Panama Papers, IMF Tekankan Perusahaan Multinasional Transparan

Jakarta, Obsessionnews - Seketika temuan hasil investigasi sebuah organisasi wartawan global, International Consortium of Investigative Journalists, sebuah koran dari Jerman SüddeutscheZeitung dan lebih dari 100 organisasi pers dari seluruh dunia menggegerkan dunia dengan membocorkan skandal Panama Papers. Bocornya dokumen skandal pajak Panama Papers membuat Kepala Dana Moneter Internasional (IMF) Chistine Lagarde angkat bicara. Melalui kegiatan panel pertemuan musim semi IMF dan Bank Dunia ia mengimbau agar perusahaan-perusahaan multinasional untuk lebih transparan mengenai laporan keuangannya. "Ini harus menjadi perhatian utama. Apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah ini adalah transparansi," ucapnya sebagaimana dilansir dari Channel News Asia, Senin (18/4/2016). Largarde mengatakan untuk menindak lanjuti persoalan itu, IMF akan bekerja sama dengan lembaga-lembaga keuangan lainnya untuk menemukan solusi penanganya. "Kami tentu tertarik untuk mengusulkan beberapa perubahan (regulasi) bersama dengan lembaga-lembaga internasional lainnya," tuturnya. Dikabarkan ada 128 politikus dan pebajabat publik dari seluruh dunia namanya tercantum dalam jutaan dokumen yang dibocorkan itu. Total catatan yang terbongkar mencapai 11,5 juta dokumen. Mereka terkait dengan berbagai perusahaan gelap yang sengaja didirikan di wilayah-wilayah surga bebas pajak (tax havens). Bukan saja politikus tapi sejumlah mafia narkoba, selebriti, bintang olahraga kelas dunia, perusahaan ternama, bahkan milader telah menjajakan kerahasiaan finansial mereka pada firma hukum dengan menggunakan jasa perusahaan offshore di negara tax haven (bebas pajak). Disebutkan juga sedikitnya 34 orang dan perusahaan gelap yang masuk daftar hitam pemerintah Amerika Serikat terlibat di panama papers. Bahkan berdasarkan temuan terbaru yang dilaporkan anti kemiskinan Oxfam menyebutkan perusahaan raksasa Apple dan General Electric ikut terlibat dalam menggunakan jasa perusahaan offshore di negara tax haven (bebas pajak) untuk mengurangi kewajiban pajaknya sekitar US$1,4 triliun periode 2008 hingga 2014. Data yang diperoleh dan dibocorkan konsorsium jurnalis global ini berisi informasi sejak 40 tahun lalu (1977 sampai awal 2015), dimana keberadaan perusahaan itu dikendalikan oleh perdana menteri dari Islandia dan Pakistan, Raja Arab Saudi, dan anak-anak Presiden Azerbaijan. (Asma)





























