Taman Safari Bantah Bius Anak Singa untuk Pengunjung Berfoto

Taman Safari Bantah Bius Anak Singa untuk Pengunjung Berfoto
Bogor, Obsessionnews - Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua, Bogor, Jawa Barat, membantah melakukan pembiusan terhadap anak singa demi kepentingan pengunjung agar dapat berfoto. Investigator Senior Scorpion Wildlife Trade Monitoring (SWTM), Froup Marison, mengatakan,  anak singa yang berada di area Baby Zoo TSI  jinak disebabkan pembiusan demi kepentingan pengunjung. Sesuai video yang sengaja direkamnya, tampak anak singa mengantuk dan petugas memaksanya untuk bangun dan berfoto bersama para pengunjung. [caption id="attachment_114267" align="alignleft" width="197"]Marison, Investigator senior Scorpion Wildlife Trade Monitoring Marison, Investigator senior Scorpion Wildlife Trade Monitoring[/caption] ”Bagi saya itu adalah eksploitasi, di mana seharusnya satwa diberikan edukasi. Tetapi dengan prilaku satwa anak singa tersebut terlihat seperti dibius demi pengunjung agar dapat berfoto,” kata Marison saat dihubungi Obsessionnews.com Rabu (6/4/2016) Namun pihak TSI membantah hal tersebut. Staf Humas TSI Yulius Hardo Gabori mengatakan, sebagai lembaga konservasi eks situ yang telah berhasil dalam pengembangbiakan berbagai jenis satwa langka, khususnya satwa langka endemik Indonesia, tidak pernah melakukan pembiusan terhadap satwa satwa yang ada di Baby Zoo. [caption id="attachment_114269" align="alignright" width="213"]yulius humas safari Yulius Hardo Gabori, Staf Humas TSI.[/caption] “Singa yang untuk berfoto adalah singa yang tidak diasuh oleh induknya, dan dirawat oleh zoo keeper di nursery room,” tuturnya kepada Obsessionnews.com melalui e-mail, Rabu (6/4) Yulius melanjutkan, anak singa tersebut mempunyai jam tidur lebih dari 12 jam per hari. Singa yang ada di baby zoo tersebut dalam kondisi tidur dan bukan dibius sebagaimana dugaan. “TSI tidak pernah memaksakan singa tersebut untuk melakukan hal-hal di luar kemampuannya. Dan singa tersebut mempunyai jam istirahat, serta tidak terus menerus digunakan untuk berfoto,”ujarnya. Adapun alat yang digunakan oleh keeper, adalah alat untuk menarik perhatian satwa tersebut, Taman Safari Indonesia menjunjung tinggi ethic and animal welfare. Melalui penjelasan TSI tersebut, pihak SWTM menilai bahwa terdapat perbedaan di mana satwa yang dibius dengan satwa tertidur lelap. “Kita bisa membedakan mana yang benar-benar tidur dan mana yang dibius, kami melihat dari prilaku hewannya bukan dari jam tidur, jelas kok dari keadaannya dugaan dibius ketamine," kata Marison . Demi mendapatkan kebenaran tentang hal ini, Marison meminta untuk pihak TSI melakukan investigasi bersama berkenaan pembiusan anak singa tersebut. “Hari ini saya sudah informasikan ke pihak Kementerian Perhutanan tentang kondisi yang dialami satwa anak singa, sedangkan dengan TSI kami meminta secepatnya untuk dapat melakukan investigasi bersama atas penanganan satwa tersebut,” pungkasnya. (Aprilia Rahapit, @aprilia_rahapit)