Inilah Etika Tarian Lulo Harus Dipahami Generasi Sultra

Inilah Etika Tarian Lulo Harus Dipahami Generasi Sultra
Jakarta, Obsessionnews - Tarian tradisional Lulo  berasal daerah Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra). Namun, tarian ini sudah membumi di kalangan masyarakat Sultra pada umumnya. Hampir semua acara kemasyarakatan atau keluarga, dan acara muda mudi tarian Lulo digelar oleh masyarakat Sultra. Tarian Lulo digelar untuk mengapresiasikan kebahagiaan dan kesenangan mereka terhadap nikmat atau rezeki yang diperoleh. Kali ini juga dalam memeriahkan ulang tahun ke-52 Sultra  di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta diadakan lomba Lulo spontan dan di akhir acara peserta bersama-sama bergandengan tangan, menari Lulo bersama yang diiringi lagu daerah. Seiring berkembangnya waktu tarian Lulo juga ini bisa diiringi dengan lagu-lagu populer terkini. tarian Lulo2 Sebagai tokoh masyarakat yang juga Mantan Kepala Perhubungan Sultra Sukiman Pabelu yang sempat hadir dalam acara itu, ia memberikan penjelasan mengenai tatakrama dan etika dalam memainkan tarian Lulo. "Lulo itu adalah tarian Konawe tapi sudah dimainkan oleh masyarakat Sultra pada umumnya. Lulo dilakukan untuk mengepresikan kebahagiaan dan kesyukuran kita terhadap berkah yang diperoleh, maka dalam memainkan tarian Lulo, mimik muka harus menunjukan kebahagiaan dan semangat tinggi," katanya saat detik-detik pembacaan juara Lulo spontan, di Anjungan Sultra TMII, Jakarta, Minggu (17/4/2016). Menurutnya untuk anak rantau yang sudah lama meninggalkan kampung mesti tetap memelihara etika dan tatakrama bermain tarian Lulo, sebab Lulo memiliki aturan yang mesti dibudayakan. "Karena permainan tarian lulo ini bergandengan tangan antara satu dan yang lainnya, (laki-laki, perempuan) maka mestinya tangan perempuan diatas tangan laki-laki, itu untuk menghindari senggolan dari tangan laki-laki yang bisa mengena bagian tubuh lain perempuan," jelasnya. tarian Lulo3 Selanjutnya ia menjelaskan secara detail, bila diantara gengaman laki-laki dan perempuan maka tidak boleh laki-laki memutuskan (gabung) genggaman itu. Jika diantara genggaman sesama perempuan dan laki-laki memutuskan genggaman (masuk) itu dibolehkan begitu pula sebaliknya. Jika yang masuk memutuskan genggaman adalah laki-laki, dan perempuan tidak suka pada laki-laki tersebut maka perempuan tidak bisa langsung memutuskan (keluar), tapi harus bersabar dengan terus bermain kurang lebih satu putaran. "Ini untuk menghindari konflik dan ketersinggungan antara satu dengan yang lainnya. Sebab itu sudah diatur dalam etika tarian Lulo," tegasnya. tarian Lulo4 Selain itu ia menambahkan bahwa seseorang juga yang ingin memutuskan (masuk/keluar) tidak boleh melalui belakang dan harus melalui depan. "Itu juga menyangkut etika, yang diterapkan. Meski kami sudah tua namun ini harus dilestarikan karena Lulo ini menyambut dan mengekspresikan kebahagiaan kita, muka harus senang dan semua juga harus senang," harapnya. Ia melihat generasi muda banyak melanggar etika dalam bermain Lulo, tapi kata dia hal itu terjadi karena anak muda tidak mengetahui aturan dan makna Lulo itu. Maka menurutnya penting anak muda mengetahui itu dalam rangka melestarikan budaya lokal. Dalam acara itu Sukiman sebagai juri lomba lulo spontan peringatan HUT ke-52 Sultra di TMII. Dalam acara ini juga panitia membagikan door prize  pada peserta undangan yang hadir. (Asma, @asmanurkaida)