Patroli Perbatasan Laut Cina Selatan Ditingkatkan

Padang, Obsessionnews - Patroli di wilayah perbatasan ditingkatkan sesuai tingkat kerawanan menyusul ketengangan yang terjadi di Laut Cina Selatan. Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Ade Supandi mengatakan, kekuatan dan frekuensi patroli angkatan laut di wilayah perbatasan telah ditambah sesuai dengan tingkat kerawanan. "Daerah tingkat kerawanan itu, seperti di perairan Sulawesi, serta yang berbatasan dengan Timor Leste,” kata Ade Supandi usai membuka Western Pasific Naval Symposium (WPNS) dalam rangkaian Event Mulrilateral Naval Exercise Komodo (MNEK) 2016, di Padang, Sumatera Barat (Sumbar), Rabu (13/4/2016).
Insiden yang terjadi di wilayah perbatasan Laut Cina Selatan sehingga terjadi ketengan RI dengan Cina, patut menjadi perhatian, karena saat ini masih terdapat segmen batas Indonesia dengan negara tetangga yang masih belum selesai, seperti dengan Malaysia, Vietnam, Singapura, dan Timor Leste. "Sesuai dengan komitmen pengamanan dari Markas Besar TNI, angkatan laut harus hadir melalui operasi pengamanan perbatasan dan pulau terluar," ujarnya. Patroli pengamanan di wilayah perbatasan dilakukan sekaligus untuk mengawasi Zona Ekonomi Eklusif (ZEE). Sementara itu, WPNS sebagai rangkaian MNEK 2016 dihadiri 27 KSAL dari negara-negara Pasifik Barat.
Kasal Buka Simposium Berskala Internasional 'WPNS 2016' Kasal Laksamana TNI Ade Supandi membuka simposium TNI ALberskala internasional yaitu Western Pasific Naval Symposium (WPNS) 2016, di Hotel Inna Muara, Padang Sumatera Barat, Rabu (13/4). WPNS adalah forum komunikasi para Kepala Staf Angkatan Laut negara-negara di Pasifik Barat, yang terdiri dari 27 negara melalui kegiatan workshop dan simposium yang terus dilaksanakan secara rutin setiap tahun sejak 1988. Indonesia dalam hal ini TNI AL dengan bangga menyelenggarakan 15th Western Pasific Naval Symposium 2016 (15th WPNS 2016) untuk pertama kali setelah 37 tahun forum berdiri yang dilaksanakan selama dua hari dengan tema “Maritime Patnership For Stability In Western Pasific Region”. Di hari yang bersamaan juga dilaksanakan pameran Industri Kreatif “Maritim Expo” yang juga dibuka Kasal.
Tujuan dari kegiatan ini adalah meningkatkan kerja sama dan kemampuan dalam pelaksanaan operasi Angkatan Laut sehari-hari anggota WPNS guna membangun saling percaya antara Angkatan Laut melalui kerangka kerja sama dalam rangka diskusi tentang isu-isu maritime dalam hal ini kepentingan bersama, pertukaran informasi, pelatihan dan pertukaran personel. Sebelumnya, pelaksanaan 14th WPNS 2014 telah dilaksanakan di Qingdao, pada 2014 lalu. Pada kesempatan yang berharga ini pula, Kasal Laksamana TNI Ade Supandi ditunjuk menjadi Chairman 15th WPNS. Secara umum tugas sebagai Chairman 15th WPNS adalah memimpin pelaksanaan simposium dan memberikan keputusan berdasarkan Minutes WPNS Workshop 2016 yang telah diselenggarakan pada 26-27 Januari 2016 yang lalu di Jakarta.
