Tata Niaga Pertanian Masih Rugikan Petani

Jakarta, Obsessionnews - Pengamat pertanian/pangan Dadung Hari Setyo yang juga Ketua Umum Komunitas Usaha Pertanian Sentra Usaha Tani dan Agribisnis Nusantara (KUP Suta Nusantara) menilai, kondisi saat ini sudah banyak perubahan di dalam tatanan keniagaan di pertanian, semua komoditas dan hasil pertanian juga punya cerita yang berbeda baik di lahan maupun di pasar. “Kalau dulu perubahan atau perkembangan usaha pertanian sangat detail dinamikanya sehingga banyak pihak dapat cepat menganalisa dan memprediksi situasi dan kondisi tata niaga pertanian. Dan dulu hal ini menjadi siklus konstan. Adapun naik turunnya tata niaga tidak tajam,” ungkap Dadung, Selasa (5/4/2016). Tapi saat ini, jelas Dadung, sangat berbeda dengan sebelumnya terutama sejak reformasi tata niaga pertanian atau pangan meroket harganya tapi sedikit sekali efek keuntungan yang berpihak kepada petani. “Dinamika perubahan dan perkembangan pangan ataupun hasil pertanian kian sangat komplek, selain variable yang lama menghilang dan komponen tata niaga yang tidak berfungsi. Perubahan dan perkembangan pertanian mengalami kesulitan dalam mengadaptasi keadaan seperti derasnya impor pangan dan hasil pertanian,” tandasnya.
Dari sisi kebijakan, lanjutnya, tidak kuasa menahan keinginan pelaku usaha di pertanian. Alhasil, banyak hasil panen para petani tidak mendapat tempat yang baik di pasar nasional, regional dan bahkan lokal. “Terlebih lagi yang sangat memprihatinkan, beberapa tahun lalu pintu impor pelabuhan dibuka di basis-basis produksi hasil pertanian sehingga terjadilah kompetisi produksi hasil pertanian, dan hasil pertanian imporlah yang mendominasi pasar kita. Dari sisi ini saja posisi tawar petani kita jauh dari harapan kita. Tidak sedikit petani yang frustasi dan beralih profesi sebagai buruh industri pabrik atau bangunan,” ungkapnya pula. Belum lagi, tutur Dadung, saat ini sistem agribisnis, pola bisnis pertanian semakin terbuka lebar. “Hampir merata produk impor, dari beras, jagung, kedelai, buah-buahan, pasar tak kuasa menolakya. Karena memang dari sisi agribisnis kita sangat terlambat dan kalah dengan negara-negara lain,” terangnya. Sebenarnya kondisi tersebut, menurut Dia, masih (bisa) diselamatkan yaitu dengan membenahi kebijakan-kebijakan lama yang selalu berpihak kepada para pengusaha. “Membentuk media agribinis yang kredibel, maksudnya fakta dan data di lapangan harus dapat digunakan untuk jadi strategi usaha di pertanian,” paparnya. Selain itu, kata Dadung, sensus pertanian harus dilakukan secara serius, dan jangan asal-asalan saja. “Karena hasil sensus dapat dijadikan data dan strategi awal dalam mengembangkan pertanian. Jangan anggap sepele ddengan data yang dihasilkan dari obsevasi lapangan,” bebernya.
