Pembangunan Infrastruktur di Indonesia 'Lelet' Karena Aturan 'Ribet'

Bandung, Obsessionnews - Bangsa Indonesia bisa hebat jika ada inovasi-inovasi dalam regulasi. Lambannya pembangunan dalam segala hal termasuk pembangunan infrastruktur di Indonesia bisa dari faktor regulasi (pengaturan). Hal itu dikatakan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil saat menjadi pembicara seminar nasional dan rakernas 2016 federasi serikat pekerja sinergi BUMN di GH Universal Hotel, Bandung, Rabu (13/4/2016). "Indonesia bisa hebat jika kita berinovasi di regulasi. Banyak regulasi belum tentu baik," ujarnya. [caption id="attachment_116540" align="alignleft" width="252"]
Wali Kota Ridwan Kamil.[/caption] Ridwan menggambarkan pelaksanaan KAA tahun lalu, dengan etos kerja yang cepat dan beberapa inovasi aturan persiapan KAA hanya dalam waktu dua bulan. Menurutnya, sekitar 20 proyek yang jika dikerjakan secara dengan normal, bisa memakan waktu satu setengah tahun, KAA tahun lalu hanya dilakukan dua tahunan saja. "Intinya harus ada inovasi aturan, perayaan KAA memberikan hikmah, jangan jangan yang bikin Indonesia lamban itu karna sistem kita sendiri," ujarnya. Ridwan menjelaskan, dalam hal pembiayaan pembangunan kota misalnya yang masih memakai pola komvensional. Tidak seperti di Indonesia, di negara-negara lain seperti di Inggris, Kanada, Korea, infrastruktur semuanya dibiayai oleh swasta. Kota itulah yang membayar kontrak jangka panjang. Hal itu menjadikan perubahan datang lebih cepat, cashflow tidak terganggu dan ekonomi terus bergerak. Ia pun mengajak agar seluruh BUMN untuk bergerak dan menggunakan cara cara baru untuk bekerja. "Ada cara cara yabg belum pernah selama ini dipegang untuk bangsa ini, Mari bangun negeri ini dengan pola-pola baru dan inovasi baru," tandas Ridwan. Hadir pula dalam seminar nasional Rakernas Serikat Pekerja 2016 tersebut diantaranya Refly Harun, Komisaris Utama PT Jasa Marga, dan pakar hukum Prof Mahfud MD. (Dudy Supriyadi, @dudysupriyadi69)
Wali Kota Ridwan Kamil.[/caption] Ridwan menggambarkan pelaksanaan KAA tahun lalu, dengan etos kerja yang cepat dan beberapa inovasi aturan persiapan KAA hanya dalam waktu dua bulan. Menurutnya, sekitar 20 proyek yang jika dikerjakan secara dengan normal, bisa memakan waktu satu setengah tahun, KAA tahun lalu hanya dilakukan dua tahunan saja. "Intinya harus ada inovasi aturan, perayaan KAA memberikan hikmah, jangan jangan yang bikin Indonesia lamban itu karna sistem kita sendiri," ujarnya. Ridwan menjelaskan, dalam hal pembiayaan pembangunan kota misalnya yang masih memakai pola komvensional. Tidak seperti di Indonesia, di negara-negara lain seperti di Inggris, Kanada, Korea, infrastruktur semuanya dibiayai oleh swasta. Kota itulah yang membayar kontrak jangka panjang. Hal itu menjadikan perubahan datang lebih cepat, cashflow tidak terganggu dan ekonomi terus bergerak. Ia pun mengajak agar seluruh BUMN untuk bergerak dan menggunakan cara cara baru untuk bekerja. "Ada cara cara yabg belum pernah selama ini dipegang untuk bangsa ini, Mari bangun negeri ini dengan pola-pola baru dan inovasi baru," tandas Ridwan. Hadir pula dalam seminar nasional Rakernas Serikat Pekerja 2016 tersebut diantaranya Refly Harun, Komisaris Utama PT Jasa Marga, dan pakar hukum Prof Mahfud MD. (Dudy Supriyadi, @dudysupriyadi69)




























