Jejak Gunung Api Purba yang Hampir Punah

Purwokerto - Gunungapi aktif maupun gunungapi purba merupakan salah satu potensi geowisata yang cukup menarik untuk dikembangkan di Pulau Jawa, khususnya di wilayah Jawa Tengah, dan akhir-akhir ini memang menjadi topik perbincangan yang menarik dari para wisatawan lokal maupun domestik maupun dikalangan para travellers, seperti gunungapi purba Ngelanggaran di Wonosari Yogyakarta. Fadlin ST MEng, Dosen Teknik Geologi, Universitas jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Jawa Tengah, dalam paparannya kepada obsessionnews.com, Senin (18/4/2016), mengemukakan keberadaan fenomena geologi tersebut dikontrol oleh aktivitas tektonik sejak jutaan bahkan puluhan juta tahun yang lalu dan seyogyanya dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin sebagai sumber daya untuk pengembangan ilmu pengetahuan maupun mendukung pengembangan objek wisata alam beraspek geologi yang lebih dikenal sebagai geowisata. “Tanjung Karang Bata yang berada di Desa Karang Duwur Kecamatan Ayah Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah adalah salah satu potensi geowisata yang dimiliki pemerintah Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Tanjung Karang Bata merupakan fenomena geologi yang cukup unik yaitu berupa lava dengan tekstur kekar kolom (Colummnar Joint) dengan bentuk persegi enam (hexagonal) yang tersusun indah dan berbaris begitu rapi memagari ombak yang menerjang kuat kearah perbukitan Manganti,” paparnya.
Ia mengemukakan, lava dengan tekstur kekar kolom ini merupakan salah satu bukti jejak kehadiran gunungapi purba yang terdapat di Dome Karangbolong Kebumen yang terbentuk kurang lebih 50 juta tahun yang lalu. Jika melihat kondisi saat ini Tanjung Karangbata sudah mengalami abrasi yang cukup kuat, sehingga lama kelamaan akan habis tergerus ombak mengingat kondisinya yang terlapukankan sangat kuat atau sudah cukup rapuh. Untuk itu, jelasnya, pemerintah setempat perlu melakukan kegiatan Konservasi Geologi terhadap objek Geowisata tersebut dengan tujuan untuk mengelola, menjaga, melindungi, dan melestarikan keberadaan objek Geowisata Tanjung Karangbata yang mempunyai keunikan, kelangkaan, dan keajaiban secara fenomena alam yang bernilai tinggi ditinjau dari aspek geologi.
Selain melakukan kegiatan konservasi terhadap objek geowisata tersebut, menurut dia, pemerintah setempat juga perlu melakukan strategi khusus dalam mengembangkan geowisata di daerah tersebut seperti : • Pengembangan sarana penunjang kawasan geowisata yang bertujuan untuk membuat atau memperbaharui sarana-sarana penunjang untuk tercapainya kawasan geowisata. • Pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan geowisata yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat melalui pendidikan yang terkait dengan geowisata. • Pemberian wawasan lingkungan terhadapa masyarakat yang bertujuan untuk menyadarkan masyarakat sekitar terhadap sumber daya lingkungan yang ada juga untuk mengetahui potensi alam tersebut.
Diungkapkan pula, Cekungan Banyumas memiliki banyak potensi geowisata baik yang sudah terekspos maupun yang belum terekspos, sehingga perlu dan wajib untuk di kembangkan sebagai salah satu jalan untuk membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi pemerintah setempat. Potensi Geowisata lainya yang masih belum terekspos di wilayah cekungan Banyumas membutuhkan kajian kajian teknis secara keilmuan.
Dalam hal ini, tandas dia, pemerintah setempat perlu melakukan kerjasama dengan instansi yang memiliki kompetensi di bidang tersebut seperti salah satunya adalah Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Jawa Tengah, yang juga merupakan salah satu kampus yang memiliki Juruan Teknik Geologi yang ada di lingkar cekungan Banyumas dan yang selalu konsen melakukan penelitian di bidang Sumberdaya Geologi di Cekungan Banyumas (Kebumen, Purbalingga dan Banyumas maupun Kota Purwokerto). (Red)
Ia mengemukakan, lava dengan tekstur kekar kolom ini merupakan salah satu bukti jejak kehadiran gunungapi purba yang terdapat di Dome Karangbolong Kebumen yang terbentuk kurang lebih 50 juta tahun yang lalu. Jika melihat kondisi saat ini Tanjung Karangbata sudah mengalami abrasi yang cukup kuat, sehingga lama kelamaan akan habis tergerus ombak mengingat kondisinya yang terlapukankan sangat kuat atau sudah cukup rapuh. Untuk itu, jelasnya, pemerintah setempat perlu melakukan kegiatan Konservasi Geologi terhadap objek Geowisata tersebut dengan tujuan untuk mengelola, menjaga, melindungi, dan melestarikan keberadaan objek Geowisata Tanjung Karangbata yang mempunyai keunikan, kelangkaan, dan keajaiban secara fenomena alam yang bernilai tinggi ditinjau dari aspek geologi.
Selain melakukan kegiatan konservasi terhadap objek geowisata tersebut, menurut dia, pemerintah setempat juga perlu melakukan strategi khusus dalam mengembangkan geowisata di daerah tersebut seperti : • Pengembangan sarana penunjang kawasan geowisata yang bertujuan untuk membuat atau memperbaharui sarana-sarana penunjang untuk tercapainya kawasan geowisata. • Pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan geowisata yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat melalui pendidikan yang terkait dengan geowisata. • Pemberian wawasan lingkungan terhadapa masyarakat yang bertujuan untuk menyadarkan masyarakat sekitar terhadap sumber daya lingkungan yang ada juga untuk mengetahui potensi alam tersebut.
Diungkapkan pula, Cekungan Banyumas memiliki banyak potensi geowisata baik yang sudah terekspos maupun yang belum terekspos, sehingga perlu dan wajib untuk di kembangkan sebagai salah satu jalan untuk membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi pemerintah setempat. Potensi Geowisata lainya yang masih belum terekspos di wilayah cekungan Banyumas membutuhkan kajian kajian teknis secara keilmuan.
Dalam hal ini, tandas dia, pemerintah setempat perlu melakukan kerjasama dengan instansi yang memiliki kompetensi di bidang tersebut seperti salah satunya adalah Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Jawa Tengah, yang juga merupakan salah satu kampus yang memiliki Juruan Teknik Geologi yang ada di lingkar cekungan Banyumas dan yang selalu konsen melakukan penelitian di bidang Sumberdaya Geologi di Cekungan Banyumas (Kebumen, Purbalingga dan Banyumas maupun Kota Purwokerto). (Red) 




























