Sambangi PBNU, Dubes Inggris Ingin Belajar Islam Nusantara

Sambangi PBNU, Dubes Inggris Ingin Belajar Islam Nusantara
Jakarta, Obsessionnews- Pemerintah Inggris ingin belajar Islam Nusantara. Juga kerjasama bidang deradikalisasi, pendidikan, kebudayaan dan kesehatan. Demikian terungkap dalam kunjungan Duta Besar Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik ke PBNU, Jumat (8/4), seperti dilansir laman nu.or.id, Sabtu (9/4). Malik menandatangi Memorandum of Understanding (MoU) atau nota kesepahaman. Di antara poin yang masuk dalam nota kesepahaman adalah deradikalisasi, pendidikan, kebudayaan, dan kesehatan. Azzam menjelaskan bahwa penandatangan nota kesepahaman ini dimaksudkan agar kedua belah pihak bisa saling belajar dan berdiskusi untuk menyelesaikan permasalahan. Baca juga:Anton tak Pernah Sebut Muhammadiyah Pro Teroris Obama Akui Muslim Korban Serangan Teroris Jokowi Ingatkan Dunia Dalam Ancaman Terorisme “Kita harus bekerja bersama untuk melawan dan menghapuskan terorisme dan resiko ekstrimisme. Kita harus banyak saling belajar,” jelas Azzam. “Sebelumnya kita juga sudah bekerjasama dengan pemerintah Indonesia (untuk saling belajar dan berdiskusi), tapi kita melihat masih perlu untuk melakukan kerjasama (dengan NU),” lanjutnya. Dubes Inggris Muslim pertama tersebut menilai bahwa Indonesia bisa menjadi model dan teladan dalam membangun toleransi dan persatuan. Pun, Indonesia memiliki peran yang penting dalam menciptakan perdamian dunia. Ia berharap bisa belajar banyak hal dari Indonesia termasuk diantaranya kepada NU terkait dengan Islam Nusantara. “Kita mendorong NU untuk mengampanyekan Islam Nusantara,” tegas laki-laki keturunan Pakistan tersebut. Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj mengaku senang dan berterima kasih kepada Dubes Inggris atas kerja samanya tersebut. Menurutnya, kerja sama seperti ini perlu ditingkatkan karena masalah yang dihadapi dunia saat ini begitu rumit dan terkait. Dan untuk mempromosikan Islam Nusantara, pengasuh pesantren Ats-Tsaqofah tersebut menjelaskan bahwa NU akan mengadakan pertemuan intenasional para pemimpin Islam moderat pada Mei nanti. Rencananya, acara tersebut akan dihadiri oleh empat puluh pemimpin Islam moderat. Lebih lanjut, Kang Said menerangkan bahwa NU memiliki prinsip untuk menyatukan Islam dan nasionalisme. “Maka dari itu, nasionalisme yang dibawa NU bukanlah nasionalisme yang bersifat sekuler ataupun nasionalisme sosialis, tapi nasionalisme yang religious,” pungkasnya. @reza_indrayana