Dukung Program Perumahan, SMF Alirkan Dana Rp20,25 triliun

Dukung Program Perumahan, SMF Alirkan Dana Rp20,25 triliun
Obsessionnews – PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF terus mencatatkan kinerja yang cemerlang. Betapa tidak? Sepanjang 2015, SMF mengalirkan dana dari pasar modal ke penyalur KPR di sektor pembiayaan perumahan melalui sekuritisasi dan penyaluran pinjaman yang mencapai Rp3,71 triliun. Tak hanya itu, SMF bahkan berhasil menerbitkan EBA-SP untuk yang pertama di Indonesia. Secara kumulatif total akumulasi dana yang dialirkan sampai dengan 31 Desember 2015, mencapai Rp20,25 triliun meningkat 22% dari tahun sebelumnya yaitu Rp16,54 triliun. Dari total akumulasi dana tersebut, sebanyak Rp5,7triliun digunakan untuk mendukung program KPR-FLPP, satu juta rumah yang dicanangkan pemerintah. SMF sebagai perusahaan pembiayaan sekunder perumahan, mengemban visi menjadi entitas mandiri yang mendukung kepemilikan rumah layak dan terjangkau bagi setiap keluarga Indonesia, dengan misi di antaranya membangun dan mengembangkan pasar pembiayaan sekunder perumahan, dan meningkatkan tersedianya sumber dana jangka panjang. “Indikator Kinerja Utama (IKU) SMF diukur dari jumlah dana yang telah tersalurkan dari pasar modal ke sektor pembiayaan perumahan, sehingga tujuan dari pendirian SMF dapat tercapai,” kata Direktur Utama SMF, Raharjo Adisusanto. Raharjo menjelaskan peningkatan kinerja SMF tahun 2015 dicapai melalui kegiatan sekuritisasi sebesar Rp200 miliar, dan penyaluran pinjaman sebesar Rp3,51 triliun, sehingga aset SMF di tahun 2015 menembus angka Rp10 triliun, yakni sebesar Rp10,06 triliun. Posisi penyaluran pinjaman menjadi Rp7,84 triliun, naik 21% dari tahun sebelumnya sebesar Rp6,50 triliun. Adapun laba bersih di tahun 2015, mencapai Rp249 miliar, naik 44% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp173 miliar. “Pencapaian tersebut terhitung sangat baik, mengingat kondisi ekonomi dalam negeri yang melambat di tahun 2015. Pendapatan laba yang diperoleh SMF di tahun 2015 begitu signifikan, meskipun bukan merupakan indikator kinerja utama,” tambah Raharjo. Ya, menghadapi kondisi ekonomi kala itu, Raharjo beserta jajaran memang bekerja ekstra keras. “Dan alhamdulillah lagi kita menyasar masyarakat menengah bawah. Ketika melambat, dampak kepada menengah bawah ini tidak sebesar menengah atas. Beberapa developer lari dari rumah mewah turun ke menengah, itu fakta. BTN yang bermain di menengah ke bawah malah profitnya naik,” terangnya penuh rasa syukur. Sampai dengan 2015 SMF mengucurkan total dana sebesar Rp 14,6triliun yang disalurkan ke 18 institusi perbankan baik bank umum seperti Bank BTN dan Bank DKI serta Bank Syariah seperti Bank Muamalat, Bank BTN Syariah, Bank Mandiri Syariah, Bank BNI Syariah, Bank BRI Syariah, dan Bank BJB Syariah. Tak ketinggalan Bank Pembangunan Daerah (BDP), yang animonya kian meningkat sepanjang 2015, yakni Bank Nagari (BPD Sumbar), BPD NTB, BPD Kalsel, BPD Kalbar, BPD DIY, BPD Jateng, dan BPD Sumut. SMF juga melakukan penandatanganan nota kesepahaman terkait Program Peningkatan Kapasitas Penyaluran Kredit bersama bersama BPD lainnya, yaitu, BPD Bali, BPD Riau Kepri, BPD Sulselbar, BPD Sultra, BPD NTT. Sebelumnya, SMF melakukan penandatangan kesepakatan bersama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, dan Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda), mengenai “Peningkatan Kapasitas Penyaluran Kredit Pemilikian Rumah (KPR) dan Sumber Pembiayaannya untuk Bank Pembangunan Daerah (BPD)”. Selain perbankan, dana tersebut juga disalurkan kepada perusahaan pembiayaan non perbankan, di antaranya, MNC Finance, Finansia Multifinance, dan Ciptadana Multifinance. Pertumbuhan penyaluran pinjaman juga diiringi dengan penerbitan surat utang korporasi sebagai sumber pendanaan. Selama tahun 2015, SMF telah menerbitkan surat utang sebesar Rp1,57 triliun melalui penerbitan obligasi PUB III tahap I, sebesar