Terkait dengan nilai tukar petani sebagai indikator daya beli petani selama empat bulan terakhir terus merosot, menurut Dadung, sebaiknya pemerintah baik pusat maupun daerah mendesign perencaan yang lebih strategis, merubah renstra untuk menghadapi tuntutan kebutuhan ke depan baik prioritas jangka pendek, menengah maupun panjang. “Saya pikir janganlah mengulang-ulang kesalahan lagi di masa lalu dan juga jangan buat kesalahan yang baru. Lengkapi data base petani yang lengkap. Saya pikir pemerintah pusat dan daerah mampu kok, karena kami di Suta Nusantara secara swadaya sedang mengembangkan data base online petani dan pertanian termasuk monitoring budi daya dan pasar,” tegas Dadung. Ia pun berharap, semoga jurus-jurus baru strategi-strategi hebat dari stakehokders pertani segera muncul dan terimplementasikan dalam usaha pertanian dan petani. “Pengelolaan informasi data potensi harus aman efisien akurat, dapat digunakn untuk meningkatkan percepatan serta perluasan dalam strategi agribisnis yang lebih baik. Indonesia harus kuat dari pertanian. Pertanian kuat ku pelaku usahanya, gigih dan tangguh. Petani kita jangan diajarkan untuk tidak selalu mengandalkan kredit perbankan untuk memulai usaha di pertanian,” tambahnya. (Red)
Dari sisi kebijakan, lanjutnya, tidak kuasa menahan keinginan pelaku usaha di pertanian. Alhasil, banyak hasil panen para petani tidak mendapat tempat yang baik di pasar nasional, regional dan bahkan lokal. “Terlebih lagi yang sangat memprihatinkan, beberapa tahun lalu pintu impor pelabuhan dibuka di basis-basis produksi hasil pertanian sehingga terjadilah kompetisi produksi hasil pertanian, dan hasil pertanian imporlah yang mendominasi pasar kita. Dari sisi ini saja posisi tawar petani kita jauh dari harapan kita. Tidak sedikit petani yang frustasi dan beralih profesi sebagai buruh industri pabrik atau bangunan,” ungkapnya pula. Belum lagi, tutur Dadung, saat ini sistem agribisnis, pola bisnis pertanian semakin terbuka lebar. “Hampir merata produk impor, dari beras, jagung, kedelai, buah-buahan, pasar tak kuasa menolakya. Karena memang dari sisi agribisnis kita sangat terlambat dan kalah dengan negara-negara lain,” terangnya. Sebenarnya kondisi tersebut, menurut Dia, masih (bisa) diselamatkan yaitu dengan membenahi kebijakan-kebijakan lama yang selalu berpihak kepada para pengusaha. “Membentuk media agribinis yang kredibel, maksudnya fakta dan data di lapangan harus dapat digunakan untuk jadi strategi usaha di pertanian,” paparnya. Selain itu, kata Dadung, sensus pertanian harus dilakukan secara serius, dan jangan asal-asalan saja. “Karena hasil sensus dapat dijadikan data dan strategi awal dalam mengembangkan pertanian. Jangan anggap sepele ddengan data yang dihasilkan dari obsevasi lapangan,” bebernya.
Terkait dengan nilai tukar petani sebagai indikator daya beli petani selama empat bulan terakhir terus merosot, menurut Dadung, sebaiknya pemerintah baik pusat maupun daerah mendesign perencaan yang lebih strategis, merubah renstra untuk menghadapi tuntutan kebutuhan ke depan baik prioritas jangka pendek, menengah maupun panjang. “Saya pikir janganlah mengulang-ulang kesalahan lagi di masa lalu dan juga jangan buat kesalahan yang baru. Lengkapi data base petani yang lengkap. Saya pikir pemerintah pusat dan daerah mampu kok, karena kami di Suta Nusantara secara swadaya sedang mengembangkan data base online petani dan pertanian termasuk monitoring budi daya dan pasar,” tegas Dadung. Ia pun berharap, semoga jurus-jurus baru strategi-strategi hebat dari stakehokders pertani segera muncul dan terimplementasikan dalam usaha pertanian dan petani. “Pengelolaan informasi data potensi harus aman efisien akurat, dapat digunakn untuk meningkatkan percepatan serta perluasan dalam strategi agribisnis yang lebih baik. Indonesia harus kuat dari pertanian. Pertanian kuat ku pelaku usahanya, gigih dan tangguh. Petani kita jangan diajarkan untuk tidak selalu mengandalkan kredit perbankan untuk memulai usaha di pertanian,” tambahnya. (Red)




























