. Yudi juga berharap teknologi tersebut siap diaplikasikan setelah sertifikasi dan ada industri nasional yang melakukan komersialisasi. “Semoga didukung oleh pemangku kebijakan terkait, khususnya dalam hal regulasi. Selain itu juga ada industri nasional yang siap melakukan komersialisasi,” tegasnya. Semoga Inovasi teknologi navigasi udara karya anak bangsa ini segera menjadi solusi bagi dunia aviasi nasional. Diketahui, Pesawat Batik Air registrasi PK-LBS jenis Boing 737-800 NG dengan nomor penerbangan ID 7703 dengan rute penerbangan Halim Perdanakusuma, Jakarta, menuju Bandara Hasanuddin Makasar menambrak pesawat Transnusa pada 4 April 2016 pukul 19.55 WIB. (Popi Rahim, @popirahim29)
Acara ‘Media Gathering Deputi TIEM BPPT’ di gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta, Selasa (19/4/2016)[/caption] Alat navigasi tersebut dirancang menggunakan komponen yang dapat diperoleh di pasaran. Kemudian juga berbasis software open source atau perangkat lunak berbasis terbuka. Sehingga mudah dalam pemeliharaannya. Selain itu, inovasi ini telah mencapai desain purwarupa dan akan uji fungsi di lapangan dan laboratorium sebagai bagian dari sertifikasi. Yudi juga berharap teknologi tersebut siap diaplikasikan setelah sertifikasi dan ada industri nasional yang melakukan komersialisasi. “Semoga didukung oleh pemangku kebijakan terkait, khususnya dalam hal regulasi. Selain itu juga ada industri nasional yang siap melakukan komersialisasi,” tegasnya. Semoga Inovasi teknologi navigasi udara karya anak bangsa ini segera menjadi solusi bagi dunia aviasi nasional. Diketahui, Pesawat Batik Air registrasi PK-LBS jenis Boing 737-800 NG dengan nomor penerbangan ID 7703 dengan rute penerbangan Halim Perdanakusuma, Jakarta, menuju Bandara Hasanuddin Makasar menambrak pesawat Transnusa pada 4 April 2016 pukul 19.55 WIB. (Popi Rahim, @popirahim29)




