Rp500 miliar, PUB III tahap II, Rp427 miliar dan tahap III, Rp 600 miliar. Sampai dengan akhir tahun 2015, posisi (outstanding) surat utang SMF mencapai Rp 4,78 triliun. Berdasarkan model bisnisnya, SMF menggunakan ekuitas terlebih dahulu sebagai bridging penyaluran pinjaman, untuk kemudian digantikan dengan dana penerbitan surat utang pada waktu yang tepat. Selain peningkatan kinerja di tahun 2015 SMF juga berhasil mempertegas perannya dalam menjalankan kegiatan sekuritisasi sebagai penerbit efek berangun aset berbentuk surat partisipasi (EBA-SP) pertama, dengan pencatatan perdana EBASP KPR, “SMF-BTN01”, senilai Rp200 miliar di pasar modal. Dalam skema EBA-SP tersebut peran SMF, yaitu sebagai penerbit sekaligus penata sekuritisasi, pendukung kredit, dan investor. “Hal tersebut sesuai mandat pendirian SMF dalam Pepres 1/2008 Jo.19/2005 serta Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 23/POJK.04/2014 sekaligus memperkuat pasar keuangan Indonesia serta mendukung pengembangan basis investor domestik,” ujar Raharjo. Raharjo menargetkan untuk tahun 2016, SMF akan berupaya meningkatkan penyaluran pinjaman pada perbankan syariah dan bank daerah selain perbankan konvensional melalui pendanaan dari pasar Modal. Selain itu, SMF juga berupaya meningkatkan edukasi kepada perbankan untuk melakukan sekuritisasi melalui instrument EBA-SP agar perbankan dapat mengurangi risiko kredit atas KPR akibat adanya risiko mismatch. Melalui sekuritisasi, perbankan memperoleh likuiditasnya kembali sehingga dapat disalurkan lagi ke masyarakat dalam bentuk KPR. Selain itu debitur yang tagihannya disekuritisasi mendapatkan pembiayaan jangka panjang dari pasar modal. “Kontribusi SMF di sektor pembiayaan sekunder perumahan terus ditingkatkan, dimana total aliran dana di 2016 ini ditargetkan mencapai Rp6,1 triliun, yang terdiri dari sekuritisasi sebesar Rp2 triliun, dan penyaluran pinjaman Rp4,1 triliun. Sementara untuk penerbitan surat utang diproyeksikan mencapai Rp2,2 triliun,” ucap Raharjo, optimis. SMF juga memproyeksikan laba bersih tahun 2016 akan tumbuh 51 persen dari realisasi laba 2015 sebesar Rp 248,5 miliar. “Sementara pendapatan tahun 2016 diproyeksi meningkat 9% menjadi Rp 871 miliar,” tandas Raharjo. Pertengahan Maret lalu, satu obligasi milik SMF dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Obligasi Berkelanjutan III Sarana Multigriya Finansial Tahap IV Tahun 2016 dengan Tingkat Bunga Tetap dengan nilai nominal Rp630 miliar. Tidak hanya memberikan kinerja cemerlang, SMF turut melaksanakan program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) dengan mengedepankan prinsip tepat guna dan tepat sasaran. Dana PKBL harus dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat yang membutuhkan untuk mencapai hal tersebut Perseroan telah membentuk Tim PKBL yang bertugas untuk melakukan survey lapangan, pembinaan dan monitoring dana yang telah disalurkan. Pada 2015, SMF menganggarkan Rp800 juta untuk pelaksanaan PKBL 2015 di antaranya adalah pada 12 Februari menyalurkan bantuan sebesar Rp10 juta untuk renovasi Masjid Arrahman, Karang Anyar;dan 21 Maret 2015 menyalurkan bantuan sebesar Rp10 juta untuk kegiatan Bakti Sosial Khitanan Masal dan Santunan Anak Yatim piatu dan Dhuafa bekerjasama dengan Yayasan Khoiru Ummah di Depok. SMF juga memberikan dana bantuan sebesar 19,5 juta pada Ma’had Utsman Bin Affan untuk renovasi tempat wudhu dan toilet khusus wanita. Di bidang kesehatan SMF memberikan perhatian khusus bekerjasama dengan KIMMI ( Komunitas Mitra Medis Indonesia ) PDGI Pusat dan Wilayah Kuningan, serta Dinas Kesehatan Kesehatan Kabupaten Kuningan, Jawa Barat pada tanggal 28 – 29 Oktober 2015 dalam rangka Hari Kesehatan Nasional memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) bakti Sosial Pemeriksaan Gigi Gratis sebanyak 5712 orang, serentak di 6 tempat di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. (Giattri F.P/Men’s Obsession)