Melalui forum WPNS, Kasal berharap Indonesia dalam hal ini TNI Angkatan Laut dapat menunjukan peran aktif dalam melaksanakan diplomasi militer dalam rangka merespon perkembangan Maritime Security di wilayah barat pasifik. Sekaligus mendukung kebijakan Poros Maritim Dunia yang merupakan aplikasi kebijakan luar negeri Indonesia yang berdampak lokal dan regional. “TNI Angkatan Laut terus melaksanakan Strategi Diplomasi Maritim guna mewujudkan Pertahanan Maritim melalui forum kerja sama dan kemitraaan antar Angkatan Laut di wilayah regional Pasifik Barat. Dan selanjutnya 16th WPNS 2018 yang akan datang dilaksanakan di Busan, Korea Selatan,” ujar Kasal. (Musthafa Ritonga/@alisakinah73) 
Insiden yang terjadi di wilayah perbatasan Laut Cina Selatan sehingga terjadi ketengan RI dengan Cina, patut menjadi perhatian, karena saat ini masih terdapat segmen batas Indonesia dengan negara tetangga yang masih belum selesai, seperti dengan Malaysia, Vietnam, Singapura, dan Timor Leste. "Sesuai dengan komitmen pengamanan dari Markas Besar TNI, angkatan laut harus hadir melalui operasi pengamanan perbatasan dan pulau terluar," ujarnya. Patroli pengamanan di wilayah perbatasan dilakukan sekaligus untuk mengawasi Zona Ekonomi Eklusif (ZEE). Sementara itu, WPNS sebagai rangkaian MNEK 2016 dihadiri 27 KSAL dari negara-negara Pasifik Barat.
Kasal Buka Simposium Berskala Internasional 'WPNS 2016' Kasal Laksamana TNI Ade Supandi membuka simposium TNI ALberskala internasional yaitu Western Pasific Naval Symposium (WPNS) 2016, di Hotel Inna Muara, Padang Sumatera Barat, Rabu (13/4). WPNS adalah forum komunikasi para Kepala Staf Angkatan Laut negara-negara di Pasifik Barat, yang terdiri dari 27 negara melalui kegiatan workshop dan simposium yang terus dilaksanakan secara rutin setiap tahun sejak 1988. Indonesia dalam hal ini TNI AL dengan bangga menyelenggarakan 15th Western Pasific Naval Symposium 2016 (15th WPNS 2016) untuk pertama kali setelah 37 tahun forum berdiri yang dilaksanakan selama dua hari dengan tema “Maritime Patnership For Stability In Western Pasific Region”. Di hari yang bersamaan juga dilaksanakan pameran Industri Kreatif “Maritim Expo” yang juga dibuka Kasal.
Tujuan dari kegiatan ini adalah meningkatkan kerja sama dan kemampuan dalam pelaksanaan operasi Angkatan Laut sehari-hari anggota WPNS guna membangun saling percaya antara Angkatan Laut melalui kerangka kerja sama dalam rangka diskusi tentang isu-isu maritime dalam hal ini kepentingan bersama, pertukaran informasi, pelatihan dan pertukaran personel. Sebelumnya, pelaksanaan 14th WPNS 2014 telah dilaksanakan di Qingdao, pada 2014 lalu. Pada kesempatan yang berharga ini pula, Kasal Laksamana TNI Ade Supandi ditunjuk menjadi Chairman 15th WPNS. Secara umum tugas sebagai Chairman 15th WPNS adalah memimpin pelaksanaan simposium dan memberikan keputusan berdasarkan Minutes WPNS Workshop 2016 yang telah diselenggarakan pada 26-27 Januari 2016 yang lalu di Jakarta.
Melalui forum WPNS, Kasal berharap Indonesia dalam hal ini TNI Angkatan Laut dapat menunjukan peran aktif dalam melaksanakan diplomasi militer dalam rangka merespon perkembangan Maritime Security di wilayah barat pasifik. Sekaligus mendukung kebijakan Poros Maritim Dunia yang merupakan aplikasi kebijakan luar negeri Indonesia yang berdampak lokal dan regional. “TNI Angkatan Laut terus melaksanakan Strategi Diplomasi Maritim guna mewujudkan Pertahanan Maritim melalui forum kerja sama dan kemitraaan antar Angkatan Laut di wilayah regional Pasifik Barat. Dan selanjutnya 16th WPNS 2018 yang akan datang dilaksanakan di Busan, Korea Selatan,” ujar Kasal. (Musthafa Ritonga/@alisakinah73) 





























